BPBD Surabaya Pastikan Semburan Air di Rungkut Tengah Aman, ITS Sebut Gejala Alam

Reporter : -
BPBD Surabaya Pastikan Semburan Air di Rungkut Tengah Aman, ITS Sebut Gejala Alam
Pemkot Surabaya saat meninjau lokasi semburan Sungai Kebon Agung

Surabaya,JatimUPdate.id – Fenomena semburan air disertai bau gas yang muncul di aliran Sungai Kebon Agung, Rungkut Tengah, Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya, sejak Kamis (16/10), dipastikan aman.

Kepala BPBD Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, semburan pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 13.40 WIB. Setelah menerima laporan, tim BPBD langsung menuju lokasi dan berkoordinasi dengan PDAM serta Perusahaan Gas Negara (PGN).

Baca Juga: Raperda Air Limbah, Dosen ITS Singgung Sanksi dan Proyek Triliunan Jakarta

“Begitu kami tiba, kami langsung mengajak teman-teman PDAM untuk memastikan apakah ada kebocoran pipa air, dan juga teman-teman dari PGN, karena kawasan Rungkut ini dilalui oleh jaringan gas,” ujar Irvan, Jumat (17/10).

Sekitar pukul 15.00 WIB, tim PDAM memastikan tidak ada pipa yang melintas di jalur semburan. 

PGN juga menegaskan tidak ditemukan kebocoran jaringan gas bumi di sekitar lokasi. 

“Hasil pemetaan menunjukkan tidak ada saluran gas maupun listrik di sekitar titik semburan,” lanjutnya.

Malam harinya, tim gabungan dari BPBD, PGN, dan PDAM melakukan penggalian untuk memastikan sumber semburan. 

Beberapa jalur gas sempat dimatikan sementara untuk menguji apakah semburan berhenti, namun fenomena itu kembali muncul.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi datang langsung ke lokasi dan memerintahkan agar BPBD berkoordinasi dengan tim ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

“Paginya, sekitar pukul 09.00, tim ITS datang membawa alat georadar untuk memetakan kondisi bawah tanah dan membuat perimeter aman di sekitar semburan,” terang Irvan.

Selain ITS dan PGN, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur juga ikut melakukan pemeriksaan kandungan gas. 

“Hasil sementara dari PGN, ITS, dan ESDM menyatakan kondisinya aman. Tidak ditemukan gas berbahaya maupun tekanan tinggi yang dapat membahayakan warga,” tegasnya.

Dosen Teknik Geofisika ITS, Wien Lestari menambahkan, fenomena tersebut merupakan gejala alam yang muncul secara periodik. 

Baca Juga: Raperda Air Limbah, Dosen ITS Kritik Ketergantungan Tangki Septik

Ia memastikan semburan itu bukan akibat kebocoran jaringan utilitas.

“Dari laporan awal kami sempat menduga ada pipa gas yang bocor. Namun hasil uji menunjukkan kandungannya adalah belerang dan gas alami, bukan gas buatan dari jaringan PGN,” kata Wien 

Menurutnya, gas alami itu kemungkinan berasal dari aktivitas vulkanik purba yang masih tersimpan di lapisan tanah wilayah Surabaya Timur. 

“Secara geologis, wilayah Surabaya tersusun atas lapisan lempung dan endapan tebal yang berpotensi menyimpan gas serta hidrokarbon,” jelasnya.

Ia menambahkan, tim ITS akan melakukan studi lanjutan untuk memastikan sumber dan karakteristik semburan tersebut. 

Beberapa tahapan akan dilakukan seperti survei geofisika permukaan, pemetaan utilitas bawah tanah, hingga pengujian laboratorium terhadap sampel air.

“Secara visual, tidak ada tanda-tanda tumpahan minyak di permukaan air. Dari warnanya, ini murni gas alami, bukan oil spill,” tegas Wien.

Baca Juga: Disorot Presiden AMI Tantang Pemkot Surabaya Klarifikasi Status Rumah Radio Bung Tomo

Ia memastikan fenomena itu tidak berbahaya karena terjadi di area terbuka. 

“Selama aktivitas berada di ruang outdoor, risikonya kecil. Yang perlu diwaspadai hanya jika semburan muncul di area permukiman padat,” ujarnya.

Wien memperkirakan semburan akan berhenti dengan sendirinya ketika tekanan gas di bawah tanah berkurang. 

“Biasanya setelah tekanan gasnya turun, semburan akan mereda sendiri. Kami hanya memastikan tidak ada kebocoran pipa di sekitar lokasi,” pungkasnya.

Irvan menegaskan, BPBD bersama Dinas PU Bina Marga dan tim teknis lainnya akan melanjutkan pengecekan hingga hasil penelitian ITS dan PGN keluar. 

“Kami tunggu hasil lengkapnya. Setelah itu baru kami simpulkan penyebab pastinya,” tutup Irvan. (*Roy)

Editor : Miftahul Rachman