Agam Rinjani dan Sikap Laskar Sasak
Lombok Barat, JatimUPdate.id : Pada Minggu (29/06/2025), bertempat di Aula Taman Hutan Wisata Desa Suranadi Lombok Barat saat silaturahmi Laskar Sasak DPD Lombok Barat dan Santunan Anak Yatim, Ketua Umum DPP Lalu Muhammad Ali Sadikin D.Pd, SH yang biasa disapa Miq Denta saat ditanya oleh awak media terkait dengan tragedi wanita yang bernama Juliana asal Brazil yang mengalami kecelakaan saat mendaki gunung Rinjani.
Baca Juga: Lewat PTUN Mataram, Prof Hamsu Resmi Gugat Tiga Keputusan Rektor Unram
"Kita semua masyarakat Sasak tentunya merasa ikut bersedih disaat geliat wisata gunung Rinjani ini makin banyak peminatnya, bahkan wisatawan mancanegara jauh lebih banyak sebagai pengunjung daripada masyarakat lokal.
Tapi kesedihan itu bukan hanya perkara ataupun hanya tentang gadis Brazil tersebut," kata Lalu Moh. Sadikin kepada JatimUPdate.id pada Selasa (01/07/2025).
Pernyataan sama telah dimuat oleh sejumlah media lokal pada Minggu (29/06/2025).
Secara khusus Miq Denta menyatakan bahwa kondisi lingkungan di kawasan Gunung Rinjani perlu mendapat perhatian semua pihak dan penanganan khusus.
"Jauh daripada itu, kita juga ikut bersedih akan terlalu di komersialkan gunung yang sangat kita hormati ini, karena Gunung Rinjani adalah Pasak dan Pusat dari Kemalik Sasak, inilah Kemalik Sasak yang terbesar. [Kemalik itu tempat yg dikeramatkan]," kata Miq Denta.
Secara khusus Lalu Sodikin menjelaskan
dengan pesatnya kemajuan pariwisata dirinjani, ada hal-hal penting yang terlupakan, misalnya kearifan lokal, nilai-nilai culture, nilai-nilai adat dan budaya serta agama.
"Dulu sebelum Rinjani dikelola oleh pemerintah TNGR, setiap pengunjung diharuskan melakukan dan mengikuti acara ritual mesembek [pemberkatan dan izin] dari pemangku-pemangku dan tokoh adat secara spiritual Sasak, dikasih wejangan dan nasihat cara mendaki dan berkunjung secara tepat.
Saat ini acara ritual Mesembek itu sudah diganti dengan Tiket," tegasnya
Lebih detail Lalu Ali Sodikin menjelaskan bahwa Suku Sasak mulai dulu selalu menjaga harmonisasi atas relasi hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam lingkungan.
"Disasak ini kita mengenal konsep Datu Telu Besanakan yang menjadi tolak ukur dan harus kita patuhi bersama untuk menjalani kehidupan yang lomboq bender atau kehidupan yang lurus.
Adat Tapsile itu bagaimana kita merangkai hubungan yang baik akan sesama. Adat Luir Game itu bagaimana kita menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Adat Gumi Paer itu bagaimana kita berhubungan dengan alam semesta ini. Itulah pegangan kita bersama," ungkap Lalu Ali Sodikin
Terkait dengan Agam Rinjani, kata Miq Denta, dimana pendaki gunung itu yang aslinya berdarah dari Sulawesi, akan tetapi berkat kecintaannya terhadap Gunung Rinjani telah membuatnya menjadi insan suku sasak karena menjaga dan merawat alam serta nilai luhur tradisi Sasak dengan semboyan Lombok Mirah Sasak Adi.
"Mas Agam Rinjani merawat alam seputar Gunung Rinjani yang begitu lengkap menawarkan pesona keindahan alamnya, beliau menjadi sosok Pahlawan bagi Sasak ini, saya rasa Mas Agam Rinjani itu telah memahami prinsip-prinsip kesasakan itu sendiri. Laskar Sasak sangat salut dan mengapresiasi sikap kerendahan hatinya serta konsistensinya dalam merawat alam," tegas Ali Sadikin.
Adat dan Adab Suku Sasak Yang Mempesona
Catatan Redaksi JatimUPdate.id menunjukkan sejumlah cerita keluhuran budi warga Sasak Lombok yang berakar pada budaya adat dan adab leluhur telah tertorehkan dan diakui oleh dunia.
Kalau saat ini Abdul Haris Agam atau Agam Rinjani menjadi sorotan publik Brasil karena aksi heroiknya bersama tim rescuenya telah berjibakutai menyelanatkan korban pendaki cewek asal Brasil yang terjatuh ke jurang di Gunung Rinjani. Aksi Agam dan Tim ternyata menarik simpati publik Brasil.
Meski demikian sikap rendah hati Agam Rinjani juga menuai banyak pujian terkait komitmennya dalam menjaga dan merawat alam sesuai adat luhur Suku Sasak.
Jauh sebelum itu sebuah peristiwa kemanusian diceritakan oleh Novelis Kondang Elizabeth M. Gilbert atau yang dikenal sebagai Liz Gilbert tentang nilai-nilai adat Sasak Lombok yang bersumber pada agama Islam.
Liz Gilbert yang terkenal dengan novel nya Eat, Pray and Love 2006 yang jadi best seller serta film nya yang dibintangi Julia Robert dengan mengambil setting di Bali dengan judul sama jadi box officie pada 2012 itu menunjukkan betapa penulis itu pernah tinggal di Indonesia sekitar 2000-2004.
Buku novel dan film itu merupakan pengalaman pribadi Liz Gilbert, meski demikian penulis novel itu baru pada 2016 saat berbincang dengan Oprah Winfrey dalam sesi Talkshownya, mengungkapkan ada hal yang tidak dia ungkapkan terkait pengalaman spiritualnya saat hidup disalah satu pulau gugusan kepulauan Gili Lombok yang membuatnya tersadar dan bangkit dari depresi akibat perceraian yang dialaminya.
Konon saat di The Oprah Winfrey Shows itu Liz Gilbert menceritakan bahwa dirinya pernah hidup sendirian di salah satu diantara pulau Gili Mano, Gili Air dan Gili Terawangan itu dan seperti biasa dirinya setiap hari berolah raga lari mengitari pulau dan bertemu ibu nelayan yang selalu menyapanya.
Liz Gilbert bercerita bahwa pada suatu pagi dirinya mengalami dehidrasi parah. Peristiwa ini sangat menyentuh dan tidak akan dilupakan oleh novelis kelahiran Waterbury, Connecticut, Amerika Serikat pada 18 Juli 1969 itu, bahkan secara tidak sengaja dia merasa sudah berada di akhir hidupnya.
Baca Juga: Laskar Sasak: Tolak Politik Kotor di Unram, Minta Kementerian Tunda Pemilihan Rektor dan Tunjuk Plt
Dan tidak diduga oleh Liz Gilbert, setelah dirinya kesakitan dalam kondisi dehidrasi yang menyebabkannya tidak menjalani rutinitas olah raga lari pagi itu, ternyata kebiasaannya menyapa wanita berkerudung berprofesi nelayan itulah yang memantik perasaan wanita suku Sasak itu merasakan bahwa pagi ini wanita asing yang biasa lari pagi itu tidak muncul, sehingga dengan perasaan was-was wanita nelayan itu mencari Liz Gilbert di setiap pondok penginapan yang ada akibat rasa kuatirnya.
Sesaat wanita itu menemukan pondok penginapan Liz Gilbert dan menemukan wisatawan mancanegara itu mengalami dehidrasi, dengan tenang dan secara cepat wanita suku sasak yang hingga kini belum diketahui namanya itu melakukan pertolongan pertama.
"Saya kaget saat wanita nelayan berkerudung yang setiap pagi saya sapa saat berolah raga pagi tiba-tiba muncul di pondok penginapan. Dengan lembut dia yang tidak saya kenal itu memeluk saya guna menenangkan dan dengan bahasa isyarat menyuruh saya menunggu untuk segera melakukan langkah pertolongan pertama. Sungguh hal ini sangat membekas dalam fikiran saya. Dan saya saat itu secara langsung menemukan nilai-nilai kemanusian dan wajah Islam dari wanita penolong tersebut," kata Liz Gilbert mengungkapkan perasaan pribadinya kepada Oprah Winfrey di The Oprah Winfrey Show pada 2016 lalu yang videonya dikutip JatimUPdate.id pada Selasa (01/07/2025).
Secara khusus Liz Gilbert mengakui bahwa pertemuan atas kejadiannya dengan wanita Sasak Lombok itulah yang merubah serta membuatnya kembali bangkit menatap kehidupan.
Liz Gilbert mengakui episode kisah dirinya di Lombok itu tidak dimasukkan dalam buku Eat, Love and Pray itu mengingat pada 2006 publik dunia masih sangat terjebak oleh stigma islam phobia akibat peristiwa pengeboman WTC 2001. (ken/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat