"Drama Korea Ijazah Palsu: Siapa Sebenarnya Oppa Besar di Balik Layar?"
Oleh : widodo, ph.d
pengamat keruwetan sosial
Baca Juga: Puluhan Ijazah Siswa Tak Mampu Dibebaskan Achmad Hidayat di Bulan Bung Karno
Surabaya, JatimUPdate.id - Dalam semesta politik Indonesia yang makin mirip drama Korea minus aktor bermuka glowing dan soundtrack melankolis kasus tuduhan ijazah palsu Jokowi sudah naik kelas dari drama menjadi makjang.
Lengkap dengan plot twist, tokoh misterius, sampai cameo tak terduga. Bahkan penonton setia drakor pun mungkin geleng-geleng, “Lah ini konfliknya nggak selesai-selesai, kok kayak The World of the Married?”
Episode 1: Serangan Balik Kaum Alkaline
Gerombolan yang Roy cs bentuk ini energinya kayak baterai alkaline super long-lasting. Dari “open statement” ke mana-mana, menggeruduk UGM kayak rombongan study tour tanpa izin, kemudian bergerak ke rumah sang mantan di Solo, lalu ke desa tempat Jokowi KKN (yang entah kenapa selalu diperlakukan sekelas TKP kriminal), terus cetak buku Jokowi’s White Paper yang dijual sampai Australia drama ini sudah lebih global daripada Crash Landing On You.
Tujuannya apa? Publik masih menebak-nebak. Ada yang bilang mau “meluruskan sejarah”. Ada yang bilang mau “menghadirkan kebenaran”. Ada yang nyeletuk sambil ngopi, “Kayaknya sih mau 2029-an.”
Dan seperti pepatah satir minggu ini: “Air muka dibalas air cucian beras.”
Indah, jenaka, dan tetap menyisakan rasa getir di tenggorokan.
Episode 2: Orang Besar Oppa Misterius Itu Ada?
Jokowi sendiri pernah bilang: “Ada orang besar di balik tuduhan itu.”
Plot twist! Tetapi Roy menolak keras. Dengan gaya sok chaebol, ia bilang tidak mungkin ada yang menyogok dirinya karena “dari lahir sudah kaya.” Ini kalau masuk drama Korea, dialognya pasti disertai angin berhembus pelan dan kilatan lens flare.
Tifa menambah bumbu gosip: bahwa ada seorang “Mr. X” dari Amerika yang ikut membiayai gerakan-gerakan ini. Tidak disebut nama, tapi publik langsung heboh, “Wah ini pasti cameo penting!”
Lalu Rismon muncul membawa episode baru: tuduhan ijazah palsu ini, katanya, untuk memutus jalan Gibran dan keluarga Jokowi menuju Pilpres 2029. Nah, ini sudah kayak makjang kelas berat intrik perebutan tahta keluarga.
Lampu menyala. Kamera zoom in. Penonton menahan napas.
Episode 3: Cameo-Cameo yang Kok Jadi Penting
Tiba-tiba Roy sowan ke SBY di Cikeas, sambil membawa buku Jokowi’s White Paper, apakah ini special delivery, cod, atau testimoni pelanggan setia? Publik bingung. Narasi mulai melebar, seperti episode filler yang sebenarnya tidak penting tapi bikin penasaran.
Lalu datang lagi Deny Indrayana, sang “pelarian” yang tiba-tiba merapat ke tim hukum Roy cs. Penonton makin bingung, “Lah ini kok makin ramai cast-nya?”
Belum cukup, muncul Beny K Harman memuji Hakim MK Asrul Sani yang menunjukkan ijazahnya dengan elegan dan tanpa menyebut nama siapa-siapa, tapi menyisakan aroma sindiran yang pekat. Komentarnya seolah ingin bilang, “Begini loh cara elegan, bukan yang itu.”
Oppa? Bukan. Tapi jelas karakter pendukung penting.
Dan jangan lupa cameo pamungkas: AHY.
Dengan gaya melodrama, ia bercerita soal kudeta internal oleh Jenderal Moeldoko. “Saya bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan,” katanya.
Wah, kalau dialog begini keluar di drakor, pasti rating naik.
Tiba-tiba semua penonton berbisik, “Ini nih… ini ada benang merahnya…”
Baca Juga: SAPMA PP Jatim Minta Sekolah Hentikan Penahanan Ijazah, Nilai Tunggakan Capai Rp8 Juta
Episode 4: Layarkaca Politik Mulai Terbuka
Kalau disusun seperti storyboard, maka polanya kira-kira begini:
1. Ada tuduhan masif tanpa jeda ibarat hujan season finale.
2. Ada tokoh-tokoh berpengaruh yang ikut meramaikan, padahal tak diminta.
3. Ada narasi 2029 yang tiba-tiba nongol di tengah drama.
4. Ada gestur-gestur politik yang seolah tidak saling berhubungan, tapi kalau digarisin pakai spidol merah… hmmm.
Bukan berarti semuanya konspirasi. Tapi jelas, aromanya bukan aroma kacang goreng.
Lebih mirip aroma “operasi politik dingin” yang biasanya hanya muncul dalam drama Korea tentang perebutan kekuasaan keluarga konglomerat.
Public pun mulai bertanya-tanya:
Apakah benar ada Oppa Besar yang selama ini cuma menonton dari balik layar?
Atau drama ini justru lahir dari banyak sutradara, banyak pemain, dan banyak agenda yang saling bersilangan?
Kita tak bisa menyimpulkan buru-buru. Fakta harus tetap fakta. Klaim harus tetap diuji. Tapi tanda-tandanya muncul seperti hilal lebaran, jelas meski tak perlu teleskop.
Baca Juga: Komisi D Soroti Anggaran Creative Hub, Minta Prioritaskan Penebusan Ijazah
Episode 5: Menuju Final atau Plot Twist Baru?
Kalau ini benar drama Korea, harusnya episode ke-16 sudah berakhir. Tapi ini Indonesia drama politik kita seasonal, bukan miniseri.
Akan ada episode baru, tokoh baru, dan mungkin “flashback episode” yang memusingkan.
Akhirnya, publik hanya bisa menonton sambil komentar:
“Kalau begini, siapa lagi yang jadi tokoh utamanya? Siapa sutradaranya? Siapa penulis skenarionya?”
Kami hanya bisa berkata:
Naskah ini sedang berjalan. Dan pemainnya terlalu banyak untuk disebut satu per satu.
Tapi satu hal pasti:
Dalam drama politik Indonesia, tidak ada peran kecil.
Yang kecil pun bisa mendadak jadi besar, yang besar bisa pura-pura tidak ikut main.
Dan kita semua, penonton setia drakor politik Nusantara ini, tinggal menunggu:
Episode selanjutnya, plot twist apa lagi?
Sampai di situ dulu, eomma-eomma. Pegang cemilan, tarik selimut, drama belum tamat.
catatan tangan kanan
wiedmust-071225 (red)
Editor : Redaksi