Jakarta, JatimUpdate.id - Pada 6 Juni 1970, adalah hari ulang ke-69 tahun *Ir. Soekarno* di tempat penahanan rumahnya, Wisma Yaso, Jakarta.
Saat itu, kekuasaan Bung Karno telah runtuh dan rezim Orde Baru mengasingkannya secara ketat di Wisma Yaso. Bung Karno menderita sakit ginjal parah, tidak mendapat perawatan medis yang layak, serta dilarang keras dijenguk kecuali oleh keluarga dekat dengan batas waktu yang sangat singkat. Guruh bersama kakaknya, Rachmawati Soekarnoputri, berhasil mendapatkan izin berkunjung selama 30 menit saja untuk merayakan ulang tahun sang ayah secara sederhana.
Baca juga: Gemuruh Seni Putra Bung Karno dalam Kenangan Seorang Aktivis
Kondisi ayahnya hanya bisa terbaring lemah di ranjang, terbersit di pikiran Guruh untuk membuat foto kenang-kenangan.
Menyelundupkan Kamera
Penjagaan oleh Polisi Militer sangat ketat, semua barang bawaan diperiksa dan aktivitas memotret dilarang keras. Guruh menyembunyikan sebuah kamera saku kecil _(pocket camera)_ di dalam sakunya agar tidak ketahuan petugas.
Begitu penjaga keluar dari ruangan, Guruh bergerak cepat. Ia meminta Rachmawati duduk di samping tempat tidur Bung Karno. Dalam waktu yang sangat sempit, Guruh hanya sempat menekan tombol kamera sebanyak dua kali jepretan sebelum petugas kembali masuk. Karena keterbatasan waktu, Guruh tidak sempat bergantian untuk difoto bersama sang ayah.
Bocornya Foto ke Dunia Internasional
Guruh berhasil menyelamatkan negatif film tersebut dan mencetaknya secara senyap. Rachmawati kemudian meminjamkan foto tersebut kepada seorang temannya yang bekerja di media massa.Tanpa diduga, foto hasil jepretan Guruh tersebut bocor dan diambil oleh kantor berita internasional _Associated Press (AP),_ serta dimuat di surat kabar nasional *Sinar Harapan.* Melalui foto tersebut, dunia internasional dan rakyat Indonesia akhirnya mengetahui fakta menyedihkan bahwa sang Proklamator diasingkan dalam kondisi sakit sakitan dan tidak terawat.
Interogasi Polisi Militer
Akibat bocornya foto rahasia tersebut, rezim Orde Baru geram. Guruh dan Rachmawati langsung dipanggil ke Markas CPM Guntur untuk menjalani interogasi selama berjam-jam.
Petugas mempertanyakan alasan Guruh mengambil foto tersebut secara ilegal. Dalam memorinya, Guruh dengan berani menjawab cecaran pertanyaan Polisi Militer; "Itu kan hak saya, wong saya anaknya."*
Baca juga: Mengajarkan Bung Karno Penting, Tetapi Sejarah Jangan Kehilangan Keseimbangannya
Momen nekat Guruh tersebut menjadi sangat berharga karena foto itu diambil tepat 15 hari sebelum Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970.
Foto jepretan Guruh tersebut menjadi salah satu dokumentasi visual terakhir Bung Karno yang paling ikonik dalam sejarah Indonesia. (#)
Editor : Redaksi