Menari di Atas Stigma: Kisah Sanggar Omah Ndhuwur yang Mengubah Wajah Mbangunrejo

Reporter : -
Menari di Atas Stigma: Kisah Sanggar Omah Ndhuwur yang Mengubah Wajah Mbangunrejo
Sanggar Seni Omah Dhuwur

 

Oleh : Achmad Muzakky Cholily

Baca Juga: Mematahkan Mitos, Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Pergerakan 

Aktivis Budaya – Antropolog

Surabaya, JatimUPdate.id - Selama puluhan tahun, menyebut nama Mbangunrejo di Surabaya seringkali hanya memancing satu asosiasi tunggal yang kelam: kawasan “lampu merah”.

Citra ini begitu kuat melekat, menjadi sebuah label sosial yang sulit dilepaskan dan membuat wilayah ini seolah berada di sisi lain kota—dihindari dan dipandang sebelah mata.

Stigma ini bukan hanya sekadar reputasi; ia adalah beban sejarah yang ditanggung oleh setiap warga, dari orang tua hingga anak-anak yang lahir di sana.

Namun, di tengah bayang-bayang masa lalu itu, kini lahir sebuah energi baru yang penuh warna dan kebanggaan. Dari gang-gang yang dulu menyimpan cerita kelam, sekarang terdengar alunan gamelan dan gelak tawa anak-anak yang menari dengan penuh percaya diri.

Di jantung perubahan luar biasa ini, ada sebuah nama yang menjadi motor penggeraknya: Sanggar Seni Omah Ndhuwur. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah komunitas merebut kembali narasi mereka, mengubah stigma menjadi panggung kehormatan melalui kekuatan seni.

Beban Stigma: Hidup dengan "Identitas yang Ternoda"

Setelah lokalisasi di Dupak Bangunrejo resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya pada 2014, masalah ternyata tak langsung selesai. Ada "warisan tak kasat mata" yang terus membebani warganya, terutama generasi muda.

Dalam kacamata antropologi, ini adalah fenomena "identitas yang ternoda" (spoiled identity), di mana sebuah kelompok sosial terpaksa menyandang citra negatif yang diberikan oleh masyarakat luar, terlepas dari kenyataan individu di dalamnya.

Abdoel Semute, yang akrab disapa Kang Semute, melihat langsung bagaimana anak-anak di lingkungannya menjadi korban dari label sosial ini. "Mereka kerap dipandang rendah, dicap sebagai 'anak nakal, copet, maling,' hanya karena alamat tempat tinggal mereka," ungkapnya. Stigma ini menjadi beban psikologis yang menghalangi mereka untuk maju dan bermimpi.

Dampak dari stigma ini jauh lebih dalam dari sekadar ejekan sesaat. Perlahan tapi pasti, cap negatif itu meresap ke dalam benak anak-anak, menggerogoti rasa percaya diri mereka. Mereka menjadi pemalu, takut bergaul dengan teman dari luar kampung, bahkan mulai percaya bahwa masa depan mereka memang suram seperti yang dikatakan orang.

Di sinilah letak masalah yang paling mendesak: menyelamatkan generasi muda dari penjara mental yang diciptakan oleh masa lalu lingkungan mereka.

Baca Juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi

Lahirnya Identitas Baru: Tari Remo sebagai Senjata Simbolik

Gerah dengan kondisi itu, Kang Semute tak tinggal diam. Ia mendirikan Sanggar Seni Omah Ndhuwur sebagai sebuah gerakan perlawanan budaya "dari bawah ke atas" untuk melawan stigma. Idenya sederhana namun sangat cerdas: memberi anak-anak Mbangunrejo sebuah identitas baru yang bisa mereka banggakan, sebuah identitas yang mampu menandingi dan menghapus identitas lama yang negatif.

Pilihannya jatuh pada Tari Remo, tarian ikonik kebanggaan Surabaya. Keputusan ini adalah sebuah langkah reklamasi simbolik. "Logikanya, dengan menguasai simbol budaya yang paling dihormati di kota mereka, anak-anak ini bisa merebut kembali narasi tentang diri mereka," jelas Kang Semute.

Tari Remo, dengan gerakannya yang gagah dan dinamis, adalah antitesis dari citra Mbangunrejo yang pasif dan kelam. Dengan menarikan Remo, anak-anak itu secara simbolis menyerap kekuatan, kehormatan, dan legitimasi budaya yang melekat pada tarian tersebut.

Maka, identitas mereka pun bergeser. Mereka bukan lagi "anak dari eks-lokalisasi," melainkan "penari Remo dari Surabaya".

Di sanggar yang namanya berarti "Rumah Atas"—sebuah cita-cita untuk mengangkat derajat—mereka tak hanya belajar Tari Remo, melainkan juga Tari Madura, Aksara Jawa, hingga menggambar dan bercerita di "kelas kecil". Sanggar menjadi ruang aman untuk proses internalisasi identitas baru ini.

Kehadiran sanggar dengan cepat mengubah atmosfer kampung. Suara gamelan yang mengalun dari Omah Ndhuwur seolah menjadi detak jantung baru bagi Mbangunrejo Ini adalah proses place-making (penciptaan ruang), di mana lanskap auditori (suara) sebuah tempat diubah secara sadar untuk menggantikan kesunyian canggung pasca-penutupan dengan irama kehidupan dan kebudayaan. Para orang tua, yang awalnya mungkin ragu, kini menjadi pendukung terdepan.

Baca Juga: Menteri Desa Dijadwalkan Hadiri Acara Silaturahmi Alim Ulama dan Rakernas di Ponpes Amanatul Ummah Surabaya

Mereka menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak mereka yang tadinya murung kini pulang dengan tawa dan kebanggaan. Sanggar ini bukan lagi hanya milik Kang Semute, tapi telah menjadi milik bersama, sebuah rumah harapan yang memperkuat modal sosial seluruh warga.

Panggung Deklarasi: Ritual Tahunan di Mbangunrejo Art Festival

Setiap tahun, semangat baru ini meledak dalam sebuah perayaan akbar bernama Mbangunrejo Art Festival, yang tahun ini telah memasuki tahun ke-12. Dari perspektif antropologi, festival ini berfungsi sebagai sebuah ritual komunitas yang sangat penting. Ini bukan sekadar pentas seni, melainkan sebuah deklarasi publik tahunan atas identitas baru mereka yang telah direbut kembali.

Bayangkan, 120 penari cilik membawakan Tari Remo secara massal. Pemandangan ini adalah manifestasi fisik dari kekuatan kolektif dan identitas baru mereka. Ada juga kirab budaya meriah dan prosesi membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 100 meter.

Prosesi ini secara simbolis menegaskan kembali bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, melawan isolasi yang disebabkan oleh stigma. Acara yang diakhiri dengan doa dan makan bersama berfungsi sebagai "ruwatan" atau ritual pembersihan kampung, baik secara spiritual maupun sosial.

Melalui festival yang terus berjalan dari tahun ke tahun ini, Mbangunrejo dengan lantang meneriakkan kepada dunia bahwa mereka telah, dan akan terus, berubah. Ritual tahunan ini memperkuat ikatan komunitas, menanamkan kebanggaan pada generasi muda, dan secara efektif "mencuci" citra lama di mata publik.

Kini, Sanggar Omah Ndhuwur tidak hanya berhasil membantu anak-anak "menari di atas stigma" masa lalu, tetapi juga menanamkan mimpi baru. Dengan adanya wacana untuk menjadi "Kampung Wisata Arek Suroboyo" dan keinginan untuk bersaing di berbagai lomba, mereka membuktikan bahwa seni dan budaya memiliki kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan luka kolektif, membangun kembali martabat, dan merajut masa depan yang jauh lebih cerah. (im/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat