Pagi-pagi seisi rumah berusaha mencari pemotong kuku yang biasa di taruh ditempatnya seperti biasanya. Sudah dicari kemana-mana tidak ketemu, pun dicari ditempat biasanya, tak juga ada barang istimewa itu, saat kuku jempol tangan hendak ingin sekali di potong, karena mengganggu!
Ya, sudahlah, biar saja kedua jempol tangan kanan dan kiri yang sudah terasa risih karena kukunya sudah panjang tak di potong, toh masih bisa buat memilih huruf-huruf di keypard hape buat menulis, meski terasa tidak nyaman!
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Dan hukum kebenaran purba yang sudah familiar dan diajarkan orang tua, pinisepuh, dan sesepuh dahulu terjadi: lepaskan saja nanti kan ketemu itu ketokan kukunya. Dan si istri pun, memberitahu, bahwa ketokan kuku tersedia ditempatnya tanpa pergi kemana-mana, dan istri pun hanya bengong "kok bisa ya, tadi kan tidak ada di situ itu barang,"pikirnya!
Dan akhirnya hasrat itu kesampaian, kedua kuku tangan kanan dan kiri, sudah rapi, dipotong di emper rumah tadi pagi, dan siap antarkan orang rumah ke kantornya di RS Dr.Soetomo Surabaya. Dan di dalam warkop Karmen, penulis mendokumentasikan peristiwa yang tadi pagi terjadi di rumah, lewat tulisan ini!
Kadang logika membantah: itu kan peristiwa biasa, saat pagi semua pada ribut dengan pikiran sendiri, seluruh penghuni rumah. Dan rasa fokus itu kadang hilang sementara dari perilaku diri sendiri. Namun acap kali peristiwa yang demikian dalam kasus barang lain, justeru bisa terjadi di segala waktu dan suasana: bisa pagi, siang, juga malam! Barang dicari malahan pergi, dilepaskan malahan dia nongol, lucu, tapi dunia itu memang begitu hukumnya, perilakunya, upps!
Sehingga ilmu yang otentik, memanglah ilmu kehidupan, seturut pengalaman empiris pelakunya masing-masing. Bukan ilmu yang kita dapatkan di bangku sekolah formal. Ilmu dalam sekolah formal hanya memberikan sedikit saja experience nya. Yang tak terbatas adalah ilmu yang berada di dalam semesta ini, dan syarat utama mendapatkannya harus mengalami langsung hehehe!
Tentu saja pengalaman di atas, bisa ditautkan dalam aspek kehidupan yang lainnya bagi kita semua: mencari rejeki, bekerja, karir, dan lainnya. Seorang profesor muda di UB pernah berkata kepada penulis," Nek wis wayahe mengko kan lulus, nek wis wayahe mengko lak dilantik, nek wis wayahe mengko lak lungguh!" Sepertinya memang begitu. Dan tanya penulis selanjutnya kepada profesor muda itu adalah:"Terus di mana fungsi pikiran Prof?" Dan sambil tersenyum si prof itu hanya menjawab," Anu mas AAS, fungsi pikiran dan logika itu hanya untuk menghitung saja, tidak lebih!"
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Mak Jleb. "Nek ngono aku tak mulih Suroboyo Sik Prof, seperti nya hari sudah larut malam, besok ke UB Malang lagi soalnya!"
"Ashiap mas AAS!"
Sehat selalu Prof. Dan sepertinya ilmu pamungkasnya tokoh intelektual dari UB Malang itu, ternyata sama dengan judul tulisan di atas: "Melepaskan Malahan Mendapatkan". Karena jawaban beliau dalam memaksimalkan potensi dalam diri adalah dengan memaksimalkan intuisi dan juga insting untuk memanen ruang kreativitas yang tanpa batas!
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Kalau demikian pemikirannya, mister AAS sangat setuju prof.
Sepertinya cara berpikir dan cara hidup profesor nyentrik dari UB Malang ini, layak di teladani, karena beliau sudah sedemikian cerdas dalam menikmati hidup dan kehidupannya, benar-benar semakin merunduk meski karir dan sosoknya begitu famous terkenal di kalangan forum akademik, dan juga kalangan bawah tanah, saat diskusi bebas tengah malam bersamanya hehehe.
AAS, 2 Oktober 2023
Warkop Karmen Surabaya
Editor : Yuris. T. Hidayat