Tenggarang, Bondowoso, JatimUPdate.id, – Upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak, terutama di tingkat desa. Salah satunya melalui penguatan kapasitas Kader Pembangunan Manusia (KPM) agar mampu mengawal program pembangunan manusia secara optimal.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pendamping Desa Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, melakukan pendampingan langsung kepada KPM di desa-desa. Kegiatan ini menyasar wilayah yang terdiri atas 11 desa dan satu kelurahan.
Baca juga: Baznas Bondowoso Salurkan 154 Paket Alat Usaha, Siapkan Beasiswa dari Sedekah Sekolah
Pendampingan dilakukan dengan memberikan pelatihan dan penguatan terkait konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S), pemanfaatan aplikasi eHDW, serta pembelajaran melalui HDW Learning.
Pendamping Desa Kecamatan Tenggarang, Abdul Muis, mengatakan penguatan kapasitas KPM penting agar para kader semakin memahami tugas dan tanggung jawabnya dalam mendukung pencegahan stunting di wilayah masing-masing.
"Kami turun langsung ke desa-desa untuk memberikan penguatan kepada KPM agar semakin memahami tugas dan fungsinya. KPM memiliki peran penting dalam mengawal konvergensi pencegahan stunting, mulai dari pendataan, pemantauan sasaran, hingga memastikan intervensi yang dibutuhkan masyarakat dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Menurut Abdul Muis, salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pendampingan adalah pemanfaatan aplikasi eHDW. KPM didorong melakukan pemutakhiran data secara rutin dan memastikan informasi yang dimasukkan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Ia menjelaskan, data eHDW bukan sekadar kebutuhan administrasi atau pelaporan. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah desa dalam memetakan kondisi masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan, serta menentukan langkah intervensi yang tepat.
Baca juga: Kapolri Gandeng Kemendesa PDT Dorong Desa Bersinar Dan Tekan Angka Kemiskinan Warga Desa
"Data yang diinput melalui eHDW bukan sekadar kebutuhan administrasi atau laporan. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah desa untuk melihat kondisi masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan, serta menentukan langkah penanganan yang tepat. Karena itu, kami mendorong KPM agar lebih teliti dan konsisten dalam melakukan pendataan," jelasnya.
Selain penguatan pendataan, KPM juga mendapatkan pemahaman mengenai HDW Learning sebagai sarana pembelajaran mandiri. Materi yang dipelajari mencakup registrasi dan verifikasi akun, tahapan pembelajaran, hingga penyelesaian materi serta pelaksanaan pre-test dan post-test.
Dalam proses tersebut, admin desa turut berperan membantu kelengkapan administrasi peserta, termasuk pengunggahan Surat Perintah Tugas (SPT) melalui HDW Pendataan dan proses verifikasi akun.
Pendampingan juga mencakup pembahasan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta keterkaitannya dengan pemanfaatan data HDW dan pelaksanaan konvergensi P3S. Pemahaman ini diperlukan agar KPM mampu melihat hubungan antara pelayanan dasar, pendataan, dan intervensi pencegahan stunting.
Baca juga: Jembatan Sentong Bondowoso Direncanakan Dibuka Kembali 6 November
Melalui pendampingan langsung tersebut, koordinasi antara pendamping desa, KPM, admin desa, dan pemerintah desa diharapkan semakin kuat. Dengan demikian, berbagai kendala teknis maupun pelaksanaan program dapat ditangani lebih cepat.
Abdul Muis berharap, penguatan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat meningkatkan kemampuan KPM dalam menjalankan tugas di masing-masing wilayah.
Dengan kapasitas kader yang semakin baik serta dukungan data yang akurat dan mutakhir, upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kecamatan Tenggarang diharapkan berjalan lebih terarah, terukur, dan tepat sasaran. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat