Catatan Mas AAS

Melu Garise Gusti

oleh : -
Melu Garise Gusti

SAYA tidak mengerti apakah tulisan yang ingin saya buat siang ini. Berkaitan dengan sebuah pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa kepada saya: perihal intelektual organik. Tapi sepertinya alam membawakan sebuah jawaban langsung kepadaku siang ini. Perihal jawaban itu, dan diberi contohnya langsung!

Ditengah sedang santai duduk di singgasana kursi tua di rumah. Aku sedang ngelaras dengarkan lagu-lagunya dari sebuah grup lejen dunia Westlife sambil jemari ini melakukan perjalanan ke dunia maya. Sidak status para netizen utamanya status yang dibuat kolega, baik di FB juga Ig.

Aku melihat seorang intelektual juga merangkap sang birokrat disebuah kampus ternama di Malang. Ia sedang temani petani, tepatnya sedang mengajari para petani mengolah lahan pertanian: cara memupuk, sambil menyiangi tanaman, si birokrat ini tidak saja berdiri petentang-petenteng! Ia juga turun, cokoran, lepas alas kaki, turun langsung ke lahan pertanian, gabung dengan para petani!

"Apa mungkin yang dilakukan oleh birokrat kampus itu, adalah contoh bagaimana definisi intelektual organik dipraktikkan di dalam kehidupan nyata." Aku tak mau untuk menilainya, kalau hanya coba dicocokkan tindakannya dengan sebuah definisi semata. Tentu seorang intelektual organik, tidak sekadar ia sadar untuk berpikir menyelesaikan semua persoalan di lingkungannya utamanya terkait dengan coreĀ keilmuan yang dimilikinya. Lebih dari itu ia kudu melakukannya secara berkelanjutan dan berkesinambungan, tidak sekadar pencitraan sesaat saja, untuk dapat tepuk tangan, atau malah untuk kumpulkan kumĀ yang akan ia peroleh karena ia seorang dosen! Sekali lagi bukan itu tugas esensi seorang intelektual organik. kalau hanya itu saja, mungkin kata kang Antonio Gramsci, koncoku, seorang filosof soko negeri pizza, nyebute intelektual tradisional ae!

Melu garise Gusti bisa jadi adalah peran seorang intelektual organik yang bisa dilakukan seorang pendidik. Saat melebur menjadi bagian dari masyarakat. Ia membantu dengan sependek pengetahuan yang ia miliki, pahami, dan kuasai, untuk selesaikan sebuah persoalan.

Dan dengan skenarionya yang selalu misteri. Bisa jadi manusia-manusia yang memiliki potensi sebagai seorang intelektual organik akan diberi PR oleh Sang Pemilik Semesta, untuk ia selesaikan. Dan akhirnya bumi ini akan semakin indah saja. Dan di atas semua itu. Bisa jadi surga mewujud di bumi adalah sebuah keniscayaan itu terjadi di negeri bumi pertiwi ini. Karena semakin banyak anak bangsa di negeri ini yang mewakafkan hidupnya untuk menjadi seorang intelektual organik, yang membumi, turun langsung ikut mengatasi persoalan yang dialami di negeri ini.

Tuhan, semoga Engkau selalu membimbing dan meridhoi kami semua, untuk berbakti kepada Ibu Pertiwi ini, seturut ilmu yang kami peroleh, saat dahulu kami pernah dididik di sekolah oleh guru-guru kami!

Bismillah, manut garise Gusti ae, dijamin selamat, amin yra