Isu Nenek Elina Jadi Bola Panas, Madas Duga Sidak Armuji Demi Popularitas Politik

Reporter : -
Isu Nenek Elina Jadi Bola Panas, Madas Duga Sidak Armuji Demi Popularitas Politik
Bung Taufik, dok istimewa

Surabaya,JatimUPdate.id - Ketua Madura Asli Sedarah (Madas), Mohammad Taufik atau yang akrab dipanggil Bung Taufik buka suara kembali terkait viralnya kasus dugaan persekusi nenek Elina usai disidak Wakil Wali Kota Surabaya Armuji.

Bung Taufik menduga sidak tersebut untuk meningkatkan popularitas Armuji untuk kepentingan politk mencalonkan walikota pada Pilwali mendatang.

Baca Juga: Aroma 2029 di Surabaya: Armuji, Kandang Banteng, dan Manuver Dini Kekuasaan

"Kami menduga ada agenda-agenda politik, apakah dia ingin viral, kemudian dia seolah-olah ke Surabaya satu, apakah seperti itu?" tutur Bung Taufik, Sabtu (3/12).

Bung Taufik menyebut agenda politik Ketua DPC PDIP kota Surabaya tersebut berbuntut kecaman kepada Madas hingga digeneralisasi rasialisme 

Sayangnya kata Bung Taufik kegaduhan dibiarkan menggelinding tanpa ada upaya untuk menyelesaikannya.

"Ini agenda-agenda politik yang kita duga sangat kuat di situ. Membuat gaduh tidak bisa menyelesaikannya, ini kan keberatan buat kita kalau seperti ini," papar Bung Taufik.

Ia menekankan, Armuji mengambil langkah bijak sebelum sidak, melakukan komunikasi juga kepada semua pihak yang dianggap terlibat.

Hal ini, lanjut Bung Taufik agar Armuji dapat menyerap informasi lebih banyak tak hanya dari "pembisik" yang salah. 

Sehingga tambah Bung Taufik ke depannya tak mudah dimanfaatkan oknum berkepentingan.

"(Jangan) membuat gaduh, dia sebagai pejabat wakil wali kota Surabaya, namun dia tidak mengkonfirmasi, tidak meverifikasi informasi tersebut, ini kan membahayakan kepada publik." tegas dia.

"Justru kami menduga dia sebagai biangkerok dari semua ini." tambah dia.

Bung Taufik juga tidak menyalahkan dukungan netizen kepada Armuji. 

Sebab, menurut dia netizen tidak memandang secara utuh akar persoalan tersebut.

"Oke netizen mendukung dia, karena netizen tidak tahu, karena hasil agenda politiknya atau framing dia, kemudian netizen seolah-olah mendukung dia." urai Mohammad Taufik.

Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, menyebut meruncingnya kasus tersebut hingga di-framing rasisme tidak lepas ucapan Armuji yang menyebut keterlibatan oknum ormas Madas.

Baca Juga: Wabup Sidoarjo Sidak SDN Jatikalang, Temukan Bangunan Sekolah Tak Layak dan Berbahaya

"Konten Pak Armuji yang menyebut atribut Madas dalam konteks premanisme, menurut saya memang bisa jadi bagian dari salah satu hal yang mungkin membuat masalah ini agak lebih luas," tutur Bimo.

Meskipun kasus tersebut telah di-framing rasisme, Bimo meyakini tidak akan meledak menjadi perang antar suku.

Sebab kata Bimo, konten Armuji tidak menyentuh substansi akar masalah konflik.

"Akan tetapi (kasus ini) tidak serta-merta berkembang menjadi konflik besar seperti perang suku atau apapun, secara teoritis tidak. Konten memang mungkin bisa menyebabkan pemicu akan tetapi bukan akar konfliknya." terang Bimo.

Menurut Bimo, konten Ketua DPC PDIP Surabaya itu cuma memicu reaksi spontan karena disampaikan oleh pejabat publik dan diviralkan di media sosial.

"Itu ya mungkin bisa dipahami sebagai efek framing, dan mungkin generalisasi identitas, bukan sebagai bukti identitas, bukan sebagai bukti adanya permusuhan antar kelompok yang mengakar," demikian Bimo.

Pimpinan DPRD Surabaya, Arif Fathoni mendorong warga tak mudah terprovokasi informasi di media sosial terkait kasus nenek Elina.

Baca Juga: Perseteruan Wawali Surabaya Vs Madas Berujung Damai, Armuji Minta Maaf

Fathoni juga meminta publik tidak terjebak framing rasialis, karena indikasi kepentingan penguasaan lahan parkir di toko modern atau minimarket.

Pasalnya papar Fathoni informasi di media sosial berseliweran sangat cepat tanpa sela.

"Kita harus menjadi warga negara yang tidak gampang termakan oleh distruksi informasi di media sosial yang berkembang begitu cepat tanpa ada celah." beber Fathoni.

Ia berharap semua tokoh masyarakat, agama, elit politik menjaga nilai-nilai keindonesiaan.

Dari sudut pandangnya merawat nilai-nilai keindonesiaan itu tidak mudah mengeluarkan pernyataan yang menantik alarm kegaduhan.

"Nilai-nilai keindonesiaan harus kita jaga," sergah legislator Partai Golkar itu.

"Tugas kita sebagai generasi penerus adalah tetap menjaga nilai-nilai persatuan itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari." papar Fathoni. (Roy)

Editor : Yuris. T. Hidayat