Surabaya, JatimUPdate.id,- Mengusung tema besar Jawa Timur “Menuju Jawa Timur Lestari Gerbang Nusantara Baru” Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana, melakukan audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Surabaya, Jumat (13/12/2024).
Badko HMI Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup menyampaikan terkait dengan problematika ingkungan hidup dan berdiskusi terkait solusi konkret atas permasalahan lingkungan yang terjadi.
Jaka Suryatama, Wasekum Bidang Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana saat membuka audiensi ini menyampaikan Jawa Timur sebagai salah satu provinsi dengan populasi besar dan aktivitas ekonomi yang tinggi, menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestarian lingkungannya.
"Pertumbuhan penduduk, industrialisasi, dan urbanisasi yang pesat telah memberikan tekanan yang signifikan pada ekosistem dan sumber daya alam," terang Jaka Suryatama sebagaimana rilis yang diterima JatimUPdate.id, Minggu (15/12/2016)
Ia menegaskan, Badko HMI Jatim menyoroti permasalahan seperti meningkatnya produksi sampah, pencemaran air, udara, dan tanah, serta perubahan iklim yang semakin menjadi di Jawa Timur.
Menurutnya, data dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) pada tahun 2023, menunjukkan setiap tahunnya Jawa Timur menghasilkan timbunan sampah sebesar 6.117.220 ton.
"Jumlah ini merupakan terbesar se-Nasional. Dan 50,97% komposisi sampah merupakan sisa makanan, hal ini menandakan masih kurangnya pengelolaan sampah organik," terangnya.
Selanjutnya data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023, Indeks kualitas Air (IKA) Provinsi Jawa Timur sebesar 55,86 termasuk kategori sedang dan masih belum mencapai target renstra 2019-2024 DLH Provinsi Jawa Timur. Indeks Kualitas Udara (IKU) sebesar 84,73 termasuk kategori baik, namun terburuk ke 4 se-nasional.
Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTLH) sebesar 49,70 termasuk kategori kurang. Indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) Provinsi Jawa Timur sebesar 69,59 termasuk kategori sedang.
Selain itu, data dari BMKG juga menunjukkan suhu udara rata-rata di Jawa Timur semakin memanas ditandai dengan anomali suhu yang cenderung meningkat dibandingkan dengan suhu rata-rata dari tahun 1991-2020.
Sementara itu, pihak DLH Provinsi Jawa Timur menyampaikan domain dari teknis pengelolaan sampah dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan domain pemerintah daerah dan perlu kerjasama bersama antara SKPD yang terkait.
Namun, dalam domain rumah tangga sampai ke TPA merupakan ranah provinsi untuk mensosialisasikannya ke masyarakat seperti 3R dan banyak program-program DLH Provinsi, seperti Desa Berseri, Adiwiyata Sekolah, Eco Pesantren, Adipura dll.
Menurut DLH Jatim, keterbatasan anggaran dan SDM menjadi salah beberapa hambatan yang dialami, contoh permasalahan limbah perusahaan yang bisa di tangani DLH Jatim hanya 30% dari total sekitar 3.000 perusahaan yang ada.
Dijelaskan, disitupun terdapat banyak sekali perusahaan nakal yang tidak sesuai dengan perundang-undangan, belum lagi limbah yang berasal dari umkm dan rumah tangga yang tidak dapat ditangani datanya secara komprehensif.
Baca juga: Badko HMI Jawa Timur Gelar FGD Refleksi Hari HAM
Hal ini perlu kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah juga harus dibangun. Agar mengurangi sampah yang sudah overload di TPA. Sehingga edukasi lingkungan dari sejak dini harus dilakukan.
Oleh karena itu, Badko HMI Jatim melalui Bidang Lingkungan Hidup mengapresiasi kinerja Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dan membeberkan tantangan serta solusi yang konkret dalam penyelesaian permasalahan lingkungan hidup di Provinsi Jawa Timur yang telah disampaikan namun belum menyeluruh.
Dalam hal ini Badko HMI Jatim Bidang Lingkungan Hidup mengusulkan solusi konkret untuk masa depan yang lebih baik yaitu:
1. Penerapan dan pengawasan kebijakan lingkungan hidup yang lebih ketat serta berkelanjutan.
2. Pengendalian terhadap kerusakan/pencemaran lingkungan hidup.
3. Aksi nyata yang berkelanjutan terhadap lingkungan hidup.
4. Edukasi lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan.
5. Pengembangan teknologi ramah lingkungan, Peningkatan Kesadaran Masyarakat, Pelibatan Generasi Muda, dan
6. Membuka ruang kolaboratif selebar-lebarnya untuk berupaya memperbaiki kenyamanan hajat hidup generasi kedepan. (ar)
Editor : Yuris. T. Hidayat