Ujian Kepercayaan Rupiah
Oleh : Salihudin
Alumni Fak. Ekonomi Universitas Tadulako dan Pengurus ISEI Cabang Palu
Palu, JatimUPdate.id - Angka Rp17.000 per dolar AS terasa seperti alarm di ruang tamu, bunyinya keras, membuat orang menoleh, lalu bertanya “ini normal nggak sih?”
Dalam beberapa hari terakhir, tekanan itu memang terlihat di berbagai dashboard. Kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan USD kurs jual Rp17.019,67 (kurs beli Rp16.850,33), yang menjelaskan mengapa publik menangkap momen “tembus 17 ribu”.
Di sisi lain, JISDOR ( Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) sebagai acuan resmi kurs tengah mencatat 20 Januari 2026 Rp16.981, naik dari Rp16.935 (19 Jan) dan Rp16.880 (15 Jan). Artinya rupiah melemah cepat dalam rentang pendek dan pasar membaca ada sesuatu yang lebih dari sekadar fluktuasi harian.
*****
Saya membaca laporan - laporan sumber berita kredibel. Yang terjadi bisa diringkas begini. Rupiah sedang “membayar” premi risiko. Reuters melaporkan rupiah sempat menyentuh low intraday 16.985 dan melemah hampir 2% sepanjang Januari 2026 setelah turun 3,5% sepanjang 2025. Tentu ini bukan cuma cerita supply - demand dolar. Ini juga cerita tentang kepercayaan investor pada disiplin kebijakan fiskal dan independensi bank sentral.
*****
Faktor global tetap ada. Ketika pasar global risk-off (investor memilih aset yang dianggap paling aman), mata uang emerging market biasanya ikut terseret. Tapi Reuters menekankan ada faktor domestik yg membuat rupiah sensitif belakangan ini yakni defisit APBN 2025 sebesar 2,92% PDB (mendekati batas dalam UU 3%), juga kekhawatiran tentang pembiayaan program-program besar serta kekhawatiran bahwa keputusan politik bisa mengganggu persepsi independensi Bank Indonesia.
Reuters juga mencatat net sell investor asing sekitar US$6,4 miliar di SBN sepanjang 2025, yang memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Ada pula faktor musiman yang sering diremehkan publik. Menjelang Ramadan biasanya permintaan dolar meningkat untuk kebutuhan impor tertentu (bahan pangan, barang konsumsi, bahan baku). Reuters menyebut kenaikan permintaan dolar jelang Ramadan ikut menambah tekanan. Secara ringkas pelemahan rupiah adalah gabungan sentimen global tambah arus modal dan faktor musiman. Ditambah lagi (ini yang paling “mahal”), premi kepercayaan terhadap kerangka kebijakan.
*****
Lalu, peran bank sentral itu apa dan batasnya di mana? Bank sentral bukan pesulap yang bisa “mengunci” kurs di angka favorit publik. Tugas BI adalah menjaga stabilitas (nilai tukar dan sistem keuangan) agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental dan tidak berubah menjadi kepanikan.
Data BI sendiri memantau rapat indikator pasar. Pada awal Januari, rupiah berada di kisaran Rp16.785–Rp16.815 dan BI mempublikasikan indikator seperti DXY, yield UST, yield SBN, dan premi CDS. Ini sinyal bahwa BI membaca pergerakan rupiah sebagai bagian dari kondisi pasar keuangan yang lebih luas.
Dari sisi kebijakan, Reuters menilai pasar berekspektasi BI menahan suku bunga pada rapat kebijakan terdekat untuk menahan tekanan kurs (trade-off klasik stabilitas kurs vs dorongan pertumbuhan).
Antisipasinya, kalau kita bicara “paket lengkap”, ada tiga lapis. Pertama, lapis BI: (1) intervensi di pasar valas agar volatilitas tidak liar, (2) menjaga likuiditas rupiah supaya pasar tidak kering, (3) komunikasi yg tegas krn sebagian besar krisis mata uang itu krisis narasi sebelum krisis angka.
Kedua, lapis pemerintah. Disiplin fiskal dan kejelasan aturan main. Ketika defisit mendekati batas aturan, pasar ingin melihat rute yang meyakinkan. Reuters mencatat pemerintah menegaskan komitmen menjaga independensi bank sentral dan tidak menekan BI untuk membiayai program pemerintah. Pesan seperti ini penting, tetapi pasar biasanya menuntut konsistensi kebijakan dari waktu ke waktu.
Ketiga, lapis pelaku usaha dan rumah tangga. Dunia nyata harus beradaptasi. Importir perlu memperketat manajemen risiko kurs (hedging bila memungkinkan), perusahaan dengan utang valas perlu disiplin “matching” pendapatan-valas dengan kewajiban-valas. Publik sebaiknya menghindari keputusan finansial reaktif (misalnya panic buying dolar) yang justru memperburuk tekanan.
*****
Satu catatan yg sering luput, pelemahan rupiah tidak otomatis berarti ekonomi “runtuh”. Tapi bisa juga dibaca sebagai pemindahan biaya ke harga impor, ke beban subsidi tertentu, ke biaya proyek yang berbasis komponen impor dan ke psikologi pasar. Karena itu stabilitas rupiah bukan perkara fluktuasi angka, melainkan soal menjaga agar ekonomi tidak membayar “pajak kepanikan” yang tak perlu.
Wallahu A' lam.
Editor : Redaksi