5,12% Siapa Menikmati ?

Reporter : -
5,12% Siapa Menikmati ?
Hadi Prasetyo


Oleh: Hadi Prasetyo

Pengamat Sosial, Ekonomi dan Politik, Ahli Dibidang Perencanaan Kawasan

Baca Juga: Sidoarjo Jadi Kabupaten dengan SDM Terbaik di Jawa Timur


Surabaya, JatimUPdate.id : Hari-hari ini sedang ramai dibahas kontroversi hasil perhitungan BPS pada kwartal 2 (Q2) th 2025 dimana dinyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dan menjadi 5.12%, meningkat dari Q1 yang masih 4,87% (YoY).

Pada Q1 th 2025 faktor yang mempengaruhi antara lain konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4.89%, penurunan PMTB (Pembentukan Modal Tetap Brito) menurun, Net Ekspor melambat, pengeluaran pemerintah (simbol G, government spending menurut Keyness) menurun 1.38%.

Pada Q2 th 2025 secara mengejutkan angka pertumbuhan dalam 3 bulan berikutnya naik lumayan signifikan, yang menurut BPS karena eskpor tumbuh 10.67%, konsumsi rumah tangga naik ke 4.97%, investasi tumbuh 6.99%.

Kenaikan konsumsi rumah tangga ini menurut BPS karena faktor kenaikan konsumsi dimana pada Q2 ada even Hari Raya Idul Fitri dan beberapa kali ada ‘long week end‘ yang cukup panjang dengan pemberlakuan cuti bersama. Disamping itu ada insentif fiskal untuk meningkatkan konsumsi dan investasi seperti subsidi sektor tertentu.

Lembaga CELIOS (Center of Economic and Law Studies) pada 8 Agustus 2025 berkirinm surat ke United Nationas Statistical Commision-PBB, yang meminta PBB untuk peduli terhadap kemungkinan erosi integritas data, karena melihat kontroversi terhadap kondisi sektor ekonomi riil yang ada di masyarakat.

Dalam suratnya Celios menduga ada tekanan atau pengaruh dalam kompilasi data pada lembaga BPS (sebagai lembaga profesional dan independen, sebagaimana disepakati secara internasional sebagai ‘The Fundamental Principles of Official Statistics’ yang menjadi pedoman PBB.

Angka statistik ini sangat menentukan persepsi publik baik sipil maupun bisnis, karena dari situ orang bisa menentukan sikap ekonominya dalam berusaha (optimis, pesimis, wait and see dll). Maka kredibilitas hasil perhitungan BPS sangat penting untuk dijaga, bukan hanya rasionalitasnya tetapi juga ‘kebenarannya’.

Ada cerita silam di era Orba, Prof. Andi Hakim Nasution seorang Guru Besar Statistika dan Genetika Kuantitatif IPB (wafat pada tahun 2002), merupakan pengamat tajam yang mengkritisi angka pertumbuhan ekonomi >7% di era Soeharto, dan itu selalu diberikan pada kuliah statistik di IPB.

Banyak ‘kebohongan’ yang bisa dibuat ‘cantik’ dengan ‘memoles angka statistik’. Maka beliau orang pertama yang menghadirkan istilah populer: “diatas statistik ada dosa’.

Kembali pada soal kontroversi angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS untuk Q2 th 2025 sebesar 5.12% tetap mengandung polemik antara rasionalitas melawan ‘kebenarannya’.

Kebenaran bukan berarti ‘angka’ hanya sekedar ‘value kuantitatif’ tetapi angka yang bisa menjabak problem crucial dibaliknya yang lebih serius.

Dalam konsep Keyness yang menjadi prinsip pertumbuhan ekonomi disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Y= Konsumsi (C) + Investasi (I) + pengeluaran pemerintah (G) dan net eksport-import (Xm).

Artinya untuk melahirkan angka pertumbuhan ekonomi dengan sentuhan ‘interventif” seseorang bisa bermain-main dengan mendorong ‘titik-titik tertentu’ dari rumusan Keyness tersebut agar hasil (Y) bisa naik.

Maka kontroversi angka pertumbuhan yang hari-hari ini sedang debat panas, angka 5.12% yang dihadirkan BPS bisa jadi benar (dalam arti rasional), tetapi itu karena ada ‘intervensi luar biasa’ terhadap satu atau dua variabel rumus Keyness.

Jika dicermati dari penjelasan dibalik angka 5.12% pada Q2, menurut BPS karena eskpor tumbuh 10.67%. konsumsi rumah tangga naik ke 4.97%, investasi tumbuh 6.99%, hanya dalam waktu 3 bulan, dan bagi masyarakat umum, gak ada rasa sentuhannya sama sekali.

Pada variabel konsumsi cukup rasional, tetapi dengan catatan bahwa konsumsi periode Q2 karena Hari Raya dan banyaknya libur panjang, sama sekali ‘tidak mencerminkan’ penguatan kemampuan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Bahaya Stagnasi Sekuler

Mungkin saja event-event tersebut dilakukan ‘terpaksa’ dengan hutang atau kredit. Mumpung liburan; atau dari pada frustasi di rumah.

Jika dibandingkan dengan survey Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Q2 2025 rata-rata sebesar 118,3 (masih di atas ambang optimisme >100, tapi menurun dibanding Q1 2025 sebesar 122,1.

Tren bulanannya April 2025: 119,1, Mei 2025: 117,8, Juni 2025: 117,9. Ini menggambarkan penurunan konsisten sejak awal 2025, dan mengindikasi kan pelemahan optimisme rumah tangga.

Indeks Ekspektasi Penghasilan (Bagian dari IKK) sebesar 135,6 (pada Juni 2025), masih termasuk kategori optimis, tapi turun dari posisi Februari 2025 (141,2).
Jika angka-angka survey ini dihadapkan pada kehidupan masyarakat kelas menengah sampai bawah (coba saja ambil sampling dengan bertanya kepada siapapun pelaku ekonomi menengah bawah), hasilnya memang pesimis dan makin pesimis serta menurun.

Maka rasionalitas angka pertumbuhan ekonomi 5.12% terutama ‘dihajar melalui intervensi’ oleh Pemerintah terhadap investasi (misal penggelontoran kredit besar-besaran dan mengadakan eksport besar-besaran untuk sektor tertentu (yang paling mungkin pertambangan), karena indeks Purchasing Managers Index (PMI) masih terkontraksi di bawah point 50 dan makin menurun.

Ada ketidakselarasan dengan indikator kunci. Indeks Penjualan Riil (IPR) melemah di April-Mei 2025 meski rata-rata tahunan positif. PMI Manufaktur versi S&P Global <50 (kontraktif) selama 4 bulan terakhir (Mei-Agustus 2025).

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun konsisten sejak April–Juni 2025, indikasikan pesimisme rumah tangga.
Penjelasan potensial ketidaksesuaian data mungkin karena pertumbuhan didorong sektor ‘non-manufaktur’: konstruksi dan investasi infrastruktur (proyek strategis pemerintah), sektor Jasa dan Pariwisata (puncak musim liburan Q2, kunjungan wisman meningkat); ekspor komoditas (harga batubara/minyak sawit stabil di Q2 2025).

Catatan: data bea cukai menunjukkan ekspor elektronik/tekstil stagnan, tidak mendukung lompatan PDB.

Metodologi perhitungan BPS menggunakan data kuantitatif (lap. keuangan perusahaan, transaksi fiskal, neraca perdagangan) sedangkan indikator seperti IKK/IPR bersifat survei persepsi yang mungkin tak sepenuhnya merefleksikan aktivitas riil.

Baca Juga: Fundamental Ekonomi Sangat Solid, Kadin Prediksi PDRB Jatim 2026 Tumbuh 5,3%

Discrepancy ini wajar dalam statistik ekonomi, tetapi harus direspons transparan. Angka 5,12% mungkin benar jika didorong sektor non-manufaktur, tapi risiko overestimasi tetap ada. Kehati-hatian kebijakan moneter/fiskal diperlukan hingga data Q3 memberikan kejelasan faktual.

Situasi antara rasionalistik dan kebenaran, tetap menuntut kehati-hatian yang serius dalam pandangan publik. Karena kenyataannya kelompok ekonomi kelas menengah sudah drop jauh (minus 9 juta 2020-2024) tinggal sekitar 17-19% (bandingkan dengan negara tetangga).

Pada hal kelas menengah adalah kelompok penting yang memperkuat fundamental ekonomi.

Angka pertumbuhan 5.12% adalah ranah ekonomi makro yang harus diimbangi program (ekonomi) mikro agar langsung menyasar akar masalah kelas menengah.

Tanpa intervensi mikro yang tepat, pertumbuhan makro hanya dinikmati segelintir kelompok.

Maka pertumbuhan ekonomi 5.12% tetap dibayang-bayangi kerapuhan fundamental ekonomi yang serius.

Sudah saatnya Pemerintah secara terbuka dan jujur melihat kondisi riil masyarakat dengan lebih menyoroti situasi ekonomi mikro kelompok menengah dan besar yang hari-hari ini letih dan lesu.

Sektor riil itu jujur, mereka tidak bisa merekayasa angka statistik. Kalau mereka ambil keputusan: sebaiknya diam dulu dan tidur, dari pada kerugian makin besar. Lalu bagaimana? (red/roy)

Editor : Ibrahim