Taruna Ikrar Hadir di Forum Tsinghua, Bawa Pesan Indonesia Tak Boleh Hanya Jadi Pasar Teknologi Kesehatan

Reporter : Imam Hambali
Kepala BPOM Taruna Ikrar di Forum Tsinghua, Beijing RRC.

 

Beijing, JatimUPdate.id - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Taruna Ikrar menghadiri 2026 International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum – AI + New Medical Technology Conference yang digelar di Universitas Tsinghua, Beijing, China, pada 20-21 September 2026.

Baca juga: Narasi Kemungkinan: Micro Drama Film RRC vs AS

Taruna Ikrar hadir sebagai tamu kehormatan, keynote speaker, sekaligus panelis internasional dalam rangkaian peringatan 25 tahun Tsinghua Medicine.

Forum tersebut mempertemukan ilmuwan, regulator, investor, dokter, akademisi, serta pemimpin institusi kesehatan dari berbagai negara. 

Pembahasannya berfokus pada perkembangan kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, terapi gen, terapi sel, hingga teknologi kesehatan generasi baru.

Kehadiran Taruna dinilai menjadi bagian dari meningkatnya keterlibatan Indonesia dalam percakapan global mengenai perkembangan teknologi kesehatan dan regulasinya.

Dalam surat resmi yang ditandatangani Vice Provost Tsinghua University sekaligus Senior Vice-Chancellor Tsinghua Medicine Prof. Tien Yin Wong, Taruna secara khusus diundang untuk menyampaikan pidato utama dan mengikuti diskusi panel internasional.

Indonesia Tak Boleh Hanya Jadi Pasar

Dalam forum tersebut, Taruna membawa pesan mengenai pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari strategi pembangunan Indonesia.

Ia menekankan Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen atau pasar bagi perkembangan teknologi kesehatan yang dikembangkan negara lain.

“Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita telah memberikan arah yang sangat jelas bahwa Indonesia harus menjadi bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi kesehatan dunia,” kata Taruna.

Menurut dia, Indonesia perlu membangun ekosistem yang memungkinkan teknologi kesehatan diteliti, dikembangkan, diproduksi, sekaligus diatur untuk kepentingan nasional.

“Kita harus menjadi bagian dari ekosistem yang meneliti, mengembangkan, memproduksi, sekaligus mengatur teknologi masa depan untuk kepentingan bangsa,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan agenda penguatan sumber daya manusia, penguasaan sains dan teknologi, hilirisasi berbasis inovasi, serta peningkatan daya saing nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Soroti Potensi AI dalam Pengembangan Obat

Baca juga: Taruna Ikrar Dorong Sinergi Akademisi, Industri, dan Pemerintah Perkuat Kesehatan Anak

Dalam sesi mengenai AI dan kolaborasi teknologi medis global, Taruna membahas potensi kecerdasan buatan dalam mempercepat penemuan dan pengembangan obat.

Menurut dia, AI dapat membantu mengidentifikasi kandidat obat secara lebih cepat, melakukan simulasi molekuler, meningkatkan efisiensi penelitian praklinis, serta membuka peluang pengembangan inovasi medis baru.

Selain AI, Taruna juga menyoroti perkembangan Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs) yang mencakup terapi gen, terapi sel, dan rekayasa jaringan.

Teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang berkembang pesat dalam kedokteran modern karena memungkinkan pendekatan terapi yang semakin presisi dan personal.

Namun, perkembangan teknologi kesehatan juga membawa tantangan baru dalam aspek keamanan, efektivitas, etika, dan tata kelola.

Karena itu, Taruna menekankan inovasi harus berjalan beriringan dengan sistem regulasi yang kuat.

Regulator Dituntut Adaptif

Menurutnya, regulator tidak cukup hanya mengawasi produk setelah teknologi dikembangkan dan beredar. Regulator juga perlu memahami teknologi yang sedang berkembang agar mampu membangun ekosistem inovasi yang aman sekaligus kompetitif.

Baca juga: BPOM Perkuat Pengawasan Obat dan Pangan untuk Dukung Koperasi Merah Putih hingga Program MBG

Perubahan tersebut semakin penting di tengah perlombaan global mengembangkan AI, bioteknologi, terapi gen, terapi sel, serta obat generasi baru.

Dalam konteks itu, keterlibatan Indonesia di forum Tsinghua menjadi ruang untuk memperkuat dialog internasional sekaligus memperkenalkan perspektif Indonesia mengenai regulasi dan inovasi kesehatan.

Tsinghua sendiri merupakan salah satu pusat pendidikan dan riset terkemuka di China yang memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagi Indonesia, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring akademik, riset, industri, dan regulator dalam menghadapi perubahan teknologi kesehatan yang berlangsung cepat.

Kehadiran Taruna juga menunjukkan bahwa isu regulasi semakin tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi.

Ketika AI, terapi gen, terapi sel, dan teknologi medis baru berkembang, kemampuan regulator untuk mengantisipasi perubahan menjadi bagian penting dalam memastikan inovasi tetap aman dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari forum internasional di Beijing tersebut, Indonesia membawa agenda untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang sains, teknologi, riset, inovasi, serta regulasi kesehatan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut mengambil bagian dalam ekosistem pengembangan teknologi kesehatan global.(ih/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru