Prof Tirta : Kalangan Pers Mesti Terlibat Aktif Dalam Membumikan Program Investasi
Malang, JatimUPdate.id - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) melakukan aktivitas di Kota Malang dengan sejumlah stakeholder investasi di wilayah itu.
Melalui Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal menggelar kegiatan Penyusunan Bahan Posisi Perjanjian Investasi Internasional bertajuk “Diplomasi Investasi dalam Peningkatan Realisasi Investasi” di Grand Mercure Malang Mirama, Kamis (16/10).
Baca Juga: Pelatihan Jaya Melati 1: Mencetak Kader Hizbul Wathan Berkualitas
Acara diawali dengan keynote speech oleh Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang menyampaikan fondasi diplomasi investasi sebagai bagian dari strategi nasional untuk menciptakan kesepakatan internasional yang selaras dengan kepentingan pembangunan dan peningkatan realisasi investasi.
Dalam hal ini, Pemerintah berkomitmen meningkatkan upaya diplomasi investasi melalui kerja sama dengan berbagai negara secara bilateral maupun multilateral.
Salah satunya, penyelesaian perjanjian Indonesia – Canada CEPA yang juga memuat investment chapter yang baru saja ditandatangani pada akhir September lalu.
Perjanjian tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan arus investasi dari Kanada ke Indonesia.
Kegiatan ini diisi dengan diskusi panel yang dipandu oleh moderator, Direktur Kerja Sama Bilateral, Dr. Rini Setiani Sutrisno Modouw, dan menghadirkan berbagai narasumber lintas sektor, yaitu perwakilan Kementerian Luar Negeri, BPJS Ketenagakerjaan, PT PLN (Persero), serta akademisi dari Universitas Brawijaya.
Panel membahas isu-isu strategis, mulai dari perumusan bahan posisi dalam perjanjian investasi internasional dalam rangka peningkatan realisasi investasi, kontribusi jaminan sosial bagi tenaga kerja asing dan domestik, potensi investasi di sektor energi baru terbarukan, serta peran perjanjian investasi internasional di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam diskusi tersebut, aspek jaminan sosial ketenagakerjaan menjadi salah satu sorotan penting karena berperan strategis dalam memperkuat iklim investasi nasional.
Perlindungan komprehensif bagi tenaga kerja dinilai mampu menurunkan risiko usaha, meningkatkan produktivitas, serta menjadi indikator penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar global dalam penilaian investasi.
Menurut drg. Faizal Rachman, MH.Kes., AAK., CRGP., Deputi Kepesertaan Program Khusus dan Keagenan BPJS Ketenagakerjaan, “Investasi yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi perlindungan sosial yang kuat.
Jaminan sosial bukan hanya pelindung bagi pekerja, tetapi juga instrumen mitigasi risiko dan jaminan keberlangsungan investasi melalui tenaga kerja yang produktif dan bermartabat.”
Selain aspek ketenagakerjaan, sektor ketenalistrikan khususnya Energi Baru Terbarukan (EBT), merupakan salah satu sektor yang diangkat dalam diskusi. Executive Vice President Aneka Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Daniel Karmel Fernando Tampubolon, S.T., M.E.M. memaparkan berbagai potensi dan peluang investasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia.
Pada kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan adendum atas Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dengan PT. PLN (Persero) tentang Penyediaan Tenaga Listrik dan Percepatan Investasi di Sektor Ketenagalistrikan.
Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan investasi internasional sekaligus memastikan bahwa perjanjian yang dihasilkan mampu mendorong realisasi investasi yang berkualitas dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan ini, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga mitra yang aktif membentuk arsitektur investasi global yang adil dan saling menguntungkan.
Baca Juga: Konsistensi Latihan Ekstrakurikuler Antar Tim Voli SMPN 11 Malang Raih Prestasi
Penyusunan bahan posisi ini juga berperan penting dalam memberikan arah kebijakan diplomasi investasi Indonesia.
Proses ini menjadi wadah untuk mendapatkan masukan, umpan balik secara langsung dari para pemangku kepentingan tidak hanya di pusat tapi juga di daerah.
Acara ini dihadiri oleh Walikota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, pimpinan perguruan tinggi dan para mahasiswa, pelaku usaha dan asosiasi serta perwakilan media.
Acara dihadiri tidak kurang dari 100 orang peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Malang dan sekitarnya seperti Universitas Brawijaya, Binus University, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Ma Chung, Universitas Islam Malang, dan lain-lain.
Kehadiran para mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi muda sangat penting dan relevan mengingat mereka mendapat pemahaman yang jelas akan pentingnya perjanjian investasi internasional.
Di akhir acara, Prof. Tirta menekankan bahwa “Diplomasi investasi harus menjadi instrumen yang memastikan setiap kesepakatan internasional mampu diterjemahkan menjadi realisasi investasi nyata di lapangan.”
Tirta menambahkan bahwa penyusunan bahan posisi yang mengakomodir berbagai kepentingan stakeholder memperkuat daya tawar Indonesia dalam setiap forum internasional dan memberikan kepastian hukum serta perlindungan bagi investor.
Diskusi Dengan Insan Pers
Baca Juga: 104 Ribu Jamaah Hadiri Puncak Harlah NU di Malang
Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM untuk terus memperkuat diplomasi investasi Indonesia dan memastikan bahwa kebijakan investasi yang disusun memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta percepatan transformasi ekonomi nasional.
Setelah kegiatan, Prof Tirta bersama Nur Iswan, melakukan pertemuan dengan kalangan insan pers guna diskusi seputar bagaimana program Kementrian Investasi dan Hilirisasi/BKPM bisa terpublikasi ke publik.
"Diplomasi Investasi Sebagai Tonggak Menuju Indonesia Emas 2045. Investasi adalah bagian penting dari Diplomasi Ekonomi. Perlu pelibatan sejumlah pihak termasuk peran aktif insan pers guna menyampaikan program dan termasuk capaian sektor perijinan dan investasi juga kerjasama agar publik semakin tahu dan memahami termasuk ikut terlibat partisipasi mendukung," kata Prof. Tirta.
Dari kalangan jurnalis, ada masukan agar pelibatan media dan pers untuk membantu mempublikasi seputar program investasi.
"Kementrian Investasi dan Hilirisasi/BKPM perlu menggandeng insan pers, media termasuk melakukan kerjasama saling dukung program, agar insan media memahami seputar investasi serta membantu mempublikasi program dan keberhasilan investasi. InsyaAllah dengan pelibatan pers, target dan capaian Kementrian Investasi dan Hilirisasi/BKPM bisa bertahap semakin sukses menavestasi Asta Cita," kata Indra, salah satu jurnalis senior di Malang Raya.
Prof Tirta menyampaikan apresiasi kepada para jurnalis Malang Raya yang berkenan hadir di acara Kementrian Investas dan Hilirisasi /BKPM.
"Kami sangat bangga dengan pertumbuhan ekonomi Kota Malang 6,3 persen di atas rata-rata nasional. Saya yakin itu adalah juga kontribusi dan investasi yang sangat signifikan.
Untuk itu kami berharap agar kegiatan seperti ini nanti akan kita tidak lanjuti dengan adanya kerjasama-kerjasama yang lebih konkret, eksekusi di level lapangan, khususnya dengan DPM-PTSP. Publikasi kegiatan oleh kalangan pers juga jadi hal urgen agar publik tahu tentang keberhasilan ini," ungkap. (fiq/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat