Idham Chalid: Ketua DPR yang Bersahaja

Reporter : -
Idham Chalid: Ketua DPR yang Bersahaja
Secara khusus Pemerintah RI menerbitkan uang pecahan Rp. 5.000,00 dengan gambar KH Idham Chalid untuk mengenang perjuangan pejuang bangsa, tokoh bangsa yang bersahaja itu.

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Di tengah sorotan publik terhadap gaya hidup mewah para pejabat, kisah KH. Idham Chalid—seorang mantan Ketua DPR RI yang hidup sederhana—menjadi refleksi dan inspirasi bagi kepemimpinan Indonesia masa kini.

Baca Juga: Gus Yahya: Ibu Adalah Sumber Doa dan Keikhlasan Tanpa Jeda

KH. Idham Chalid lahir pada 27 Agustus 1921 di Satui, Kalimantan Selatan. Ia dikenal sebagai ulama, politisi, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang mengabdi panjang bagi bangsa.

Semasa hidup, Idham Chalid menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR RI (1971–1977), dan Ketua MPR RI. Ia juga tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU terlama, memimpin selama 28 tahun sejak 1956 hingga 1984.

Meski menempati posisi puncak di pemerintahan dan organisasi, Idham Chalid dikenal menolak fasilitas negara untuk keluarga. Ia memilih hidup bersahaja, bahkan keluarganya tetap menggunakan transportasi umum seperti metromini untuk beraktivitas sehari-hari.

Anak-anaknya berwirausaha dan tidak terjun ke politik, sesuai pesan sang ayah agar keluarga hanya mengkonsumsi dari penghasilan yang halal.

Prinsip hidup sederhana ini dijalankan bukan sekadar sebagai pilihan pribadi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan etika kepemimpinan.

Idham Chalid menegaskan bahwa amanah jabatan bukanlah warisan kenyamanan bagi keluarga, melainkan tanggung jawab kepada masyarakat.

Setelah pensiun dari dunia politik, Idham Chalid tidak memilih jalan bisnis atau menikmati fasilitas mantan pejabat tinggi. Ia kembali ke dunia pendidikan dan keagamaan, memimpin pondok pesantren dan yayasan sosial seperti Darul Maarif di Jakarta Selatan serta Darul Qur'an di Cisarua, Bogor.

Ia juga aktif mendidik dan membina generasi muda, memperlihatkan dedikasi yang tulus hingga akhir hayatnya.

Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 di usia 88 tahun. Jasa-jasanya diakui negara dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 2011 melalui Keputusan Presiden Nomor 113/TK/Tahun 2011.

Wajahnya pun kini diabadikan pada uang kertas pecahan Rp5.000, sebagai simbol penghormatan atas pengabdian dan integritasnya.

Lebih dari sekadar penghargaan formal, warisan sejati Idham Chalid adalah keteladanan dalam kejujuran, amanah, dan kesederhanaan—nilai-nilai yang kini dirindukan masyarakat di tengah maraknya pemberitaan tentang korupsi dan penyalahgunaan wewenang di kalangan pejabat publik.

Kisah Idham Chalid menonjol di tengah situasi saat ini, di mana jabatan publik sering kali diasosiasikan dengan kemewahan dan fasilitas berlimpah.

Baca Juga: DPD Golkar Lamongan Apresiasi Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto dan Gus Dur

Sementara masyarakat menyaksikan banyak pejabat berlomba memperbesar tunjangan atau terjerat kasus korupsi, Idham Chalid justru menjadi figur yang membuktikan bahwa jabatan adalah ibadah, amanah dan sarana pengabdian, bukan kesempatan memperkaya diri.

Kisah hidup KH. Idham Chalid menjadi pengingat bahwa kekuasaan seharusnya dijalankan dengan tanggung jawab, etika, dan integritas.

Lebih dari satu dekade setelah kepergiannya, namanya tetap abadi sebagai simbol kepemimpinan yang bersih dan tulus. KH. Idham Chalid memilih jalann kesederhanaan untuk memimpin negara.

KH. Idham Chalid adalah sosok ulama dan politisi yang dikenal luas di Indonesia, terutama karena perannya yang besar dalam dunia politik dan keagamaan pasca-kemerdekaan.

Ia bukan hanya seorang pemimpin yang berpengaruh, tetapi juga dikenal karena kesederhanaannya dalam menjalankan kepemimpinan politik.

Kesederhanaan KH. Idham Chalid tercermin dari gaya kepemimpinannya yang luwes, mudah beradaptasi, dan cenderung menghindari konflik yang tidak perlu.

Ia memiliki insting politik yang tajam dan kemampuan membaca situasi dengan baik, sehingga mampu bertahan dalam berbagai perubahan pemerintahan tanpa kehilangan integritasnya. Kesederhanaan ini membuatnya dihormati dan menjadi teladan bagi banyak orang, berbeda dari kebanyakan pejabat yang mungkin lebih mementingkan kekuasaan atau materi .

Baca Juga: PBNU Turut Berduka, Gus Yahya Temui Langsung Pengasuh Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Selain itu, KH. Idham Chalid dikenal sebagai sosok yang jujur dan hidup sederhana, meskipun pernah menjabat sebagai Ketua DPR yang notabene posisi tinggi dalam pemerintahan.

Kisah hidupnya menunjukkan bahwa kekayaan materi bukanlah ukuran utama keberhasilan seorang pemimpin, melainkan kejujuran dan ketulusan dalam melayani rakyat.

Kisah hidupnya yang menginspirasi juga tercermin dalam penghormatan yang diberikan pemerintah, seperti pencantuman wajahnya pada uang kertas pecahan Rp5.000 sebagai simbol penghargaan atas jasa dan keteladanan hidupnya.

KH. Idham Chalid adalah contoh pemimpin politik yang mengedepankan kesederhanaan, kejujuran, dan ketulusan dalam berkhidmat kepada bangsa dan agama.

Gaya kepemimpinannya yang menghindari konflik dan mampu beradaptasi dengan situasi politik yang berubah-ubah menjadikannya sosok yang dihormati dan dikenang sebagai teladan kepemimpinan yang bermartabat dan sederhana.

Tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber oleh Redaksi JatimUPdate.id. (dek/mmt)

Editor : Miftahul Rachman