Cerita Pendek
Operasi Bukit Emas (Di Antara Idealisme dan Kepentingan)
Surabaya,JatimUPdate.id - Kabut pagi masih menggantung di atas lembah ketika Arya mencapai titik rendezvous. Hembusan angin menyapu rerumputan liar yang tumbuh liar di tepi tebing, membawa aroma basah tanah dan lumut.
Di hadapannya, Bukit Emas menjulang bisu, dibungkus kabut yang seolah menyimpan rahasia ribuan tahun.
Baca Juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
Bukit Emas hanyalah nama sandi. Tak ada emas di sana, kecuali mungkin ambisi manusia yang mengilap dalam kegelapan.
Di sanalah kelompok pragmatis koalisi pejabat, pengusaha, dan konsultan internasional berencana merumuskan megaproyek pembangunan infrastruktur senilai triliunan, konon demi kemajuan.
Tapi bagi kelompok idealis tempat Arya bernaung, proyek itu bencana yang membungkus diri dengan kata "kemajuan".
Bersama tiga agen rahasia lainnya Rehan si peretas, Dinda si penyamar, dan Iqbal sang ahli logistik, Arya menyusun strategi sabotase yang rapi.
Tujuannya bukan hanya menggagalkan rapat, tetapi membongkar identitas para dalang proyek, merekam percakapan, dan menanam kebocoran data untuk dipublikasikan ke media independen. Semuanya harus tuntas sebelum malam.
Namun, belum sempat operasi dimulai, kejutan pertama muncul.
“Hai kamu Arya, ya?” suara perempuan terdengar dari balik kabut. Arya menoleh cepat, tangannya refleks meraih pistol Glock 19 di sabuknya.
Seorang perempuan muda berdiri tak jauh darinya, mengenakan jaket lapangan, wajahnya terlindungi syal debu dan kacamata hitam.
Tapi gaya berdirinya terlalu tenang untuk seorang pendaki biasa.
“Siapa kamu?” Arya siaga.
“Lestari. Aku bukan musuhmu... setidaknya belum.”
Lestari merupakan agen dari kelompok oportunis, organisasi bayangan yang tak punya ideologi selain keuntungan.
Informasi dari pusat menyebutkan ada pihak ketiga yang berusaha masuk ke skema proyek ini, entah untuk menyabotase, menggagalkan, atau mencuri data.
Namun, Arya tak menyangka agen itu akan datang langsung dan menghadapinya.
“Kamu mau apa di sini?” Arya menahan nada amarah. Ia tak suka permainan ini.
“Aku tidak menggagalkan rapat seperti kamu,” ujar Lestari enteng.
“Aku hanya ingin data negosiasi. Nama-nama investor. Daftar rekening. Setelah dapat itu, aku pergi. Kamu bisa terus main bom asap dan alat sadapmu.”
“Kau akan jual datanya ke siapa? LSM? Atau ke pesaing investor?” sergah Arya Lestari cuma tersenyum,
“Yang mau bayar lebih. Kamu tak usah repot soal moral, Arya. Dunia ini terlalu sempit untuk idealisme.”
Arya tahu dia tak bisa menyingkirkan Lestari begitu saja. Terlalu riskan. Terlalu banyak kemungkinan. Ia memutuskan membiarkannya mengikuti, tapi tetap waspada.
Mereka menyusup ke kompleks tenda besar di lereng barat Bukit Emas, menyamar sebagai tim dokumentasi.
Sementara Rehan sudah lebih dulu menyabotase CCTV dan membuka jalur sinyal lemah ke server pusat.
Di balik kabut, pertemuan besar sedang berlangsung. Para elite pragmatis tertawa, berjabat tangan, sekaligus bertukar dokumen.
Di salah satu tenda VIP, Arya dan Lestari melihat seorang pria bertubuh besar dan berkacamata emas duduk santai di kursi kayu jati.
“Dia itu?” bisik Lestari.
“Dia pemilik puluhan perusahaan cangkang. Proyek ini akan mencuci uang ratusan miliar lewat kemitraan publik swasta.” Lestari tersenyum tipis.
“Bagus. Namanya sudah masuk daftar jual.”
Rehan mengirimkan sinyal ke Arya. “Target 1 sudah aktif. Mic berhasil ditanam. Transkrip audio akan dikirim ke server backup.” Arya menekan earpiece.
“Bagus. Mulai tanam di ruang kontrol.”
Namun, belum lima menit, kabut bergerak aneh. Asap muncul dari balik tenda. Dua ledakan kecil terdengar dari arah timur. Dinda mengirim pesan singkat:
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
“Ketahuan. Ada pihak lain.”
Arya dan Lestari berlari ke arah suara. Di dekat helipad darurat, beberapa penjaga bersenjata sudah siaga.
Tiga drone kecil terbang rendah, mengawasi pergerakan para peserta rapat.
“Apa-apaan ini?” Lestari berbisik tajam. Kamu yang bocor?”
“Bukan aku. Tapi... mereka sudah tahu kita di sini.” Arya menggertakkan gigi.
Ternyata, kelompok pragmatis sudah menyiapkan jebakan. Mereka tahu proyek ini akan menarik perhatian para idealis dan oportunis.
Maka mereka menyewa pihak keempat, pasukan bayaran cyber dan lapangan dari Eropa dan Asia Tengah. Sekelompok mantan militer yang tahu cara bermain kotor.
Pertarungan tak bisa dihindari. Rehan ditangkap. Iqbal hilang. Dinda terluka dan menghilang ke hutan.
Arya dan Lestari terpaksa melarikan diri ke sisi utara bukit, meninggalkan semua alat sadap dan data mentah.
***
Malam menjelang. Di bawah cahaya bulan, mereka bersembunyi di goa kecil di balik batu kapur. Lestari menatap langit, napasnya berat.
“Aku tak menyangka mereka mengantisipasi sampai begini,” ujarnya.
“Ini bukan cuma proyek, ini transaksi geopolitik. Ada investasi asing, pelibatan militer, dan bahkan dukungan politik dari beberapa negara. Kita semut yang masuk ke sarang naga.” kata Arya pelan.
“Kalau kita bisa bersatu, setidaknya untuk malam ini... kita masih bisa mencuri data pusat. Server-nya ada di tenda command, di balik barikade utara. Tapi kita butuh umpan.” kata Lestari menatap Arya.
Arya menimbang. Ia tak percaya Lestari sepenuhnya. Tapi kini, tak ada pilihan lain.
Serangan balasan dimulai pukul 01.00 dini hari. Lestari menciptakan gangguan di sisi barat, dengan menyalakan flare dan melempar granat ke kendaraan logistik.
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
Para penjaga panik. Arya menyusup lewat jalur air kecil, memasuki tenda komando dan mengambil hard drive server utama.
Dalam 15 menit, ia sudah kembali ke titik aman. Lestari muncul lima menit kemudian, dengan luka di bahu.
“Mereka tembak aku saat mundur,” gumamnya, lalu pingsan.
***
Dua hari kemudian, di sebuah rumah, Arya membuka file hasil penyadapan. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dokumen itu bukan hanya rencana proyek. Tapi juga daftar aliran dana.
“Apa kamu tahu semua ini?” tanya Arya pada Lestari yang kini duduk di kursi roda, lengannya digips.
“Aku cuma butuh 30% dari isinya,” jawabnya santai.
“Sisanya milikmu. Lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi ingat, kalau kamu tak membocorkannya, aku yang akan lakukan.” tegas Lestari
“Lalu kamu sendiri?” tanya Arya
“Aku sudah dapat transfer pertama kemarin. Sekarang waktunya kamu buat keputusan. Terserah kamu masih percaya idealisme bisa melawan sistem enggak?”
Arya menatap layar. Tangannya bergerak. Ia mulai mengirim dokumen itu ke jaringan whistleblower internasional, ke LSM, ke media. Tak peduli apakah nanti ia akan diburu atau ditangkap
“Aku hanya percaya bahwa kebenaran masih bisa punya tempat... meski kecil,” katanya pelan.
“Maka kita dua orang bodoh yang mencoba menantang dunia. Atau dua orang yang tak ingin mati dalam kebohongan.” Lestari tersenyum miris
*)Oleh: Roy Arudam
Editor : Redaksi