Menyalakan Api Agripreneur Muda: Refleksi Karakter dari Lantai 5 FP UWKS

Reporter : -
Menyalakan Api Agripreneur Muda: Refleksi Karakter dari Lantai 5 FP UWKS
Diskusi dalam FGD di Lantai 5 Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya kemarin, Selasa (18/11/2025) menghadirkan satu kesadaran besar: pertanian masa depan tidak hanya ditopang oleh teknologi, tetapi oleh karakter manusia yang menggerakkannya

Oleh : Dr Agus Andi Subroto

Penulis Buku Urip Iku Urup, Dekan FHB ITB Yadika Pasuruan, sekaligus Ketua DPD AFEBSI Jatim.

Baca Juga: Ketahanan Keluarga, PKK Tejoasri Dapat Sentuhan FISIP UWKS

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Diskusi dalam FGD di Lantai 5 Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya kemarin, Selasa (18/11/2025) menghadirkan satu kesadaran besar: pertanian masa depan tidak hanya ditopang oleh teknologi, tetapi oleh karakter manusia yang menggerakkannya.

Para mahasiswa dan peserta yang hadir menunjukkan antusiasme kuat terhadap urgensi membangun entrepreneur muda pertanian yang tidak sekadar kompeten, tetapi juga tangguh secara kepribadian.

Dalam forum tersebut, penulis kembali menegaskan filosofi yang saya tuangkan dalam buku Urip Iku Urup: bahwa hidup harus menjadi cahaya. Bagi agripreneur muda, cahaya itu berbentuk kemanfaatan, integritas, keberanian bereksperimen, dan kemampuan menciptakan solusi bagi masyarakat. Karakter bukan sekadar ornamen, melainkan mesin penggerak di balik setiap inovasi pertanian.

Melalui perspektif teori manajemen, pembentukan karakter entrepreneur sebenarnya memiliki fondasi ilmiah yang jelas.

McClelland’s Theory of Need for Achievement (n-Ach) menjelaskan bahwa individu dengan dorongan pencapaian tinggi cenderung mengambil tantangan, menetapkan standar kerja, dan mengejar kesuksesan dengan ketekunan.

Dalam sektor agribisnis yang penuh ketidakpastian, kualitas ini menjadi pembeda utama antara pelaku usaha yang bertahan dan yang tumbang.

Selain itu, pengembangan karakter dalam pendidikan pertanian juga erat dengan konsep Growth Mindset yang diperkenalkan Carol Dweck.

Seorang agripreneur dengan growth mindset tidak melihat gagal panen, kegagalan riset, atau fluktuasi pasar sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Mindset ini mendorong mahasiswa pertanian untuk terus berinovasi, mencoba metode baru, dan mentransformasikan tantangan menjadi peluang.

Menguatkan karakter entrepreneur muda pertanian juga membutuhkan pemahaman tentang Human Capital Theory, yang menekankan pentingnya modal manusia dalam penciptaan nilai. Di era modernisasi pertanian—dari urban farming hingga digital agribusiness—investasi terbesar bukan lagi pada alat, melainkan pada kualitas SDM: kreativitas, jejaring, kolaborasi, dan kecakapan berpikir kritis.

Baca Juga: KOPRI PB PMII Gandeng Wamensesneg Launching Agri Next Center

FGD kemarin, Selasa (18/11/2025) memperlihatkan bagaimana mahasiswa merespon gagasan kolaboratif ini, menunjukkan bahwa mereka siap bergerak sebagai komunitas agripreneur yang saling memperkuat.

Dari dialog yang berkembang, terlihat jelas bahwa entrepreneurship pertanian bukanlah pilihan minor, melainkan ruang strategis yang melahirkan pemimpin ekonomi baru.

Pendekatan character building menuntut mahasiswa tidak hanya memahami aspek teknis produksi, tetapi juga kemampuan memimpin diri sendiri, mengambil risiko terukur, dan membangun hubungan kerja yang sehat.

Sebagai dosen, penulis, sekaligus pembicara dalam topik entrepreneurship, leadership, dan manajemen, saya melihat bahwa forum seperti FGD di FP UWKS bukan hanya ruang diskusi, tetapi laboratorium pembentukan karakter.

Di dalamnya, mahasiswa tumbuh sebagai individu yang mampu menimbang data, menyusun strategi, berdialog, dan bertindak berdasarkan nilai. Inilah kompetensi inti seorang agripreneur modern yang akan berkompetisi di tingkat nasional maupun global.

Closing Statement

Membangun entrepreneur muda pertanian adalah proses panjang yang bertumpu pada teori, nilai, dan pengalaman praktis. Need for Achievement memberi energi untuk bergerak maju; Growth Mindset memberi alasan untuk terus belajar; Human Capital memberi arah bahwa manusia adalah investasi terpenting.

Baca Juga: SMSI Jatim-DKPP Sumenep Bangun Sinergitas Wujudkan Swasembada dan Ketahanan Pangan

Dan semuanya bermuara pada filosofi Urip Iku Urup—hidup yang memberi cahaya dan manfaat bagi sesama.

Dari Lantai 5 FP UWKS kemarin, saya melihat nyala kecil itu tumbuh: generasi agripreneur muda yang siap menjadi lokomotif perubahan. Tugas kita adalah memastikan bahwa nyala itu tumbuh menjadi api besar yang menerangi masa depan pertanian Indonesia.

“Karakter adalah energi. Ketika diarahkan dengan benar, ia mampu mengubah tanah biasa menjadi ladang masa depan.”

Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama.

Salam hangat dan hormat. (roy/yh)

 

Editor : Yuris. T. Hidayat