Dari Bantaran Sungai Gunungsari, Bondowoso Menanam Harapan Hadapi Bencana
Bondowoso, JatimUPdate.id, - Dua kali banjir dalam setahun terakhir menjadi pengingat pahit bagi warga Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Bondowoso.
Baca Juga: BREAKINGNEWS: Jembatan Sukowiryo di Jalan Mastrip Bondowoso Ambrol Satu Sisi, Akses Dibatasi Ketat
Air yang meluap dari sungai tak hanya meninggalkan lumpur dan kerusakan, tetapi juga kecemasan yang berulang setiap musim hujan tiba. Dari bantaran sungai itulah, kini harapan mulai ditanam—pelan, namun penuh makna.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso menanam 2.000 bibit pohon di sepanjang aliran sungai Desa Gunungsari, Kamis (22/1/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah konkret memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi melalui pelestarian lingkungan.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto, mengatakan penanaman pohon merupakan upaya nyata untuk menekan risiko bencana, terutama banjir dan longsor, di kawasan rawan.
Kegiatan bertema “Mulai Menanam Pohon untuk Investasi Kehidupan” ini melibatkan 22 lembaga lintas sektor dengan dukungan ratusan relawan.
“Hari ini kita menanam 2.000 pohon. Ini bukan sekadar kegiatan simbolik, tetapi investasi kehidupan. Sebanyak 22 lembaga terlibat dan ratusan relawan bergerak bersama menanam pohon di kawasan rawan bencana,” ujar Kristianto.
Ia menegaskan, penguatan vegetasi di wilayah hulu dan daerah tangkapan air menjadi kunci penting untuk menekan potensi banjir dan longsor yang kerap terjadi akibat kerusakan lingkungan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menekankan bahwa gerakan tanam pohon tidak boleh dipahami sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, keberhasilan program ini justru ditentukan oleh keberlanjutan perawatan dan kesadaran bersama.
Baca Juga: Retribusi Administrasi Dihapus, Raperda Pajak Baru di Bondowoso Permudah Layanan Publik
“Menanam pohon ini bukan untuk hasil hari ini. Ini adalah investasi lingkungan dan kehidupan ke depan. Yang paling penting adalah membangun kesadaran bersama agar semua pihak ikut menjaga dan merawat lingkungan,” ujar Fathur Rozi.
Kawasan bantaran sungai Desa Gunungsari dipilih karena tingkat kerawanannya terhadap banjir tergolong tinggi. Dalam satu tahun terakhir, wilayah ini tercatat dua kali mengalami banjir. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat bencana sudah terjadi.
Menurut Fathur Rozi, kekuatan utama dari gerakan ini terletak pada keterlibatan lintas sektor. Penanaman pohon melibatkan BPBD Bondowoso, Forkopimda, seluruh perangkat daerah, pemerintah desa, komunitas Bondowoso, PMI, Pramuka, relawan siaga bencana, hingga masyarakat setempat.
“Keterlibatan semua unsur ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa pelestarian lingkungan dan hutan adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Bibit pohon yang ditanam berasal dari Perhutani, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jawa Timur, serta BPBD Bondowoso. Jenis tanaman yang dipilih pun beragam, mulai dari pohon tegakan hingga pohon buah, yang berfungsi menyerap air, menahan erosi tanah, sekaligus memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya
Fathur Rozi menegaskan, keberhasilan kegiatan ini tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari komitmen merawatnya.
“Menanam lalu ditinggal sampai mati tidak ada artinya. Yang terpenting adalah perawatan agar pohon bisa tumbuh dan benar-benar berfungsi menjaga lingkungan,” katanya.
Ia memastikan BPBD bersama Pemerintah Desa Gunungsari dan masyarakat setempat akan melakukan pemantauan serta perawatan pohon secara berkala. Gerakan tanam pohon ini juga menjadi agenda berkelanjutan di Kabupaten Bondowoso, yang sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah wilayah rawan bencana, salah satunya di Desa Sumbersalak.
Di bantaran sungai Gunungsari, ribuan pohon muda kini berdiri. Masih kecil dan rapuh, namun menyimpan harapan besar—bahwa dari akar yang ditanam hari ini, Bondowoso dapat tumbuh lebih kuat dalam menghadapi bencana di masa depan. (ries/mmt)
Editor : Miftahul Rachman