Sewindu GEPAL: Hadir untuk Bergerak, Tidak untuk Dilupakan

Reporter : -
Sewindu GEPAL: Hadir untuk Bergerak, Tidak untuk Dilupakan
Peringatan Sewindu GEPAL (Gerakan Penolak Lupa)

Gresik, JatimUPdate.id - 10 November 2025 — Hujan deras yang mengguyur Kota Gresik pada Senin malam tidak menyurutkan semangat masyarakat dan lintas organisasi untuk berkumpul di Kedai Pinatih. Mereka hadir dalam peringatan Sewindu GEPAL (Gerakan Penolak Lupa), sebuah komunitas yang selama delapan tahun terakhir konsisten menjadi ruang perlawanan terhadap apatisme sejarah dan sikap diam terhadap isu-isu kemanusiaan.

Dengan mengusung tema “Sewindu Hadir untuk Bergerak, Tidak untuk Dilupakan”, acara ini menjadi refleksi kolektif tentang arti perjuangan, kebangsaan, dan pentingnya merawat ingatan sejarah di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap keberadaan GEPAL. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting untuk membuka ruang dialog antara masyarakat dan pembuat kebijakan.

“Melalui acara ini saya berharap bisa mendapatkan banyak masukan dalam pembuatan kebijakan atau program selanjutnya,” ujar Syahrul Munir, di hadapan peserta yang memenuhi area Kedai Pinatih meski hujan belum reda sepenuhnya.

 

Acara ini juga menghadirkan Abdul Ghofur, penulis buku Pancasila Nalar Bangsa, sebagai narasumber utama. Dalam diskusi yang berlangsung hangat, Ghofur menyoroti perlunya pemaknaan ulang terhadap nilai-nilai Pancasila agar tidak sekadar menjadi jargon.

“Bahwa doktrin Pancasila seharusnya ditekankan pada para pemangku kebijakan,” tegasnya, menekankan bahwa perubahan sosial seharusnya dimulai dari keteladanan mereka yang memegang amanah publik.

 

Tak hanya diskusi, sewindu GEPAL juga diramaikan dengan penampilan seni dan performance art dari komunitas lokal seperti Jelly Choco, Malaikat Hawaii, dan Bumbung Ireng. Melalui seni, mereka mengekspresikan semangat perlawanan, kritik sosial, sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar berdirinya GEPAL.

Bagi para peserta, GEPAL bukan sekadar komunitas, melainkan gerakan moral yang terus menghidupkan kesadaran publik terhadap pentingnya sejarah dan keadilan sosial. Melalui ruang-ruang diskusi, pembacaan karya, hingga aksi kebudayaan, GEPAL berusaha meneguhkan kembali makna perjuangan dalam konteks kekinian.

Sewindu bukan akhir, melainkan titik jeda untuk kembali menegaskan komitmen. Bahwa melawan lupa bukan hanya tugas masa lalu, tapi kewajiban generasi hari ini. Seperti pesan tema yang digaungkan malam itu: “Sewindu Hadir untuk Bergerak, Tidak untuk Dilupakan.” (*)

Editor : Redaksi