Cerita Pendek

Pendekar Syair Bermasalah

Reporter : -
Pendekar Syair Bermasalah
Ilustrasi

Surabaya,JatimUPdate.id - Di sebuah kerajaan bernama Nusantara Jaya, di mana istana megah berdiri di atas bukit yang melimpah ruah dan rakyat kecil terjepit di kampung-kampung kumuh, lahir seorang pendekar yang berbeda. 

Namanya Raden Kresna, seorang pemuda berusia 28 tahun dengan mata tajam dan suara yang mampu menggetarkan jiwa. 

Baca Juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang

Ia bukan pendekar biasa yang mengandalkan pedang atau tombak, melainkan pedang kata-kata yang ia wujudkan dalam syair-syair penuh kritik terhadap kekejaman dan ketidakadilan kerajaan. 

Dengan lesung pipit di wajahnya dan jubah sederhana dari kain tenun, ia berkeliling dari satu kampung ke kampung lain, membawakan pentas di bawah pohon beringin atau di tepi sawah yang gersang.

Rakyat kecil petani yang tanahnya dirampas, pedagang kecil yang dipaksa bayar pajak berat, dan anak-anak yang kelaparan terpikat oleh syair-syairnya. 

Nada-nada gending yang ia mainkan dengan seruling bambu menjadi iringan untuk kata-kata provokatif yang menggugah hati. Suatu malam di Kampung Tanah Tumpah, di depan api unggun yang redup, ia melantunkan:

"Oh, raja di singgasana emas,
Duduk di atas tulang rakyat yang patah,
Pajak menjerat leher kami,
Keadilan hilang ditelan angin malam!"

Rakyat terdiam, lalu sorak-sorai pecah. Kata-kata itu menyentuh luka lama mereka. Sejak malam itu, kepercayaan pada kerajaan mulai runtuh, terutama di kalangan masyarakat tertindas. 

Di sudut-sudut gelap, kantong-kantong perlawanan mulai terbentuk. Para tetua mengumpulkan senjata sederhana, parang, lembing, dan panah dengan rencana untuk suatu hari meledakkan gerakan makar yang akan mengguncang tahta Raja Wirayuda, penguasa yang dikenal kejam dan rakus.

Kabar tentang pendekar ini akhirnya sampai ke telinga istana. Di ruang sidang yang dihiasan sutra, para menteri berkumpul di hadapan Raja Wirayuda, seorang pria tua dengan mahkota berlian yang berkilau. 

“Baginda, pendekar ini bernama Raden Kresna,” ujar Menteri Keamanan, Patih Karmo. 

“Syair-syairnya membahayakan. Rakyat kecil mulai memberontak, dan tahta kita terancam!”

Raja Wirayuda memandang tajam, jari-jarinya mengetuk singgasana. “Temukan dia! Kirim teliksandi dan pasukan terbaik. Syaratnya satu hidup atau mati, tapi dia harus dihentikan. Kata-katanya seperti racun yang merusak fondasi kerajaan ini!”

Teliksandi, sekelompok mata-mata terlatih, segera dikerahkan. Mereka menyisir kampung-kampung, memeriksa setiap sudut pasar, dan menanyai warga dengan ancaman. 

Namun, Raden Kresna seperti angin sulit ditangkap. Setelah mengetahui dirinya diburu, ia tak lagi melantunkan syair secara terbuka. Ia menyadari bahaya yang mengintai, tetapi semangatnya tak padam. 

Malam-malam berikutnya, ia beralih strategi. Dengan pisau kecil, ia mengukir syair-syair barunya di daun lontar, lalu diam-diam menempelkannya di sumur umum, dinding rumah warga, dan tiang pasar. 

Setiap daun lontar menjadi senjata diam yang terus menabur benih pemberontakan.

"Di balik tembok istana, tangis rakyat terdengar,
Raja tuli, menteri bisu, keadilan tercerai berai,
Bangkitlah, jiwa yang terpuruk,
Kita rebut hak dengan darah dan nyawa!"

Warga yang menemukan daun-daun itu membacanya dengan hati-hati, lalu menyebarkannya secara diam-diam. Raden Kresna kini dijuluki Pendekar Syair Bermasalah oleh istana, sebuah nama yang mencerminkan kekhawatiran Raja Wirayuda. 

Bagi rakyat, ia adalah pahlawan, bagi kerajaan, ia adalah ancaman yang harus dihilangkan.

Perburuan yang tak kunjung berhasil,
Hari berganti minggu, dan teliksandi kembali dengan laporan kosong. 

“Baginda, kami tak menemukan jejaknya,” ujar Kepala Teliksandi, seorang pria kurus bernama Ki Jaya, di hadapan raja. 

“Dia seperti ilmu gaib muncul, lalu lenyap.”

Raja Wirayuda memukul meja dengan marah. “Bodoh! Tambah pasukan! Tawarkan hadiah emas untuk siapa saja yang menangkapnya. Aku tak akan membiarkan penyair kotor ini merusak kekuasaanku!”

Di kampung-kampung, ketegangan meningkat. Pasukan kerajaan mulai menggerebek rumah-rumah, mencari Raden Kresna. 

Namun, warga setia melindunginya. Seorang ibu tua di Kampung Bumi Sejahtera, bernama Mbok Karni, menyembunyikan Raden Kresna di gudang padi miliknya. 

“Anakku, kau membawa harapan kami,” bisiknya sambil memberi sepiring nasi. “Tapi hati-hati mata istana di mana-mana.”

Raden Kresna mengangguk, matanya redup. “Terima kasih, Mbok. Aku tak akan berhenti sampai rakyat bebas dari penindasan. Tapi aku tahu, ini tak akan mudah.”

Malam itu, ia kembali mengukir syair di daun lontar baru. Tangan gemetarnya mencoba menjaga tulisan tetap rapi di bawah cahaya lilin. 

Setelah selesai, ia menyelinap keluar, menempelkan daun itu di dinding sumur desa. Namun, saat ia berbalik, bayangan seorang teliksandi muncul di kegelapan.

“Raden Kresna! Berhenti di tempat!” teriak prajurit itu, mengacungkan tombak.

Raden Kresna tak panik. Dengan lincah, ia melompat ke semak belukar, menghilang sebelum prajurit itu bisa mengejar. Prajurit itu hanya menemukan daun lontar yang masih basah tinta, dan ia membawanya ke istana sebagai bukti kegagalan.

Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III

Di sisi lain, di sebuah gubuk terpencil di tepi hutan, Raden Kresna bertemu seseorang yang tak terduga, Dian, seorang gadis muda dari kampung sebelah yang juga menjadi bagian dari kantong perlawanan. Dian membawa berita buruk. 

“Kresna, pasukan raja semakin dekat. Mereka menawarkan emas untuk kepalamu. Tapi ada kabar lain ada pengkhianat di antara kami.”

Raden Kresna mengerutkan kening. “Pengkhianat? Siapa?”
Dian menunduk, suaranya bergetar. 

“Aku tak tahu pasti, tapi seseorang memberi tahu teliksandi tentang lokasimu di Kampung Tanah Tumpah tadi malam. Untung Mbok Sari memindahkanmu.”

Raden Kresna terdiam, pikirannya berputar. “Jika ada pengkhianat, aku harus lebih hati-hati. Tapi aku tak akan berhenti. Rakyat butuh suaraku.”

Dian mengangguk. “Kami mendukungmu, Kresna. Tapi mungkin kau harus berpindah lagi. Aku bisa membantumu ke Kampung Sungai Mati tempat itu lebih aman untuk sementara.”

Malam itu, di bawah langit berbintang, mereka berjalan bersama menuju kampung baru. Di sepanjang jalan, Raden Kresna melantunkan syair pelan untuk menenangkan hati, meski ia tahu bahaya mengintai di setiap sudut.

Kampung Sungai Mati, dengan sungainya yang kering dan rumah-rumah reyot, menjadi tempat persembunyian sementara Raden Kresna. Di sini, ia bertemu dengan Pak Sastro, seorang tetua desa yang menjadi pemimpin kantong perlawanan. 

Pak Sastro menyambutnya dengan hangat, tapi wajahnya penuh kekhawatiran.

“Kresna, syairmu membangkitkan kami,” ujar Pak Sastro sambil menuang teh hijau. “Tapi raja tak akan diam. Pasukan mereka sudah di perbatasan desa. Apa rencanamu?”

Raden Kresna menatap cangkir di tangannya. “Aku akan terus menulis. Tapi kali ini, aku ingin rakyat bersiap. Jika mereka datang, kita hadapi bersama. Tapi aku perlu tahu siapa pengkhianat itu.”

Pak Sastro mengangguk. “Aku curiga ada di antara anak buahku. Besok, kita akan uji kesetiaan mereka.”

Pagi berikutnya, di lapangan terbuka Kampung Sungai Mati, Pak Sastro mengumpulkan anggota perlawanan. Raden Kresna berdiri di sampingnya, memegang sehelai daun lontar. Ia membacakan syair baru dengan suara lantang:

"Oh, rakyatku yang teraniaya,
Bangkitlah dari tidur panjang,
Darah kita adalah tinta,

Menulis kebebasan di bumi ini!"
Sorak-sorai meletus, tapi tiba-tiba seorang pemuda bernama Joko melangkah maju dengan wajah pucat. 

“Kresna, aku… aku yang memberi tahu teliksandi. Mereka janjikan emas untuk keluargaku yang kelaparan!”

Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II 

Raden Kresna menatap Joko dengan dingin. “Emas tak akan menebus dosamu, Joko. Tapi aku beri kesempatan buktikan kesetiaanmu dengan membawa kami ke pasukan itu.”

Joko menunduk, air mata mengalir. “Aku akan menebusnya, Kresna. Ikut aku.”

Di bawah senja yang merah darah, Joko membawa Raden Kresna, Pak Sastro, dan sekelompok perlawanan menuju perbatasan desa. Di sana, pasukan kerajaan dibawah komando Patih Darto sudah berkumpul, lengkap dengan tombak dan panah. 

Sementara Teliksandi mengelilingi area, mencari jejak Raden Kresna.

“Kresna ada di sini!” teriak Patih Darto, mengacungkan pedang. “Tangkap dia, atau rakyatmu akan menderita!”

Raden Kresna melangkah maju, tangannya menggenggam sebatang tongkat kayu. “Patih Darto, katakan pada rajamu keadilan tak bisa dibeli dengan emas atau darah! Rakyatku bangkit, dan tak ada yang bisa menghentikan kami!”

Pertempuran pecah. Panah beterbangan, pedang beradu, dan jeritan mengisi udara. Raden Kresna memimpin perlawanan dengan keberanian, meski ia tak membawa senjata berat. Joko, menebus kesalahannya, menyerang teliksandi dari belakang, memberikan keuntungan pada perlawanan. 

Namun, di tengah kekacauan, panah mengenai bahu Raden Kresna, membuatnya jatuh.

“Kresna!” teriak Dian, berlari menuju dia. Ia menarik Raden Kresna ke balik batu besar, sementara Pak Sastro memimpin serangan balik.

Dengan napas tersengal, Raden Kresna berbisik, “Dian, ambil daun-daun lontarku. Sebarkan ke seluruh kerajaan. Biar suaraku terus hidup.”

Dian menangis, tapi mengangguk. “Aku janji, Kresna.”

Pasukan kerajaan akhirnya mundur, kalah jumlah oleh semangat rakyat. Patih Darto terluka parah, dan teliksandi tercerai-berai. 

Raden Kresna, dengan luka yang memburuk, tersenyum lelet saat Dian membacakan syair terakhirnya di depan perlawanan.

"Jika aku jatuh, rakyat berdiri,
Darahku tinta, harapan abadi,
Nusantara Jaya akan bebas,
Dari tangan raja yang zalim!"

Raden Kresna menghembuskan napas terakhir di pangkuan Dian, tapi semangatnya terus hidup melalui daun-daun lontar yang tersebar, menabur benih revolusi di seluruh kerajaan.

Editor : Redaksi