KUA-PPAS Naik Rp 200 M, Difokuskan untuk Apa Saja? Berikut Penjelasan Pimpinan DPRD Surabaya

oleh : -
KUA-PPAS Naik Rp 200 M, Difokuskan untuk Apa Saja? Berikut Penjelasan Pimpinan DPRD Surabaya
KUA-PPAS APBD Perubahan Surabaya

Jatimupdate.id - KUA PPAS APBD Perubahan Surabaya tahun anggaran 2022 naik sebesar 200 miliar. Pimpinan DPRD AH Thony menjelaskan, anggaran tersebut akan digunakan dalam banyak hal.

"Di antaranya penerangan jalan umum (PJU). Sebab banyak dibeberapa tempat belum tersentuh penerangan." kata AH Thony di ruang kerjanya.

Dikatakan, penerangan diharapkan bisa meningkatkan gairah kerja pada sektor perusahaan yang ada di linkungan masyarakat, dengan alokasi anggaran sekitar 50 miliar.

"Harapan kita dapat menjadikan kebutuhan masyarakat yang kemarin daerahnya gelap bisa di cover. jumlahnya Kalau enggak salah itu sudah tercatat 34.948.50.000." ungkap legislator Partai Gerindra tersebut.

Kemudian, anggaran perubahan juga dialokasikan menyelesaikan genangan, banjir, banjir rob yang sempat menerjang Surabaya. Serta penambahan anggaran pembangunan jalan, jembatan dan saluran

"Itu menyerap lumayan tinggi sekitar 50 M, harapan kita untuk ke depan banjir dan lainnya bisa turun lebih cepat." tegasnya.

Sementara angka yang cukup signifikan penggunaan anggaran untuk pembelian peralatan radioterapi dan alat kesehatan. Dijelaskan, alokasi dana sebesar 179.304.71.186 untuk mengcover kebutuhan di rumah sakit.

"Kebutuhan beberapa alat yang harus kita cukupi. Dengan menghitung kebutuhan dan peralatan dengan harga yang sekarang. Yakni ada satu kebutuhan sekunder 17 M, dan kita sudah alokasikan." beber Thony

"Sehingga fokus kita dengan peningkatan Rp 200 M itu, lebih banyak terserap kepada penerangan. Mengatasi banjir dan kesehatan." tambahnya.

Dongkrak Spirit

Sementara, untuk membangkitkan spirit masyarakat yang sempat terdampak Covid-19. Dan menimbulkan rasa cemas dan khawatir. Anggaran juga dialokasikan untuk menyusun ensiklopedia, yang lebih bersifat pedoman budaya di Surabaya.

"Ini lebih pada upaya riset pengembangan, mengatasi persoalan masyarakat yang sekarang ini.  kecenderungannya mau usaha apa? Setelah serangan pandemi." ucap Thony

Menurutnya, pasca serangan pandemi Covid-19, warga banyak trauma dalam mengembangkan usaha. Karena mengalami kegagalan dan modalnya ludes konsumsi dan lainnya. Sehingga menjadi pukulan psikis yang luar biasa.

"Nah untuk membangkitkan itu, pendekatan kebudayaan akhirnya menjadi sebuah pendekatan yang kita gunakan." ungkap Thony.

Kendati begitu, sebelum dilaksanakan perlu kajian potensi yang penting dimaksimalkan untuk membangkitkan spirit masyarakat.

"Agar mereka tergerak memaksimalkan energinya untuk kemajuan dirinya dan kota pahlawan." papar Thony

Campur Aduk Data Kemiskinan dan Dampak covid

Soal penanganan MBR, Thony menjabarkan, sebetulnya selama ini ada salah kaprah tentang hal itu. Karena ada dua data yang  dicampur adukan jadi satu. Pertama data kemiskinan, yang kedua data masalah atau dampak Covid-19.

"Kemarin sudah dipilah secara rinci, tetapi dijadikan satu, mereka masuk dalam kelompok besar dinamakan MBR karena penghasilan rendah." tutur Thony

Terhadap usaha ini, tambahnya, data tersebut diserahkan kepada RT/RW dengan parameternya tidak cukup.  Sehingga ketika data dimasukkan ada warga tak terdata MBR. Dan sudah dilakukan pembenahan atau pemutakhiran data.

"Kemarin dilakukan melalui proses survei ulang, akhirnya kan terjadi pengurangan dari satu juta empat ratusan jadi sebesar 9 00-an." kata Thony. 

Bagi Thony penurunan ini cukup signifikan. Apalagi ditambah ada pengurangan tenaga outsourcing. Namun pemangkasan ini disebut bukan target. Akan tetapi perlu ditinjau keakuratan atau validnya data MBR.

"Kalau nanti betul-betul valid dalam waktu dekat. Kita masih setuju untuk diberikan  intervensi berupa pemberian bantuan-bantuan." imbuh Thony.

Tetapi dalam proses recovery spirit kerja masyarakat. Pihaknya mendorong mereka bangkit, sebab saat ini sudah bisa bergerak untuk berusaha kembali. Maka Thony meminta Disnaker, Perekonomian lebih agresif mendorong masyarakat pula, untuk berinisiasi, berusaha lagi. Kemudian dinas terkait memfasilitasi, supaya mereka punya nyali untuk melakukan gerakan di bidang ekonomi.

"Sehingga beban APBD Kota Surabaya lebih ringan, dan sejumlah sektor yang selama ini ditinggalkan, seperti infrastruktur dan lainnya bisa disentuh kembali. Dan masyarakat supaya mereka bangkit." urai AH Thony.

Antara DAK dan Anggaran Pendidikan

Thony menjelaskan, dalam KUA PPAS ada pengurangan alokasi anggaran pendidikan, karena menyesuaikan dengan kebijakan pemerintah pusat, yakni dana alokasi khusus (DAK).

"Ini tidak bisa kita hindari karena menyangkut kebijakan pusat, dan kita tidak bermaksud mengurangi anggaran pendidikan." ujar Thony.

DAK sambung Thony, dikucurkan berdasarkan data di daerah. Sedangkan pengurangan alokasi dana pendidikan sudah melalui pertimbangan.

"Sebetulnya kalau kita melihat pada  pengurangan sektor itu. Ada pesan pemerintah kurang begitu care dengan pendidikan, seolah kurang perhatiannya." tutur Thony

Namun, ketika melihat dukungan pemerintah dalam bentuk BOS dan sebagainya, bagi dia tidak ada masalah. Yang terpenting alokasi APBD Kota Surabaya, bisa bertambah untuk pemberian beasiswa kepada siswa SMA sederajat yang masuk kategori kelompok MBR.

"Ketika mereka (MBR)  untuk makan saja berat. Apalagi ditambah sekolah, maka beban sekolah yang diringankan, mereka masih di bantu. Dengan demikian, kita berharap kehidupan mereka tidak stagnan dalam hal sosial dan pendidikan. " ucap Thony.

Seragam Sekolah MBR

Thony mengungkapkan, seragam sekolah siswa MBR sudah dialokasikan anggarannya. Namun ia mengimbau secara teknis Komisi perlu membahas secara detail, karena anggaran itu, sudah dialokasikan ke APBD Murni 2022.

"Pelaksanaanya sudah dilakukan, tetapi untuk saat ini  masih ada beberapa siswa yang mengaku belum mendapatkannya." jelas Thony.

Sehingga tegas Thony, pihaknya masih akan terus menelisik, seperti apa sistem produksi, distribusinya sehingga siswa belum sepenuhnya mendapatkan seragam.

"Ini tinggal berapa hari (distribusi seragam) sekolah. Maka yang belum mendapatkan kita perlu pertanyakan, kita evaluasi kembali sistem pengadaan daripada bantuan seragam siswa MBR." demikian ketus Thony. (Roy)