Menjelang Musda, Bahlil Sambangi Bumi Shalawat: Politik dan Pesantren dalam Satu Frekuensi
Sidoarjo, JatimUPdate.id - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyambangi Pondok Pesantren Bumi Shalawat di Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu, 10 Mei 2025. Di tengah suhu politik internal partai yang mulai memanas jelang Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Jawa Timur, kunjungan itu dinilai sebagai langkah strategis untuk merawat jejaring kultural partai berlambang beringin itu di kalangan pesantren.
Bahlil datang bersama rombongan pengurus pusat Golkar. Mereka disambut hangat oleh pengasuh pondok pesantren, KH Agoes Ali Masyhuri—lebih dikenal sebagai Gus Ali. Tidak sekadar pertemuan politik, agenda ini juga dibungkus dalam bingkai silaturahmi spiritual.
Baca Juga: Zulfikar Arse Sadikin Menyerap Aspirasi P3K, Honorer, dan Guru Swasta: Siap Perjuangkan Hak Mereka
“Kami datang bukan sekadar membawa agenda partai, tapi juga membawa semangat kebangsaan yang berpijak pada nilai-nilai keagamaan,” ujar Bahlil usai pertemuan. Ia menekankan bahwa Golkar ingin merawat relasi dengan tokoh agama sebagai bagian dari tradisi politiknya.
Namun di balik pernyataan normatif itu, kunjungan ini sarat pesan simbolik. Musda Golkar Jatim yang akan digelar di Surabaya pada hari yang sama, disebut-sebut bakal menetapkan Ali Mufthi sebagai ketua DPD baru secara aklamasi. Ali mengantongi dukungan mayoritas—41 dari 44 suara sah—sebuah sinyal kuat soal arah konsolidasi partai.
Bahlil sendiri mengaku punya kedekatan personal dengan keluarga pondok. Ia bersahabat lama dengan Ahmad Muhdlor Ali atau Gus Muhdlor, putra Gus Ali sekaligus mantan Bupati Sidoarjo. “Ini bukan hanya kunjungan politik. Ini pertemuan keluarga dan sahabat,” katanya.
Baca Juga: Akhir Penantian Honorer Bondowoso, 4.502 SK PPPK Paruh Waktu Segera Diserahkan
Turut mendampingi Bahlil dalam lawatan itu sejumlah figur elite partai seperti Meutya Hafid, Wihaji, Dyah Roro Esti, dan Sekjen Golkar Sarmuji. Hadir pula Adies Kadir, Mukhamad Misbakhun, dan Yahya Zaini. Pertemuan berlangsung akrab, diselingi diskusi ringan soal peran pesantren dalam menjaga harmoni sosial.
Kunjungan ke pesantren bukanlah manuver baru dalam politik Jawa Timur. Di wilayah yang menjadi kantong suara Nahdlatul Ulama ini, pesantren memainkan peran penting dalam menentukan arah dukungan. Golkar tampaknya sadar betul, bahwa untuk memenangkan hati pemilih Jatim, mendekat ke tokoh agama adalah keharusan, bukan pilihan.
Langkah Bahlil ini bisa dibaca sebagai bagian dari strategi politik jangka panjang partai, terutama menghadapi kontestasi Pemilu 2029. Dengan menempatkan pesantren sebagai mitra dialog, Golkar mencoba membumikan kembali politik yang berakar pada kultur masyarakat bawah.(DPR)
Baca Juga: Pemkab Bondowoso Tegaskan Honorer Tak Dirumahkan, Golkar Bondowoso Apresiasi Kebijakan Bupati
Editor : Redaksi