HUT Ke-10 HUT KUP Pojur
Achsanul Qosasi Ingatkan Pesan Ulama Madura Ahli Metafisika, Jangan Pernah Lupakan Madura
Pamekasan, JatimUPdate.id - Prof. Dr. Achsanul Qosasi mengingatkan karyawan Kelompok Usaha Profuktif (KUP) Pojur agar tidak melupakan Madura saat sudah sukses.
Baca Juga: Kesiapan Pesantren Dalam Jalankan Program MBG
Prof. AQ--sapaan akrabnya, berpesan dengan tegas hal itu saat perayaan dan tasyajuran Hari Ulang Tahun KUP Pojur ke-10 Tahun, di aula salah satu hotel di Pamekasan, Sabtu (9/8/2025).
Dalam momentum tersebut, Prof. AQ menceritakan besarnya KUP Pojur, yang menaungi belasan perusahaan, berawal dari usaha,l yang tidak mudah.
Namun, Presiden KUP Pojur ini memiliki motivasi dari ayahnya, yaitu almarhum KH. Bahaudin Mudhary yang pernah berpesan agar selalu besar hati. Kiai Baha merupakan ulama Madura yang ahli metafisika yang juga terkenal dengan buku teologi terbitan CV Haji Mas Agung Berjudul "Dialog Ketuhanan Yesus" itu. Buku itu menggambarkan kedalaman dan keluasan ilmu metafisika serta agama kyai kampung dengan kehidupan sederhana itu.
“Harus besar hati sebagai orang Madura,” ujar Achsanul Qosasih.
Namun setelah sukses, dia mengajak untuk tidak lupa Madura dan penting untuk ikut serta membangun Pulau Garam ini.
Figur asal Sumenep ini mencontohkan KUP Pojur sebagai pendidikan jasmani, UNIBA Madura sebagai pendidikan rohani, dan Madura United pendidikan karakter.
“Saat sukses, jangan sampai lupakan Madura!" tuturnya.
Selepas perayaan HUT KUP Pojur, ratusan karyawan nonton bareng laga pertama Madura United melawan Persis Solo di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP) Pamekasan.
Keberadaan KH Bahauddin Mudhary sangatlah luar biasa dalam perjalan hidup seorang Prof Dr Achsanul Khosasih sehingga profil kyai kampung asal ujung timur pulau Madura itu perlu secara sepintas bisa diungkap kembali guna dikenang tentang kisah hidup dan perjuangannya.
Baca Juga: Dunia Pendidikan Pesantren Berduka, KH Amal Fathullah Zarkasyi, Pimpinan Ponpes Gontor Wafat
Sekilas Tentang KH Bahauddin Mudhary
Dalam catatan Redaksi JatimUPdate.id tentang lebih jauh profil ayahanda Achsanul Qosasih yang bernama KH Bahauddin Mudhary dengan buku teologi berjudul "Dialog Ketuhanan Yesus" itu merupakan seorang ulama dengan keluasan keilmuan agama serta ilmu metafisika yang mumpuni.
Kyai Baha, begitu biasa dulu mendiang dipanggil, merupakan seorang ulama kharismatik dengan kehidupan yang sangat sederhana layaknya kyai kampung. Meski hidup dikampung di pelosok Sumenep, nama besar KH Bahauddin Mudhary sangat dikenal publik, meski demikian beliau sangat rendah hati.
Kyai Baha juga pandai bermain musik, sejumlah alat musik beliau kuasai. Selain itu, Kyai Baha juga mampu berbahasa beberapa bahasa asing diketahui dengan banyaknya buku berbagai bahasa asing ada ruang perpustakaan miliknya.
Kehebatan dalam berbahasa asing itu setidaknya diakui oleh seorang tamunya dari Jakarta, yang juga tenaga akunting Perum Garam yang pada 1970-an pernah bertandang di rumah Kyai Baha. Dalam pertemuan itu, Antonius Widuri sangat heran dan kaget atas kemampuan Kyai Baha yang kala itu diketahui memiliki penguasaan bahasa Inggris, Ibrani, Latin dan Jerman secara aktif.
Antonius Widuri berkesempatan berdiskusi dengan Kyai Baha selama beberapa hari yang membuatnya terkagum akan keluasan pemahaman keilmuan Kyai Baha, baik ilmu agama, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi dan metafisika.
Dalam literatur disebutkan di website milik Adian Husaini memuat artikel ilmiah yang ditulis oleh Dr Susiyanto, Dosen Universitas Islam Sultan Agung Semarang, menulis artikel Mengenang Kristologi Legendaris, KH Bahauddin Mudhary (1920-1979) menyebutkan bahwa beragam tanggapan muncul atas terbitnya karya Dialog Ketuhanan Yesus. Terakhir, buku Dialog itu diterbitkan ulang oleh Cambridge University Press, Inggris dan juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda “Dialoog over de Goddelijkheid van Jezus”. Buku ini diakui sebagai salah satu rujukan otoritatif dalam diskursus ilmiah terkait.
K.H. Bahaudin Mudhary adalah pria kelahiran Sumenep, Madura, 23 April 1920. Ia menguasai sejumlah bahasa asing antara lain Bahasa Arab, Jepang, Jerman, Perancis, dan Belanda. Penguasaan bahasa ini cukup membantu dalam mengakses berbagai versi Bibel. Kekayaaan bahasa inilah yang cukup menonjol mewarnai alur dialogis bukunya.
Pilihan hidupnya adalah menjadi da’i dan membaktikan ilmu bagi pendidikan masyarakat. Pada 1947, ia pernah menjadi komandan Resimen Hizbullah. Tahun 1949, mendirikan Yayasan Pesantren Sumenep.
KH Baha memiliki falsafah hidup atau moto luar biasa yaitu Tera' ta' a-dhemar (Menyala/Terang tanpa Lampu) yang juga menjadi motto Universitas KH. Bahaudin Mudhary Madura atau Universitas Bahaudin Mudhary Madura atau disingkat UNIBA MADURA. (rilis/red/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat