Lirih Ditengah Nglangut

Reporter : -
Lirih Ditengah Nglangut
Hadi Prasetyo

Oleh: Hadi Prasetyo

Pemerhati Sosial, Ekonomi dan Budaya

Surabaya, JatimUPdate.id : Sepuluh pagi, jarum jam menunjuk angka yang biasanya riuh. Aku menyusur jantung Surabaya, kota raksasa berpenduduk tiga juta jiwa, disebut kota Pahlawan yang mewakili semangat kepahlawanan dan perjuangan seluruh pelosok negeri.Mobil berjalan pelan dengan langkah mesin yang sengaja kuredupkan.

Jalanan ini bukanlah jalur asing, tetapi aneh, hari Minggu ini menyimpan getar yang lain. Bukan sekadar sepi akhir pekan biasa, melainkan menebar suasana kesenyapan yang menyeruak hingga ke tulang.

Pedagang kaki lima, warung kecil yang tersebar ditepi jalan dan biasanya ada orang nongkrong ngopi dan ngrokok dengan canda tawa, kini bagai panggung kosong setelah pementasan usai.

Kesenyapan suasana kehidupan rakyat kecil yang bukan ketenangan; tetapi suasana ‘nglangut’ yang membuat hati berdesir ikut merasakan keprihatinan masyarakat kecil dan kesedihan mereka yang mendalam.

Mereka seolah bergerak tanpa tujuan, menampakkan kehampaan yang menganga, bagai rongga kosong yang menelan gairah hidup.

Di balik kaca mobil, wajah-wajah yang berlalu-lalang terpantul seperti bayangan dalam air keruh. Murung. Lesu.

Pandangan kosong menembus cakrawala yang muram. Mereka bukan sedang bertahan dengan gigih, bukan berjuang bangkit dari terpaan. Tidak. Ini adalah langkah lunglai, gerak tubuh yang hanya menjalani nasib semata.

Ada bisikan lirih yang terasa: ‘Persetan dengan semua ini’, gumam keputusasaan yang lebih dalam dari sekadar keluh kesah.

Napas ekonomi kota dan negeri ini tersengal-sengal, terasa dalam kesuraman yang menyelimuti lapak-lapak sepi dan etalase toko yang memantulkan cahaya tanpa harapan.

Dunia maya pun tak memberi pelarian. Malah, ia membanjiri mata dengan berita-berita yang mengiris: skandal korupsi menjulang bak monumen keserakahan.

Berita para wakil menteri yang merangkap jabatan komisaris BUMN dengan senyum bangga, berharap rakyat keci tepuk tangan memuji.

Debat panas saling tuding berseliweran di timeline, saling sikut antara suara-suara idealis yang nyaris serak dan mereka yang oportunis, dan sedang tenggelam dalam nikmatnya uang serta jabatan hasil membuntuti kuasa.

Di layar kaca, acara Meet Nite Metro TV. sindiran tajam mengkritik kebijakan yang di tengah merosotnya daya beli dan pendapatan negara yang defisit, justru menjerat rakyat dengan jerat pajak baru.

Kata Meet Nite Show: "Apaapa dipajakin, rakyat teriak!" Teriakan itu menggema, tapi seolah lenyap ditelan angin di pusat kekuasaan yang jauh.Ironi pahit menganga: negeri ini kaya raya.

Sumber daya alamnya sangatberlimpah, hujan rejeki seharusnya bertebaran bak dedaunan di musim rontok. Namun, yang terjadi adalah hisapan masif, seperti tersedot ‘vacuum cleaner’.

Jaring oligarki yang rapat dan kuat, ditenun oleh kelompok kekuasaan dan konglomerasi, menyedot habis-habisan tebaran daun-daun kekayaan itu ke lubang hitam keserakahan mereka.

Yang tersisa bagi rakyat jelata hanyalah lembaran-lembaran rejeki tipis yang lolos dari hisapan itu. Daun-daun rejeki sisa hisapan keserakahan, melayang tak menentu di udara, diterbangkan angin nasib yang kejam.

Siapa yang kebetulan melintas di bawahnya, mungkin mendapat secuil. Tapi itu hanyalah sisa-sisa yang diperebutkan dengan letih, membuat hidup terasa seperti lari marathon tanpa garis finis.

Hari tanpa lembaran itu? Tubuh terasa ringkih, langkah sempoyongan menapaki aspal panas yang tak peduli.Di warung kopi yang sunyi, di dalam angkot yang penuh sesak namun hening, gumaman itu mengudara: ‘Kekuasaan macam apa ini yang tuli akan rintihan rakyat?’Seolah-olah kekuasaan bukan lagi alat untuk mengayomi hidup, melainkan menjadi tujuan itu sendiri.

Sebuah permainan mahal yang dimainkan di menara gading, sementara tanah di bawahnya retak dan gersang. Politik kekuasaan tumbuh subur di atas tanah yang diabaikannya.

Ia sibuk berebut kursi, menyusun strategi mempertahankan tahta, sementara nasib jutaan rakyat yang seharusnya diembannya hanya menjadi angka statistik, itupun angka decimal, atau jadi beban yang dianggap mengganggu pesta.

Surabaya pagi ini, di bawah matahari jam sepuluh, bukanlah kota yang tidur. Ia adalah kota yang nglangut. Kota yang sedang menyampaikan pesan kondisi seluruh negeri.

Kota yang dijuluki Kota Pahlawan nan penuh semangat perjuangan, kali ini, hari itu, seakan meratap sedih. Ia meratapi bukan hanya kesepian jalanan, tapi juga kehampaan janji, kerinduan akan keadilan yang kian menjauh, dan kesedihan mendalam melihat hidup yang terasa seperti dikerangkeng dalam sangkar besi bernama ketidakpedulian. Kekuasaan untuk hidup, atau hidup untuk kekuasaan?

Di tengah senyap yang menyayat ini, pertanyaan itu menggantung, berat, tanpa jawaban, bagai debu jalanan yang menempel di kaca mobilku yang terus melaju pelan, menyusuri lorong-lorong hampa sebuah kota yang menangis dalam diam.

Suasana nglangut yang menunggu kehadiran para intelektual, baik pensiunan, mahasiswa, pemuda, dan tokoh masyarakat untuk bangkit menyingsingkan lengan baju, turun membenahi kondisi kehidupan.

Tentu dengan dijaga oleh punggawa pertahanan keamanan dan aparat penegak hukum yang masih bertahan dengan jiwa, darah pengabdi dan semangat patriotiknya. Semoga. (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat