Setiap hari sebuah perhelatan bagaimana keagungan Tuhan dihamparkan kepada setiap insan dalam kehidupannya!
Menjadi narasi hidup yang patut dibaca bagi manusia yang mau berpikir.
Perwujudannya beranekaragam. Seturut kemampuan si insan itu sendiri untuk membacanya.
Baca juga: Presiden Prabowo Beri Penghargaan Qori Terbaik MTQ Nasional
Bisa suasana jalan raya yang lengang namun padat menyampaikan pesan. Bisa wajah pegunungan yang tegap kokoh berdiri, cerah mengundang kekaguman mata yang melihatnya. Bisa berupa anabul yang bertingkah aneh, seakan memberi selamat agar hati-hati dalam melakukan perjalanan. Dan banyak hal lainnya yang patut disimak dan diamati!
Namun terasa tipis antara dua hal yang susah untuk dibedakan. Satu keinginan, dua adalah pengabdian.
Tapi, hanya berjalan terus saja yang akan mampu menjawab semuanya. Apakah keinginan yang terwujud, atau malah sebaliknya yaitu pengabdian akan hidup itu sendiri!
Dinihari tadi menyengaja kedua kaki untuk beranjak dari peraduan. Tunaikan ibadah sahur, lalu memusatkan hati juga pikiran untuk melanjutkan perjalanan di kampus tercinta UB Malang. Ngapain pagi-pagi ke kampus? Tunaikan janji kehidupan yang sudah di deklarasikan.
Tuntaskan setiap etape saat dalam posisi masih sebagai mahasiswa. Temui Tim Promotor memfollow up progres perjalanan sekolah sudah sejauh apa? Sudah sampai mana dan akan diselesaikan kapan?
Urusan itulah yang membuat seluruh jiwa, body, dan pikiran ini, fokus mengejarnya, mencapainya.
Hal lainnya tunda sejenak.
Rasa lelah, letih, yang acap kali menghimpit diri juga pikiran, tak sempat dipikirkan. Yang ada kedua kaki ini terus diajak untuk berjalan terus, hingga ke tujuan terakhir yang diharapkan.
Di situlah. Benar-benar peran Tuhan hadir dalam kehidupan itu sendiri. Bagaimana cara diri ini untuk membalas kebaikan Zat Yang Maha Kaya tersebut. Kini menjadi fokus dalam perjalanan selanjutnya yang nantinya akan aku genapi.
Ucap terima kasih tak sempat disebut, ada banyak kawan, ada banyak sahabat, ada banyak kolega, yang dihadirkan tanpa disengaja. Dalam rangka diri ini tetap dalam koridor yang benar, menuntaskan etape kewajiban sebagai seorang mahasiswa.
Tuhan, dalam kesesakan rasa yang luruh akan kasih dan sayangMu. Ajari dan bimbing diri ini agar mampu membalas kebaikan kepada orang-orang yang baik itu, entah kapan dan bagaimana membalasnya.
Baca juga: Disorot Prabowo, Pemkot Malang Siap Tertibkan Baliho Demi Estetika Kota
Aku mempercayakan sepenuhnya kepada Mu.
Karena aku sadar, semua itu hanyalah debu tak punya dampak dan manfaat apa-apa. Bila manusia tidak sepenuhnya mengandalkan-Mu.
Faktanya manusia tak mampu apa-apa tanpa dibisakan oleh Mu.
Seharian ini tadi di kampus UB, Engkau nyatakan kebesaran Mu.
Tuhan, begitu banyak cela dan kesalahan yang diri ini telah perbuat. Namun sayangMu semata yang membuat diri ini tak mampu mengabdi dengan baik kepadaMu, maafkan aku Tuhan!
Bulan baik, hari baik, di ujung perjalanan, sudah ditunaikan. Tidak ada kata yang patut di lantunkan ke langit tertinggi, kecuali kalimat Alhamdulilah.
Baca juga: Belajar Ulang Menjadi Ilmuwan: Catatan Seorang Doktor dari Sebuah Percakapan Menjelang Dies Natalis
Sekali lagi, ajari dan bimbing hati serta jiwa ini, Tuhan, untuk membalas kebaikan orang-orang yang Engkau hadirkan dalam proses selama belajar diri ini menjadi murid kehidupan di kampus perjuangan ini.
Aku tak bisa sebut namanya satu demi satu. Namun dengan hidup yang aku jalani, aku akan balas semua kebaikan itu!
Dan saatnya jelang sore nya datang. Aku harus pulang kembali ke kota pahlawan Surabaya. Untuk genapi tugas-tugas selanjutnya yang harus diselesaikan!
Semoga semuanya senantiasa selaras, seturut kehendak Mu.
Maturnuwun Gusti
AAS, 10 April 2023
Arjosari Malang
Editor : Wahyu Lazuardi