Seni Berkhianat
Oleh: Hadi Prasetyo
Baca Juga: Tarian Panggung Republik Usang
Pengamat Sosial, Budaya, Politik dan Ekonomi
Surabaya, JatimUPdate.id - Dalam khazanah persaingan kekuasaan, konsep ‘musuh dalam selimut’ menggambar kan betapa intimnya pengkhianatan dalam dunia politik.
Fenomena migrasi massal relawan politik di Indonesia mengikuti logika alam yang tak terbantahkan: di mana ada kekuasaan, di sana terbentang jalan menuju pusatnya.
Koreografi Politik yang MempesonaTransformasi politik akhir-akhir ini layak diapresiasi sebagai sebuah pertunjukan.
Kelompok -kelompok yang dahulu mengobarkan semangat dukungan tak bersyarat, kini dengan lincahnya melakukan lompatan keyakinan tanpa ragu.
Ini bukan sekadar perubahan haluan, melainkan sebuah masterpiece koreografi politik yang patut diacungi jempol.
Akademi Pengkhianatan
Mereka ibarat lulusan terbaik dari sekolah "Filsafat Ketidaksetiaan" dengan spesialisasi dalam "Strategi Bertahan Hidup ala Bunglon" - seni bertahan dalam segala kondisi.
Keahlian ini telah menjelma menjadi kompetensi profesional yang justru dihargai dalam sistem politik modern. Yang mencengangkan adalah efisiensi sistem ini.
Seseorang dapat menjadi relawan kubu A di siang hari, sambil merencanakan strategi untuk kubu B di malam hari.
Ini melampaui sekadar pembelotan biasa, melainkan sebuah sistem "loyalitas berjenjang" yang canggih dan terstruktur.
Antara Kuda Troya dan Perubahan Hati
Pertanyaan mendasar yang mengemuka, ketika kelompok relawan berbondong-bondong menuju kubu pemenang, apakah ini murni perubahan hati ataukah strategi terselubung sebagai kuda Troya?
Bayangkan skenario epik dimana ini adalah strategi jangka panjang untuk menghancurkan dari dalam, seperti plot cerita silat dimana murid berpura-pura belajar untuk kemudian mengalahkan gurunya.
Baca Juga: Titi Kala Mangsa
Dalam konteks satire, kita bisa membayangkan bagaimana pusat kekuasaan nantinya akan dipenuhi oleh mantan relawan yang saling menyapa dengan kode-kode rahasia.
Mungkin ada semacam bahasa isyarat khusus: "Kamu tim kuda Troya atau betulan pindah?" diungkapkan dengan kedipan mata tertentu.
Demokrasi tidak kebal terhadap loyalitas ular.
Namun, bisa juga ini memang murni transformasi keyakinan yang kebetulan seirama dengan perubahan arah angin kekuasaan. Mungkin kita tidak boleh berprasangka, bisa saja ini murni perubahan hati nurani yang kebetulan terjadi bersamaan dengan angin kekuasaan yang berubah arah. Seperti daun yang tertiup angin, mereka hanya mengikuti alam demokrasi.
Demokrasi dan Erosi Kepercayaan Dalam alam demokrasi yang sehat, pergantian loyalitas adalah hal wajar. Namun ketika fenomena ini menjadi sistemik dan terinstitusionalisasi, yang terjadi adalah erosi kepercayaan yang membahayakan fondasi demokrasi itu sendiri.
Mungkin kita perlu menghargai transparansi dalam situasi tidak menentu. Setidaknya, mereka tidak menyembunyikan niat untuk berpindah haluan.
Dalam dunia politik yang penuh intrik, kejujuran dalam berubah loyalitas bisa dianggap sebagai bentuk transparansi tertinggi. Refleksi atas Realitas Sosial
Fenomena ini mungkin mencerminkan lapangan kerja baru yang lahir dari demokrasi yang belum matang, dalam masyarakat yang masih bergulat dengan kemiskinan dan pengangguran.
Baca Juga: Seruan Ditengah Banjir Kebohongan
Terkadang, makin lantang suara dukungan dan makin terampil memain kan opini, makin besar pula imbalan yang diperoleh.
Ini mungkin merupakan cerminan zaman dimana dekadensi moral tenggelam dalam popularitas semu.
Kita semua, dalam kadar tertentu, belajar dari bunglon - makhluk yang mengubah warna bukan karena tak berprinsip, tapi karena memahami seni adaptasi dengan lingkungan.
Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung, apakah semua ini adalah bentuk pragmatisme politik yang tak terelakkan, ataukah gejala dari sistem yang memerlukan koreksi fundamental?
Jawabannya mungkin hanya bisa dipecahkan oleh waktu, atau mungkin justru tidak perlu dipecahkan, karena inilah wajah demokrasi kontemporer kita di tingkat elit yang sebenarnya.
Dan ditingkat grassroot, vote pada setiap pemilu yang patuh terhadap sekedar amplop dan bansos makin mentradisi. Makin diharapkan ditengah beratnya bertahan hidup sehari-hari.
Mencerminkan raut wajah demokrasi yang sayu. Semoga ini hanya bayang kegalauan yang segera berlalu. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat