Warkop langganan Semolowaru Surabaya, Senin 26 Oktober 2026

Ketika Fingerprint Tak Lagi Memanggil

Reporter : Redaksi
Agus Andi Subroto tengah menyerahkan berkas ke koleganya

Oleh Dr. Agus Andi Subroto STP., M.M.

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan 
Ketua DPD AFEBSI Jatim 
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia 

Baca juga: Rumah Broadcast Indonesia & Komnas PA Surabaya Gelar Workshop Hipnoterapi


Kota Surabaya, JatimUPdate.id - Pagi ini, selepas mengantar istri ke kantor, laju kendaraan melipir sejenak ke warung kopi langganan.

Tidak ada agenda seminar, tidak pula ruang kuliah yang menunggu. Hanya ada secangkir kopi panas dan percakapan seorang paruh baya yang mengalir begitu saja, tanpa pretensi.

Lelaki itu bercerita tentang babak baru dalam hidupnya. Dahulu, hari-harinya di sebuah perguruan tinggi di kawasan Semolowaru, Surabaya, lekat dengan ritme presensi sidik jari dan tumpukan tanggung jawab administratif.

Kini, batas waktu pengabdian formal itu telah usai. Namun, tidak ada ratapan di wajahnya. Ia justru membagikan cerita tentang hari-hari tuanya dengan mata yang berbinar.

Bersama sang istri, ia kini merintis dan merawat sebuah usaha kecil. Dengan jenaka sekaligus bijak, ia bertutur bahwa setiap lapak yang dijalani bersama pasangan selalu menyimpan ruang untuk tumbuh, asalkan dirawat dengan ketulusan dan kesungguhan.

Dan terbukti, pelanggan datang silih berganti bukan sekadar karena produknya, melainkan karena kepercayaan yang terjaga di dalamnya.

Saya menyimak tanpa menyela. Bukan karena setiap kalimat harus ditelan mentah-mentah, melainkan karena ada kejujuran pengalaman yang terasa begitu akrab di batin.

Bukankah irama yang sama pernah kita temui di tikungan jalan yang berbeda?

Perjalanan membersamai usaha travel umrah dan haji, meracik asa di Nasi Goreng Mbah Joyo, hingga menemani tumbuh kembangnya Mister Kentang Kriwul mengajarkan hal serupa. Bentuk usahanya tentu tidak sama, tetapi benang merahnya tetap satu: sebuah usaha tidak pernah cukup hanya digerakkan oleh niat sesaat. Ia menuntut ketekunan, konsistensi, pelayanan yang tulus, dan kesediaan merawat kepercayaan orang lain.

Di titik itu, obrolan pagi di warung sederhana menemukan maknanya. Kesaksian sang mantan dosen menjelma cermin bagi perjalanan yang telah lebih dulu kita lalui. Ketika ketulusan menjadi landasan, pelanggan tidak hanya datang untuk bertransaksi, tetapi juga merajut kedekatan dengan jiwa di balik usaha itu.

Tentu, kesungguhan bukanlah satu-satunya resep tunggal. Kualitas, harga, kebutuhan pasar, dan kelenturan dalam beradaptasi tetap memegang peran penting. Namun, tanpa ketulusan untuk melayani dan menjaga amanah, sekokoh apapun usaha akan rapuh ditiup angin zaman.

Pensiun Bukan Garis Finish

Baca juga: ​Siap Bersaing Di Era Digital, Podcast 'SEMEJA' Resmi Dilincurkan Dengan Kemasan Ringan Dan Solutif


Di dunia profesional, kata "pensiun" sering kali dibebani makna yang keliru—seolah-olah ketika seragam tugas dilepas dan jabatan usai, usai pula arti kehadiran seseorang di muka bumi.

Padahal, profesi hanyalah salah satu jubah dari sekian banyak peran yang kita kenakan. Seorang dosen memang mengajar dan meneliti, tetapi ia juga seorang teman, pasangan hidup, bagian dari keluarga, dan manusia yang menyimpan sejuta potensi di luar dinding kampus.

Seperti yang pernah diulas oleh Donald E. Super dalam konsep perjalanan hidupnya, karier manusia adalah sebuah simfoni panjang yang merangkum berbagai peran dari masa ke masa. Ketika satu peran surut, peran yang lain berpeluang mekar.

Kisah di warung kopi tadi mengingatkan kita bahwa ketika satu pintu pengabdian tertutup, pintu-pintu lain di luar sana justru terbuka lebar. Usaha kecil yang dibangun bersama pasangan bukan sekadar cara mengisi waktu luang, melainkan wujud nyata dari merawat kemandirian dan kebersamaan.

Barangkali, inilah pengingat lembut untuk kita semua: jangan menunggu hari tua atau masa pensiun tiba untuk mulai benar-benar hidup. Selama bertahun-tahun, kita begitu sigap mengejar target institusi, menyelesaikan laporan, dan memenuhi tuntutan pekerjaan. Semua itu mulia dan penting. Namun, hidup terlalu luas jika hanya direduksi ke dalam lembar absensi dan daftar tugas yang menumpuk.

Ada senyum keluarga yang layak disapa lebih dekat, ada minat baru yang belum sempat dirajut, dan ada ruang-ruang batin yang rindu untuk dieksplorasi. Pekerjaan perlu ditunaikan dengan sebaik-baiknya, tetapi tanpa harus membuat seluruh dimensi kehidupan lain kehilangan ruang napasnya.

Menikmati Giliran Waktu

Baca juga: Rektor UNUJA: Banyak yang Pandai tapi Menipu, Kaya Gelar tapi Miskin Rasa Malu

Secangkir kopi pagi ini perlahan habis. Percakapan sederhana tersebut menyisakan endapan refleksi yang menenangkan.

Hari ini, kita mungkin masih disibukkan oleh deru rutinitas, rapat-rapat panjang, dan tenggat waktu yang mengejar. Esok lusa, ritme itu pasti akan berganti. Tidak ada jabatan yang abadi, tidak ada kalender kerja yang berjalan selamanya.

Yang membedakan kualitas hari tua seseorang bukanlah seberapa tinggi pangkat yang pernah diraihnya, melainkan seberapa siap ia merangkul peralihan, dan apa saja yang tetap tumbuh di dalam hatinya setelah hiruk-pikuk itu mereda.

Kebijaksanaan sejati tampaknya bukan tentang bagaimana kita mati-matian menahan waktu, melainkan kesanggupan kita menjalani setiap musim kehidupan dengan dada yang lapang. Sebab, hidup bukan sekadar mendaki puncak karier, melainkan tentang tetap memiliki alasan untuk bangun setiap pagi dengan penuh syukur: merawat orang-orang tercinta, menebar manfaat sekecil apapun, dan menemukan kedamaian dalam karya-karya yang mungkin tak lagi bernama jabatan.

Kelak, fingerprint di kantor memang akan berhenti merekam kehadiran kita. Nama kita pun perlahan bergeser dari daftar pegawai aktif. Namun, selama nyala semangat untuk terus berkarya dan berbagi belum padam, semesta selalu menyediakan ruang bagi kita untuk bertumbuh.

Pagi ini, di sebuah warung kopi sederhana di Surabaya, secangkir kopi mengajarkan kembali satu hal: profesi boleh punya batas waktu, tetapi ketulusan untuk hidup berarti tidak akan pernah mengenal kata pensiun.

 

Editor : Redaksi

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru