Amok: Setelah Semuanya Lelah dan Marah
Oleh Ken Bimo Sultoni
Dosen Universitas Negeri Surabaya
Peneliti Politik Keamanan Sygma Research and Consulting
Surabaya, JatimUPdate.id - Ada saat ketika kesabaran runtuh, ketika logika tak lagi mampu menahan derasnya gelombang emosi.
Amok lahir dari kelelahan kolektif, dari tubuh-tubuh yang terlalu lama diperas, dari jiwa-jiwa yang terlalu lama ditekan. Ia bukan sekadar luapan marah, melainkan ledakan panjang dari penantian yang tak kunjung menemukan jalan keluar.
Amok atau Mengamuk adalah bahasa terakhir ketika kata-kata kehilangan makna. Ia menjadi dentuman keras dari hati yang patah, dari rakyat yang ditinggalkan, dari manusia yang merasa diperlakukan lebih rendah dari sekadar angka-angka statistik.
Namun, amok tidak pernah datang sendirian. Ia kerap dibarengi dengan penjarahan, dengan kekacauan, dengan runtuhnya sekat-sekat norma yang biasanya menjaga keteraturan hidup.
Mengapa demikian? Karena kelelahan yang menumpuk itu akhirnya menjelma menjadi energi liar mencari celah untuk keluar, apa pun bentuknya. Bagi sebagian orang, menjarah bukan hanya tentang mengambil barang; ia adalah simbol dari perlawanan, sekaligus cara melampiaskan sakit hati atas ketidakadilan yang lama dipendam.
Amok adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam tubuh masyarakat.
Ia seperti api yang menyala bukan karena bara kecil semata, melainkan karena bahan bakar yang diam-diam dikumpulkan oleh kebijakan yang timpang, oleh janji-janji yang dikhianati, oleh struktur sosial yang kaku dan menindas.
Setelah semuanya lelah, amok menjadi jalan terakhir. Tetapi kita tidak boleh berhenti di sana. Sebab, di balik segala hiruk-pikuknya, amok adalah cermin yang menunjukkan kepada kita: ada luka yang belum sembuh, ada jeritan yang belum didengar, ada manusia yang masih diperlakukan seolah tak berarti.
Pertanyaannya, apakah kita akan terus membiarkan amok menjadi penutup setiap babak kelelahan? Ataukah kita berani belajar dari setiap dentumannya, agar masyarakat tak perlu lagi mencari keadilan lewat jalan yang penuh luka? (ken/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat