Belajar Islam Lewat Sejarah
Oleh: Ponirin Mika
Jurnalis JatimUPdate.id, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo
Baca Juga: Dinasti Pasir Nan Memalukan
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Sejarah bukan hanya sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin yang memantulkan identitas dan nilai-nilai suatu peradaban.
Bagi siswa muslim, sejarah Islam adalah fondasi penting yang mengarahkan mereka memahami jati diri, nilai moral, dan arah perjuangan sebagai bagian dari umat yang besar.
Melalui sejarah, mereka tidak hanya mengingat kejayaan lampau, tetapi juga menemukan pijakan untuk melangkah ke masa depan dengan lebih yakin dan sadar.
Mengenal sejarah Islam berarti menggali kembali jejak mulia perjuangan Nabi Muhammad SAW dan generasi awal Islam dalam membangun masyarakat beradab.
Sejarah tersebut sarat akan nilai perjuangan, ketekunan, pengorbanan, serta visi besar dalam menata kehidupan manusia di bawah naungan wahyu ilahi.
Tanpa pemahaman terhadap sejarah ini, siswa akan mudah kehilangan arah dan identitasnya sebagai generasi pewaris peradaban agung.
Peradaban Islam yang pernah mencapai puncak kejayaannya bukanlah hasil dari kekuatan senjata semata, tetapi buah dari dakwah yang cerdas, lembut, dan penuh strategi.
Metode dakwah Nabi Muhammad SAW menjadi pelajaran utama yang harus dipahami siswa: dakwah yang bijak, penuh hikmah, serta mengedepankan dialog dan kasih sayang. Cara Nabi berdakwah mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari pendekatan yang manusiawi dan penuh pengertian.
Di dalam dakwahnya, Rasulullah tidak memaksakan kehendak, tetapi menyentuh hati dan pikiran manusia dengan keteladanan. Nilai-nilai ini penting ditanamkan kepada siswa agar mereka tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan sosial dan moral dalam menyampaikan kebaikan.
Metode dakwah Nabi relevan sepanjang zaman, termasuk di era digital yang penuh tantangan komunikasi seperti sekarang.
Lebih dari itu, Islam yang dibawa Nabi adalah rahmat bagi semesta alam. Konsep “rahmatan lil alamin” bukan sekadar slogan, melainkan manifestasi nyata dalam seluruh aspek kehidupan: dari perlakuan terhadap manusia tanpa membedakan agama dan ras, hingga perhatian terhadap lingkungan dan hewan. Siswa yang memahami hal ini akan tumbuh menjadi pribadi yang inklusif, toleran, dan cinta damai.
Islam juga merupakan agama revolusi. Ia hadir di tengah sistem sosial yang timpang dan merombaknya secara fundamental.
Revolusi Islam bukanlah destruktif, melainkan bersifat konstruktif, membangun tatanan baru yang adil, beradab, dan mengangkat harkat kemanusiaan. Ini memberikan pelajaran penting bahwa Islam mendorong perubahan sosial yang berpihak kepada keadilan dan kemaslahatan.
Bagi pelajar, penting memahami bahwa revolusi Islam bermula dari gerakan pendidikan. Nabi membangun masyarakat Madinah dengan pondasi ilmu. Ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan adalah jalan utama bagi umat Islam untuk memperbaiki kondisi bangsa dan umat. Dari sinilah lahir peradaban Islam yang cemerlang.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa umat Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia. Baghdad, Kairo, Andalusia, hingga Samarkand menjadi tempat berkembangnya ilmu pengetahuan dan budaya.
Pelajar perlu mengetahui bahwa tokoh-tokoh besar seperti Ibn Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Farabi adalah ilmuwan muslim yang pengaruhnya mendunia.
Dengan belajar sejarah, siswa akan memahami bahwa Islam mendorong umatnya menjadi pelopor kemajuan. Ini akan membangkitkan semangat mereka untuk belajar lebih giat, berkarya, dan memberi manfaat bagi kehidupan.
Kepercayaan diri mereka sebagai pelajar muslim akan tumbuh dengan pemahaman bahwa Islam telah lebih dahulu memulai tradisi keilmuan jauh sebelum dunia modern mengenalnya.
Baca Juga: Lewat Buku Sejarah Religi, Sidoarjo Perkenalkan Branding Baru “Bumi Aulia”
Tanpa pemahaman sejarah yang mendalam, pelajar mudah terjebak pada pemahaman Islam yang sempit atau bahkan radikal. Padahal, wajah asli Islam adalah wajah peradaban, toleransi, dan kemajuan.
Oleh karena itu, pendidikan sejarah Islam harus diajarkan dengan cara yang inspiratif dan kontekstual agar siswa mampu memaknainya dalam kehidupan nyata.
Di tengah tantangan arus informasi yang deras, distorsi sejarah kerap kali menjadi alat untuk merusak citra Islam. Pelajar yang tidak memiliki bekal sejarah yang kuat akan mudah terpengaruh oleh narasi-narasi sesat. Maka dari itu, pendidikan sejarah Islam yang otentik dan kritis menjadi benteng yang penting bagi generasi muda muslim.
Sekolah dan lembaga pendidikan Islam harus menjadi pelopor dalam membumikan sejarah Islam sebagai mata pelajaran yang membentuk karakter dan wawasan global.
Kurikulum sejarah harus dikemas tidak hanya dalam bentuk hafalan, tetapi sebagai kisah perjuangan, kebijaksanaan, dan dinamika peradaban yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Peran guru sangat strategis dalam membimbing siswa memahami sejarah bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai pelajaran hidup.
Sejarah harus mampu menumbuhkan kesadaran diri, etika sosial, dan tanggung jawab sebagai bagian dari umat yang punya warisan peradaban besar.
Belajar sejarah Islam juga merupakan jalan untuk membentuk karakter kepemimpinan siswa. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat adalah teladan kepemimpinan yang arif, jujur, dan adil. Keteladanan ini perlu ditanamkan sejak dini agar siswa tumbuh sebagai pemimpin masa depan yang bermoral tinggi.
Di era krisis keteladanan seperti saat ini, sejarah Islam bisa menjadi cermin alternatif yang menyegarkan. Figur-figur dalam sejarah Islam adalah role model sejati yang mampu menginspirasi siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh dan visioner.
Sejarah Islam juga akan membentuk rasa cinta terhadap ilmu dan budaya. Islam tidak pernah bertentangan dengan kemajuan, justru menjadi pelopor dalam banyak bidang keilmuan. Siswa perlu menyadari bahwa belajar dan berkarya adalah bagian dari ibadah dalam Islam.
Baca Juga: Kolonel Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia yang Tak Banyak Dikenal Publik
Generasi pelajar muslim saat ini memiliki peran penting dalam meneruskan estafet perjuangan umat. Mereka tidak boleh tumbuh tanpa akar.
Sejarah adalah akar yang menghubungkan mereka dengan nilai-nilai luhur dan semangat kemajuan.
Pemahaman sejarah juga akan menjauhkan siswa dari sikap fanatisme buta. Mereka akan melihat bahwa Islam adalah agama yang terbuka terhadap perbedaan, menghargai budaya, dan mendorong kerja sama lintas komunitas.
Sejarah Islam menjadi ladang subur bagi pembentukan karakter unggul siswa: mandiri, tangguh, kreatif, dan berjiwa pemimpin. Mereka akan melihat bahwa tokoh-tokoh besar dalam Islam bukanlah orang yang hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk umat dan dunia.
Memahami sejarah Islam akan menumbuhkan sikap tanggung jawab dan kebanggaan dalam diri pelajar. Mereka bukan hanya bagian dari komunitas lokal, tetapi juga bagian dari sejarah panjang umat manusia yang pernah menerangi dunia.
Islam mengajarkan umatnya untuk belajar dari masa lalu, memperbaiki masa kini, dan merancang masa depan. Hal ini tercermin dalam banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia berpikir dan mengambil pelajaran dari sejarah umat-umat sebelumnya.
Kini saatnya sejarah Islam diajarkan sebagai bagian dari pembangunan karakter dan peradaban. Tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai jalan hidup yang membentuk pelajar menjadi insan yang cerdas, santun, dan berkontribusi.
Jika sejarah Islam mampu dihadirkan secara menyenangkan dan mencerahkan, maka generasi muda akan merasa bangga menjadi bagian dari umat Islam. Mereka akan siap membawa obor peradaban dan menyalakan cahaya Islam dalam dunia yang semakin kompleks dan plural.
Dengan begitu, belajar sejarah Islam bukan sekadar kembali ke masa lalu, tetapi sebuah perjalanan untuk menjemput masa depan yang lebih cerah. Sebab, siapa yang tidak belajar dari sejarah, akan kehilangan arah di masa depan. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat