Judul tulisan di atas, laksana sebuah copywriting saja. Sesaat membaca sebuah meme lalu diberi sebuah judul oleh seorang kawan, seketika jemari ini ingin meneruskannya menjadi sebuah tulisan.
Beberapa pekan bisa jadi malah beberapa bulan pastinya. Jagat perhelatan ruang sosial dan ruang publik kita di isi sebuah informasi yang real time cenderung terus menerus tanpa henti, bahwa anak-anak muda layak menjadi pemimpin sebuah negeri khatulistiwa menyeruak menyadarkan para manusia yang masuk katagori paruh baya di NKRI ini.
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Kehadiran anak muda meski direpresentasikan sebagai manusia berkasta satria karena darah yang mengaliri tubuhnya tak bisa dihindari ia anaknya siapa? Namun, wajah kecut dan muka masam yang menghinggapi para manusia paruh baya tak bisa menolak bahwa anak muda itu telah sah disahkan oleh sebuah aturan bisa ikut berpartisipasi dalam perhelatan pemilu bulan februari tahun depan. Jangan-jangan semakin di olok-olok dan dibenci itu anak muda, akan dimenangkan oleh sejarah, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi tahun depan, lha wong esok hari ada apa saja, kita pun kesulitan untuk meramalkannya, karena penulis bukan seorang cenayang!
Satu dasawarsa ini di perhelatan global, banyak pemimpin negeri di berbagai belahan dunia di isi oleh tokoh-tokoh muda. Mari kita sebut satu demi satu mereka itu. Ada Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin. Belia di dapuk menjadi Perdana Menteri pada tahun 2019 pada usia 34 tahun. Sedangkan pada tahun itu penulis sedang selesai mendaftar menjadi mahasiswa doktoral di Pascasarjana FE UB Malang. Lalu Presiden Kostarika Carlos Alvarado, seorang Jurnalis dan Menteri Tenaga Kerja ini memenangi pemilihan menjadi Presiden Kostarika pada Mei 2018 pada usia 38 tahun. Dan tak lupa si ganteng, Presiden Perancis Emmanuel Macron, seorang mantan bankir investasi menjadi Presiden termuda Perancis pada Mei 2027 pada usia 39 tahun!
Di level internal, kita harus akui bahwa para founding father negeri ini. Adalah anak-anak muda yang tongkrongannya bukan menye-menye andalkan nama besar siapa orang tuanya, atau andalkan wajah cantiknya untuk membuat aksi yang menghebohkan atas ulahnya membohongi para maniak yang akan menonton konser band Coldplay beberapa hari yang lalu. Sama sekali bukan DNA nya anak-anak muda yang notabene para pendidik dan pendiri dari negeri ini. "Lalu apa lagi yang membuat kita tidak memiliki kepercayaan diri, untuk berbuat sesuatu yang berarti mas bro, setidaknya bagi negeri tercinta?"
Kita tidak bisa jealous atau cemburu bahkan iri, karena bukan anak seorang Wakil Presiden, apalagi seorang Presiden. Ya, sudah kita syukuri saja meski anaknya seorang tukang becak, semesta tidak akan menghalangi niatan besar kita untuk menjadi sesuatu. Tinggal Anda hanya akan puas menjadi pecundang menyaksikan kesuksesan orang lain. Atau mau menjadi pemenang, memahat prasasti kesuksesan kita sendiri di masa depan.
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Pilihan di tangan Anda semua, bukan di tangan penulis, apalagi di tangan seseorang yang bukan orang tua Anda!
"Lha wong penulis menulis tulisan ini saja, sebagai ihktiar penulis untuk merubah sesuatu agar lebih baik terjadi di masa depan!"
Mari kita tonjok pongahnya dunia itu, bukan urusan Anda apabila masih muda umurnya, asal isi otak Anda mau berpikir dan wujudkan pikiran-pikiran besar di dalam otak Anda tersebut dalam kehidupan nyata.
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Hal ini tentu selaras juga dengan apa yang disampaikan oleh pemimpin muda dari Inggris saat itu: "Puncak gunung menginspirasi para pemimpin, tetapi lembah mendewasakan mereka!" (Winston Churchill).
AAS, 21 November 2023
Kota pahlawan Surabaya
Editor : Nasirudin