Mengapa Ibadah Adalah Kebutuhan, Bukan Beban; Berikut Penjelasan Kiai Zuhri Zaini

avatar Ponirin Mika
  • URL berhasil dicopy
KH Moh Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. (Foto JatimUPdate.id)
KH Moh Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. (Foto JatimUPdate.id)

 

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Seringkali kita memandang ibadah sebagai deretan kewajiban yang menyita waktu di tengah kepungan rutinitas duniawi.

Namun, KH Moh Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, mengajak kita membedah ulang paradigma tersebut.

Dalam pengajian kitab nashoihud diniyah terbarunya, beliau menyampaikan  bahwa Ibadah bukanlah beban yang menghimpit, melainkan kebutuhan mendasar yang menghidupkan jiwa.

Kiai Zuhri menggunakan perumpamaan yang sangat membumi namun mendalam. Beliau mengibaratkan ibadah seperti obat bagi orang yang sedang sakit.

"Ibadah mungkin terasa berat atau 'pahit' bagi mereka yang belum terbiasa. Namun, layaknya pasien yang enggan meminum obat karena rasanya, mereka lupa bahwa di dalam rasa pahit itu terdapat kesembuhan," tutur beliau dihadapan santri. Rabu (25/02/26).

Bagi jiwa yang "sakit" karena ambisi duniawi, ibadah adalah penetralisir. Untuk mencapai titik di mana ibadah menjadi ringan, beliau menekankan pentingnya pembiasaan (riyadhah).

Inilah alasan mengapa orang tua diinstruksikan melatih anak shalat sejak dini; agar saat dewasa, sujud bukan lagi menjadi beban formalitas, melainkan gaya hidup yang dirindukan.

Salah satu poin menarik dalam tausiyah ini adalah penegasan Kiai Zuhri bahwa Islam tidak hadir untuk menyiksa pemeluknya. Beliau menyoroti harmoni antara syariat dan kemanusiaan.

Beliau menjelaskan adanya konsep uzur (keringanan) sebagai bukti bahwa Allah sangat menghargai kondisi manusia: yaitu jika sakit parah memberikan keringanan dalam tata cara ibadah.

Kalau ada orang yang diare dilarang ke masjid demi menjaga kesucian tempat ibadah dan kenyamanan jamaah lain, dan Puasa adalah kendali diri, namun dilarang jika justru mengancam nyawa saat kondisi kesehatan memburuk.

"Semangat beribadah harus berjalan beriringan dengan ilmu. Jangan sampai ambisi spiritual membuat kita buta terhadap kaidah yang justru merusak esensi ibadah itu sendiri," pesan Kiai Zuhri.

Kiai Zuhri mengungkapkan fenomena masyarakat yang terlalu terpaku pada hasil tanpa proses, atau sebaliknya, terlalu ambisius mengejar dunia hingga lupa pada Penciptanya.

Beliau menegaskan bahwa dunia adalah Darul Amal (Tempat Beramal/Bekerja). Allah mengatur semesta dengan hukum sebab-akibat (sunnatullah). Dawuhnya, Ilmu didapat melalui belajar. Rezeki didapat melalui bekerja. Ketenangan didapat melalui penghambaan.

Kiai Zuhri mengingatkan bahwa doa tanpa usaha adalah kesia-siaan, namun usaha tanpa ibadah adalah kerugian jangka panjang. Ketundukan kepada Allah bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk keselamatan manusia itu sendiri agar tidak tersesat dalam kemilau dunia yang fana. (pm/yh)