Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Dua Fungsi Pendidikan, Wariskan Nilai dan Siapkan Khalifah Masa Depan
Jember, JatimUPdate.id – Pendidikan tidak boleh kehilangan arah. Ia harus menjalankan dua fungsi sekaligus: mewariskan nilai-nilai fundamental dan membekali generasi untuk memimpin masa depan.
Penegasan itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti dalam Kajian Ramadan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).
Menurut Mu’ti, pendidikan memiliki fungsi konservatif dan fungsi progresif yang tidak bisa dipisahkan.
“Fungsi konservatif itu berupa pelestarian nilai-nilai yang sangat fundamental yang harus kita wariskan kepada generasi anak kita, cucu kita, dan generasi setelahnya,” ujar Abdul Mu'ti.
Ia menjelaskan, Al-Qur’an telah memberi teladan bagaimana para nabi mendidik generasi penerusnya, terutama dalam menjaga tauhid dan membangun akhlak. Salah satunya pesan dalam Surat Luqman yang menegaskan larangan menyekutukan Allah sebagai fondasi moral.
“Ada akhlak mulia yang harus diwariskan, karena itu mengandung nilai-nilai yang harus dijadikan panduan agar manusia memiliki kepribadian utama,” tandasnya.
Pendidikan Harus Progresif dan Berorientasi Masa Depan
Selain menjaga nilai, pendidikan juga harus memiliki fungsi progresif, yaiyu membekali generasi agar mampu menjamin keberlanjutan kehidupan.
“Fungsi progresif membekali anak-anak kita supaya tidak sekadar hidup, tetapi melestarikan dan menjamin kehidupan di masa depan. Dengan begitu manusia bisa melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi,” jelas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.
Abdul Mu'ti menegaskan, pendidikan yang hanya berhenti pada aspek kognitif tanpa orientasi masa depan akan melahirkan generasi yang sekadar bertahan hidup, bukan generasi yang memimpin peradaban.
Khalifah Karena Ilmu
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah karena memiliki ilmu. Dalam perspektif Islam, ilmu menjadi fondasi kepemimpinan.
“Kenapa yang diangkat sebagai khalifah itu Nabi Adam? Karena Adam berilmu. Islam menempatkan supremasi ilmu di atas kesalehan ibadah,” tegasnya.
Menurutnya, dengan ilmu manusia mampu memimpin secara benar dan menghindari kerusakan. Manusia dibekali akal, kalbu, nafsu, dan agama sebagai perangkat pengendali.
Kerusakan, lanjutnya, terjadi ketika nafsu tidak dibimbing oleh akal dan agama. Sebaliknya, jika nafsu terkendali dalam nilai ilahiah, kesejahteraan akan terwujud.
“Di sinilah letak tanggung jawab manusia sebagai khalifah, menjadi wakil Allah di muka bumi,” imbuh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu.
Kepemimpinan yang Mencerminkan Rahman dan Rahim
Mu’ti juga menegaskan bahwa tindakan manusia sebagai khalifah harus mencerminkan sifat Allah, terutama ar-Rahman dan ar-Rahim.
Sebagai khalifah, kata dia, manusia tidak boleh eksklusif dalam berbuat baik. Kebaikan harus dirasakan semua pihak.
“Orang kafir pun mendapatkan rahmat Allah,” ujarnya.
Menutup paparannya, Mu’ti kembali menegaskan bahwa seluruh tindakan manusia harus menghadirkan kemaslahatan.
“Semua perbuatan harus menimbulkan kerahmatan, tidak boleh menimbulkan kerusakan,” pungkasnya. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat