Agung Widyantoro Tekankan Literasi Digital, Siswa Harus Cerdas Saring Informasi
Brebes, JatimUPdate.id - Perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan, terutama dalam membangun kebiasaan membaca dan kemampuan memahami informasi di kalangan siswa. Ketua Komisi X DPR RI, Agung Widyantoro, menegaskan bahwa penguatan literasi harus berjalan seiring dengan perubahan pola anak dalam mengakses informasi, termasuk melalui perangkat digital.
Menurut Agung, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat peserta didik mampu memahami isi bacaan secara mendalam. Karena itu, sekolah perlu memastikan bahwa siswa tidak hanya terbiasa membaca, tetapi juga mampu menalar, menganalisis, dan menyaring informasi yang mereka temukan.
Pandangan tersebut disampaikan dalam kegiatan Diseminasi Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, bekerja sama dengan Ketua Komisi X DPR RI. Kegiatan tersebut diikuti 100 pendidik dari Kabupaten Brebes dan berlangsung di kawasan Teras Padi, Kecamatan Paguyangan, Jawa Tengah.
Agung Widyantoro: Teknologi Harus Diimbangi Penguatan Literasi
Agung menilai, daya tarik gawai dan derasnya arus informasi menuntut sekolah menghadirkan bahan bacaan yang lebih kreatif serta relevan dengan kebutuhan siswa. Buku cetak maupun digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan, tetapi keduanya perlu didukung kualitas isi yang baik dan sesuai dengan usia pembaca.
Ia mengingatkan bahwa kemampuan membaca secara teknis tidak selalu diikuti kemampuan memahami konteks dan menangkap pesan dari suatu bacaan. Oleh sebab itu, pemilihan buku perlu mempertimbangkan kemampuan siswa, kedekatan tema dengan kehidupan sehari-hari, serta potensi bacaan dalam menumbuhkan rasa ingin tahu.
“Buku bacaan harus mampu membuat anak tertarik untuk membaca. Isinya perlu sesuai dengan usia dan kemampuan mereka, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta mendorong rasa ingin tahu. Dengan begitu, membaca tidak sekadar menjadi tugas sekolah, tetapi tumbuh menjadi kebutuhan dan kebiasaan yang menyenangkan,” ujar Agung.
Menurutnya, bahan bacaan yang kontekstual dapat membantu siswa menghubungkan informasi dengan pengalaman nyata. Tema keluarga, lingkungan, budaya lokal, dan kehidupan sosial juga dapat memperluas wawasan sekaligus membangun kedekatan anak dengan aktivitas membaca.
“Literasi adalah kunci kedaulatan berpikir dan fondasi mutu pendidikan. Kita ingin anak-anak tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami, menalar, dan bertindak berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh,” tegasnya.
Guru Punya Peran Penting Membentuk Siswa Kritis
Selain menyediakan bahan bacaan berkualitas, Agung menekankan pentingnya pendampingan guru dalam proses pembelajaran. Guru diharapkan tidak sekadar memberikan tugas membaca, tetapi juga mengajak siswa mendiskusikan isi buku, mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan menguji pemahaman mereka terhadap informasi yang diperoleh.
Pendekatan tersebut dapat membantu siswa membangun kebiasaan membaca yang lebih bermakna. Dengan berdiskusi dan menghubungkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bernalar serta melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
Kegiatan Diseminasi Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026 menjadi salah satu upaya memperluas pemanfaatan bahan bacaan yang telah disusun Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Melalui kegiatan ini, para pendidik diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan buku sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah.
Agung berharap penguatan literasi didukung oleh akses buku yang lebih merata, bahan bacaan yang beragam, dan pendampingan guru secara berkelanjutan. Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kecakapan untuk memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab (*)
Editor : Redaksi