"Bukan dia yang punya banyak yang kaya, tapi yang memberi banyak!" (Erich Fromm)
Cara bagaimana Anda hidup pada hari ini. Adalah sebuah tanda Anda mampu memberi sebuah arti juga makna pada hidup!
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Juga pada kolegaku pada pagi ini. Ia berkisah soal keluhnya. "Mas bro, isi dompet tinggal sakmene, iki piye. Durung ngisi bensin iki!"
Bisa jadi arti dan makna yang bisa ditenun kawanku ini adalah sebuah kekurangan. Dan tentu saja tak ingin kan itu terjadi pada hidup kita. Kembali perihal ini bisa jadi hanya soal sepele, ia memberondong kehidupan pada pagi yang indah ini dengan sebuh karnaval insecure & inferior
Ya, mana bisa. Tersambung dengan energi semesta yang selalu berkelimpahan! Kata kaum bijaksana di setiap peradaban jaman.
"Duitmu iku tatanen sing bener lan pener ning dompet talah! Duit iku barang urip, mungkin duit iku akan protes kepadamu. Blas hora mbok cintai, kamu nata duit mu ucel-ucelan ngono ning njero dompet," kataku kepada kolega ngojek ku pagi ini!
"Ngene, jek. Nek awak mu pingin duit iku berdatangan kepadamu lewat pakaryanmu. Cintai, dan sayangi, serta hormati itu uangmu. Cara ngormatine salah satunya kamu tata dengan rapi di dompet meski tinggal dua lembar bahkan satu lembar saja. Biar itu uang memanggil teman-temannya pada datang menghampiri dompetmu!"
"Mosok sih mas bro!"
"Cobanen talah. Iki ora teori sudah teruji keampuhannya,"kataku.
Sekelumit kisah nyata. Aku temui pagi ini. Bahwa di dunia ini, semua itu hanyalah energi semata tidak ada barang yang mati. Bahkan itu untuk sebuah uang kertas. Tak ada uang maka tak ada sayang untuk abang. Cerita para lelaki malam, yang biasa kumpul dan nyangkruk denganku di Taman Bungkul pada suatu ketika.
Nah, masih di tempat yang sama pada pagi ini, cerita soal fenomena hidup itu bergulir kembali. Perihal rejeki, dan indikatornya seberapa banyak uang yang bisa di simpan di dalam dompet.
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Mungkin saya harus berterima kasih kepada para mentor bisnis saya dahulu. Bagaimana di sebuah acara seminar formal, bahkan di sebuah obrolan informal. Saya pada satu sisi diajar dengan keras juga sangat disiplin buat menghargai, mencintai, bahkan menghormati, posisi terkini keadaan hidup yang dialami.
Kemampuan yang demikian akan menstimulus perilaku yang lain-lainnya, katanya. Bahkan untuk soal dan perihal yang sepele soal menata lembar uang kertas misalnya. Yang selalu kita tata rapi di dalam dompet!
Saya yang sedang duduk disebelah seorang kawan pada pagi ini. Ia tunjukkan uang di dompetnya. Dan bagaimana keadaan uang kertasnya saat disimpan di dompet. Aku yang melihatnya saja merasa sakit bukan soal uangnya, tapi cara dari teman ini menaruh dan merawat lembaran uang kertasnya. Tampak ucel-ucelan.
Benar-benar tidak punya sopan dan santun! Dan rasa menghargai. Ini kalau tahu mentor saya dahulu, sudah kena damprat dan omelan keras pastinya ini orang!
Terus apa manfaatnya menata serta cara menaruh uang di dompet tanyaku, pada mentor bisnisku saat itu!
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
"Mas Agus, selalu berterima kasih dan menghargainya secara baik dengan menatanya dengan apik saat di dompet. Kalau ada tukar uangnya dengan uang kertas yang baru. Adalah cara paling cepat memanggil teman-temannya untuk datang ke dompet kita," tegas sang mentor! Ini sekali lagi pengalaman empiris sang mentor ku. Tapi sampai saat ini aku mengamininya.
Disaat banyak manusia lainnya abai soal itu, katanya lagi menegaskan! Uang hanya dipahaminya sebagai alat tukar pemuas hasrat keinginan semata.
Dan sang mentor selalu praktikkan dan ucapkan terima kasih kepada uangnya. Saat ia bisa beli sesuatu, saat ia terima bayaran, dan saat uangnya ia sedekahkan, berikan kepada yang membutuhkannya!
Dan aku duduk kadang berdiri di sampingnya. Menjadi saksi hidup, bagaimana sang mentor memberi teladan perihal itu di dalam kehidupan sehari-harinya, pada saat itu!
Alfatihah selalu teruntuk sang mentor tersebut, amin yra .
Editor : Redaksi