Asrilia Kurniati

SIDOARJO - Sosok di balik Bambang Haryo Soekartono (BHS) menjadi sorotan. Siapa dia? Adalah Asrilia Kurniati .Ya dia istri calon Bupati Sidoarjo nomor urut satu.

Lia sapaan akrab Asrilia Kurniati membeberkan kekagumannya terhadap  Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto hingga berlabuh ke Partai Gerindra seperti sang suami.

Berikut bincang-bincang dengan Lia di kediamannya, Sabtu (21/11/2020). Ia bicara banyak soal bayang-bayang black campaign menjelang coblosan Pilkada Sidoarjo pada 9 Desember 2020.

Apa kabar bu?

Alhamdulillah baik

Mengapa ibu terjun di politik?

Kalau  saya terjun di politik, ya gara-gara suami pastinya.  Merasa enjoy karena bisa bersosiali dengan masyarakat secara langsung

Politik seperti apa yang ibu lakukan?

Saya politiknya lebih ke sosialnya, jadi saya bukan mengejar kekuasaan tapi saya ke sosialnya. Aku dulu pernah ketua umum GOW Surabaya, pernah jadi sekertaris HKTI Jawa Timur. Dan sejak tahun 2013 sampek sekarang masih menjadi ketua umum Peace and Love Jawa Timur.

Ibu sejak kapan terjun di politik?

Kalau saya terjun di politik itu sejak pertama kali Pak Prabowo nyalon jadi presiden, 2014.

Saya sih sebenarnya ngerasa nggak terlalu aktif ya ngurusi politik. Karena sebenarnya kalau saya politik itu bukan untuk kekuasaan, karena menurut saya hanya untuk sosial saja.

Saya ini mengidolakan Pak Prabowo, yang saya dengernya dari TNI-TNI itu katanya beliau itu sangat mengayomi anak buahnya.

Dan di situ bapak (Prabowo) nyuruh nyaleg, akhirnya 2019 nyaleg dan lumayan lah pemula dapat 10.000 lebih dan tanpa money politik

Apakah ibu mendukung bapak menjadi Bupati Sidoarjo?

Ya kalau mendukung pastilah, karena di balik kesuksesan suami itu ada seorang istri

Aktifitas selain mendampingi bapak?

Ya kalau di luar ya arisan, terus sosial. Karena saya kan memang bidangnya sosial, pengajian

Sehari mendampingi bapak sampe berapa lokasi?

Kalau sehari paling banyak tujuh,  paling dikit tiga atau empat, udah

Adanya black campaign atau kampanye hitam nantinya bagaimana?

Black campaign itu bisa di pidana, kalau negative campaign bisa dilawan dengan argumen. Saya sangat yakin masyarakat Sidoarjo adalah masyarakat yang bermartabat, jika memang ada yang melakukan black campaign pasti sudah sangat paham konsekuensinya

(Dia diingatkan suaminya karena terlihat auratnya). Dan sekarang itu kalau saya mau keluar nggak pakai itu (hijab) nggak enak. Karena memang udah dari hati kan ya

Kalau suatu saat nanti menemukan bukti tentang pelaku black campaign  berencana membawa ke ranah hukum?

Aduh kalau saya sama bapak sih sebenarnya orangnya nggak pernah mau nyari masalah ya. Makanya bapak hanya punya satu akun sosmed yaitu IG (Instagram) karena memang harus punya minimal satu akun sosmed agar orang tahu kinerja dan apa saja yang sudah dilakukan oleh bapak selama ini untuk masyarakat

Tapi InsyaAllah orang yang melakukan black campaign dengan saya atau dengan bapak, semoga Allah akan mengampuni lah yaa

Jadi sama kayak saya ketika memutuskan berhijrah sudah benar-benar mematikan akun saya. Sudah benar-benar delete account dan sudah nggak bisa aktif lagi (di media sosial).

Pernah dapat tekanan saat di media sosial?

Hemm males lah yaa, kalau menanggapi dengan cara baik nanti malah terlihat salah ya.. Jadi pernah saya menanggapi dengan bahasa yang baik eh ternyata salah lagi juga.

Yaa kita kembalikan ke Allah aja lah. Kami turun ke rakyat, mendengar aspirasi rakyat dan keluh kesah rakyat. Yang mau black campaign yooo monggo ae. Mungkin wes karaktere

Jadi intinya kita jangan mengotori hati kita lah. Dan jangan menambahi penyakit hati ya, dan saya mau ngasih tahu ya Kalau ada pesta rakyat seperti ini jangan sampai kita mengotori hati kita sendiri, ataupun kita membuat penyakit di hati kita sendiri. Dan kalau kita mau argument, argument kerja aja. Ngapain personal yang harus diserang gitu loh Yaa nggak apa-apa sih kalau mau diserang, ya mungkin karena saya terlalu terkenal aja yaa mungkin.

Asli mana?

Saya Palembang-Sunda, Kalo orang NU pasti tau lah kakek saya siapa, Saya itu, kenapa orangnya nggak jaim nggak ini dan itu, karena saya itu orangnya sebenarnya pinginnya merakyat. Karena kalau saya jaim saya nggak akan pernah dekat dengan masyarakat

Besar dimana ibu?

Jakarta dan Palembang,

Lalu tinggal di Jawa Timur sejak kapan?

Tahun 2001, sejak menikah dengan bapak.

Wes bilangin ya kesemua, kan kalian sebagai media ya, media kan harus inspiratif, menyerap masukan dari masyarakat, kalian harus menjadi contoh yang baik kan ya.

Dan aku itu pingin media itu mengajari orang untuk bertutur kata yang baik, politik santun. Jangan sampai kita menjatuhkan orang lain apalagi sebenarnya paslonnya lo nggak ada apa-apa. Tapi pendukungnya itu lo malah yang ribut.

Dan pendukung saya (no 1) sebenarnya sudah ta wanti-wanti (diingatkan) ya, jangan tanggapin

Pernah dapat  tekanan?

Ya pernah memang di Facebook pernah, terus di media-media itu juga pernah

Bentuk support Ibu ke Bapak BHS?

Kalau sekarang sih sedang fokus ke bapak ya. Mendampingi bapak untuk konsentrasi ke pilkada, ini sangat penting ya.

Mungkin ibu mengincar suara perempuan?

Loh kalau massa perempuan banyak yang ke saya, kita kan merangkul Muslimat NU, saya itu tidak mau di Sidoarjo itu ada kesenjangan perbedaan antara NU, Muhammadiyah, Nasrani dan lain-lain karena saya selalu mengutamakan Bhinneka Tunggal Ika.

Karena apa, kalau kita mensekat-sekat itu kita tidak akan pernah maju. Jadi kita harus bersatu, bergandengan tangan untuk Sidoarjo yang lebih baik

Reporter: M. Niam

Berita Terkait