Fawait–Joko: Ujian di Bumi Pandhalungan

Reporter : -
Fawait–Joko: Ujian di Bumi Pandhalungan
Imam Bukhari Pengamat Sosial Politik, alumni Fisip Universitas Jember


Oleh : Imam Bukhari

Pengamat Sosial Politik, alumni Jurusan Administrasi Negara, Fisip Universitas Jember, Bermukim di Jember

Baca Juga: Pemkab Jember Targetkan 20000 Beasiswa, Salah Satunya Mahasiswa Unipar

Jember, JatimUPdate.id - Konflik antara Bupati Jember Fawait dan Wakil Bupati Joko Santoso semakin menjadi sorotan publik.

Awalnya, pasangan ini didukung harapan besar dengan visi pembangunan inklusif dan jargon Jember Baru Jember Maju. Namun, kenyataan menunjukkan retakan di tubuh kepemimpinan yang mestinya menjadi teladan.

Disharmoni antara bupati dan wakil bupati bukan sekadar persoalan personal. Dampaknya langsung dirasakan rakyat. Ketika dua pucuk pimpinan tidak berjalan seirama, kebijakan daerah kehilangan arah.

Birokrasi berpotensi terpecah, dan kepercayaan masyarakat terkikis. Publik tentu jenuh menyaksikan drama politik, sementara problem ancaman banjir, jalan yang sudah mulai rusak, penataan kaki 5, pengangguran, hingga stagnasi ekonomi belum tertangani dengan serius.

Baca Juga: Gerakan 1200 Nakes, Bupati Jember Atasi Stunting dan Kematian Ibu-Bayi

Sejarah politik di banyak daerah menunjukkan bahwa retakan elite hanya bisa disembuhkan dengan kerendahan hati.

Ego pribadi harus dikesampingkan demi kepentingan yang lebih besar, yakni rakyat. Kekuasaan bukan panggung perebutan pengaruh, melainkan amanah.

Bupati dan wakil bupati Jember masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

Baca Juga: In Memoriam Profesor Bustami Rahman (3): Kegelisahan Akan Peradaban

Jalan keluarnya jelas: duduk bersama, membangun komunikasi yang jujur, serta menyepakati mekanisme kerja yang saling menghargai. Tanpa itu, kepemimpinan mereka akan terus dirongrong konflik, dan rakyat akan semakin kehilangan kepercayaan.

Rakyat Jember tidak menuntut kemewahan, hanya kepastian bahwa pemerintah daerah bekerja untuk mereka. Jika Fawait dan Joko Santoso mampu menyingkirkan ego dan kembali ke jalur kebersamaan, mereka bukan hanya menyelamatkan pemerintahan, tetapi juga menyelamatkan masa depan Jember.

Ingatlah, sejarah selalu lebih keras mengadili pemimpin yang gagal menunaikan amanahnya. (ries/roy)

Editor : Ibrahim