Menumbuhkan Petani Muda – Menanam Harapan di Tanah yang Menua

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Nugraha Hadi Kusuma
Nugraha Hadi Kusuma

 

Oleh  Nugraha Hadi Kusuma

Pengasuh Rumah Kader Malang

 

Malang, JatimUPdate.id - Indonesia lumbung pangan, tapi petaninya ubanan. Data BPS 2023: 61% petani Indonesia berusia >45 tahun, hanya 12% di bawah 35 tahun.

Rata-rata umur petani 52 tahun. Lahan makin sempit, cangkul makin berat, anak muda lebih pilih jadi _affiliator_ Shopee daripada ke sawah. Kalau tidak ada yang ditanam hari ini, 20 tahun lagi kita makan apa?

Menumbuhkan petani muda bukan sekadar program bagi-bagi traktor. Ini soal mengubah cara kita memandang tanah, pangan, dan masa depan.

1. Kenapa Anak Muda Enggan ke Sawah? Bongkar Dulu Akarnya

Jangan salahkan anak muda. Salahkan sistem yang bikin sawah tidak seksi.

1. Stigma “Petani = Miskin”
   Di buku SD, petani digambar caping, baju lusuh, kerbau. Di sinetron, anak petani pasti minder. Di masyarakat, “kawin sama petani” = turun kasta. Padahal di Belanda, _farmer_ = pengusaha. Kita wariskan mental kolonial: kerja tanah itu _ina_.
2. Kalkulator Tidak Masuk  
   Modal tanam padi 1 ha = Rp15jt. Panen 5 ton x Rp6.000 = Rp30jt. Untung Rp15jt/4 bulan = Rp3,7jt/bulan. Kalah sama gaji admin olshop UMR. Belum lagi gagal panen, harga jatuh, tengkulak main. High risk, low return. Anak muda pinter matematika.
3. Lahan & Akses
   Rata-rata kepemilikan lahan petani Jawa cuma 0,3 ha. Mana cukup buat hidup layak. KUR susah, butuh agunan. Teknologi mahal. Sementara startup dapat pendanaan miliaran cuma modal slide deck.
4. Gengsi Sosial  
   Lulusan SMK Pertanian malu bilang petani. Di Instagram, yang diposting kerja di _co-working space_, bukan di _growing space_. Kita krisis _role model_.

2. Islam & Jawa: Petani Itu Jalan Langit

Sebelum bicara insentif, kembalikan dulu martabat petani. Islam dan Jawa sudah kasih pondasi:

1. Hadis: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan burung, manusia, atau hewan, melainkan itu jadi sedekah.” HR. Bukhari. Petani = profesi yang pahalanya jalan terus, _passive income_ akhirat.
2. Jawa: Sedulur sikep di pati ajarkan bumi iku ibu. Pari = pari marang Gusti. Nandur = ibadah. Sunan Kalijaga pakai metafor tandur di Lir-Ilir: “Cah angon penekna blimbing kuwi”. Blimbing = rukun Islam. Petani = pendakwah.
3. Ki Hadjar Dewantara: “Tani iku backbone-nya bangsa.” Hardiknas lahir dari rahim pertanian. Tanpa petani, sekolah bubar karena lapar.

Jadi menumbuhkan petani muda = dakwah ekologis.

3. Resep Menanam Petani Muda: Jangan Pakai Pupuk Lama

A. Ubah Narasi: Dari “Petani” ke “Agripreneur”
1. Branding: Stop gambar petani miskin. Tampilkan young farmer pakai drone, pegang iPad di greenhouse. Di Jepang ada farmer idol. Di Indonesia harus ada Andi Datar – TikTok Farmer 2jt followers.
2. Kurikulum: SMK Pertanian jangan cuma ajari macul. Ajari digital marketing, smart farming, export. Lulusan harus bisa jual melon ke Singapura dari Magelang.

B. Ubah Kalkulator: Bikin Sawah Untung
1. Korporasi Petani: 0,3 ha tidak layak. Tapi 100 orang x 0,3 ha = 30 ha. Koperasi closed loop: bibit, pupuk, offtaker, semua dijamin. Di Kulonprogo, petani milenial cabai untung Rp80jt/4 bulan karena korporasi.
2. Hilirisasi di Desa: Jangan jual gabah, jual beras packaging. Jangan jual cabai, jual bon cabe. Nilai tambah 300% dinikmati petani, bukan pabrik.
3. Insentif Tanah: Tanah bengkok, tanah kas desa, lahan tidur BUMN – kasih ke kelompok tani muda HGU 35 tahun. Syarat: tidak boleh dijual. Di Klaten, 20 pemuda dapat 15 ha eks PTPN, sekarang ekspor edamame.

C. Ubah Teknologi: Cangkul ke Cloud
1. Smart Farming Murah: Sensor tanah Rp200rb, drone sewa Rp100rb/ha. Kementan subsidi bukan traktor besar, tapi IoT kit. Anak muda mau kalau ada gadget-nya.
2. Marketplace Langsung: Potong tengkulak pakai platform. Petani Sleman jual ke hotel di Bali via aplikasi, margin naik 40%. Ini bahasa anak muda: cut the middleman.
3. Carbon Farming: Sawah bisa jual kredit karbon. 1 ha padi organik = 4 ton CO2/tahun = Rp2jt. Sawah jadi green business.

D. Ubah Ekosistem: Negara Ikut Macul
1. Dana Desa untuk Agri-startup: 20�na Desa wajib untuk inkubasi petani muda. Bukan buat gapura lagi.
2. Regenerasi Berbayar: Insentif Rp2jt/bulan untuk sarjana yang mau jadi petani 2 tahun. Anggap internship negara. Jepang sudah lakukan, namanya Young Farmer Grant.
3. Bank Tanah Khusus Milenial: Tebus tanah yang dijual petani tua, sewakan murah ke petani muda. Putus rantai konversi sawah jadi perumahan.

4. Belajar dari yang Sudah Tumbuh

1. Pak Tani TV – Lampung: Mantan driver ojol, sekarang punya 2 ha melon greenhouse, omzet 1M/tahun. Konten YouTube-nya bikin 5000 anak muda ikut nanam.
2. Petani Milenial Jabar: Program Ridwan Kamil cetak 5.000 petani muda. Kuncinya: dikasih lahan + offtaker + branding. Gagal panen diganti.
3. Pesantren Tani Darul Fallah Bogor: Santri tidak cuma ngaji, tapi nanam jagung. Lulus bawa kitab & bibit. Ini Semar abad 21: kyai yang ngajari microgreen.

5. Penutup: Menanam Itu Menanam Bangsa

Menumbuhkan petani muda bukan program Kementan. Ini kerja kebudayaan. 

Kalau kita tetap hina lumpur, 2045 Indonesia Emas akan makan impor. Kalau kita muliakan lumpur, 2045 anak cucu kita makan dari keringat sendiri.

Islam bilang khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia = paling manfaat. Dan tidak ada yang lebih manfaat dari orang yang bikin orang lain kenyang.

Jawa bilang sapa nandur bakal ngunduh. Hari ini kita nandur petani muda. 20 tahun lagi kita unduh kedaulatan.

Jadi jangan tanya “gimana cara nyuruh anak muda jadi petani”. Tanya: “gimana caranya jadi petani bikin anak muda kaya, keren, dan masuk surga”.

Kalau itu terjadi, tanpa disuruh pun mereka akan lari ke sawah. Bawa cangkul, bawa laptop, bawa doa.