Sering Diterjang Banjir Setinggi 70 Cm, Warga Puri Gunung Anyar Regency Wadul ke DPRD Surabaya

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
RDP terkait banjir di kawasan Perumahan Puri Gunung Anyar Regency
RDP terkait banjir di kawasan Perumahan Puri Gunung Anyar Regency

Surabaya,JatimUPdate.id – Komisi C DPRD Surabaya menggelar rapat dengar pendapat (RDP) terkait banjir di kawasan Perumahan Puri Gunung Anyar Regency, Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Rabu (26/2).

Ketua RT 06 RW 07, Mukani menyebut kawasan yang dihuni sekitar 300 rumah itu menjadi titik terendah. 

Menurutnya, banjir tersebut mencapai 50-70 cm saat hujan lebat yang bersamaan dengan banjir rob.

“Bisa lebih dari lima jam, meski pintu air sudah ditutup dan pompa dinyalakan,” katanya.

Ia memaparkan, ada delapan gang dengan panjang kurang lebih 1.000 meter belum tertangani optimal. 

Selain itu dari tujuh titik genangan parah, baru sebagian yang diusulkan mendapat intervensi lantaran keterbatasan anggaran. 

“Dua titik saja estimasinya sekitar Rp750 juta. Total kebutuhan bisa lebih dari Rp1 miliar,” kata Mukani.

Kendati begitu, ia mengakui bantuan pompa dan perbaikan pintu air dari pemkot cukup membantu mempercepat surutnya air.

Di sisi perencanaan, Kabid Infraswil Bappeda Surabaya, Windo Gusman Prasetyo, menjelaskan kawasan Gunung Anyar Tambak belum masuk sistem drainase utama kota. 

Wilayah itu belum terintegrasi dalam Surabaya Drainage Master Plan. 

Ia mengakui dampaknya, sistem saluran yang ada, termasuk jaringan Kebonagung, belum mampu menampung perkembangan hunian baru.

“Karena ini penambahan kawasan, saluran tersiernya belum terbangun sistematis. Tahun ini akan kami lakukan kajian menyeluruh, termasuk kemungkinan revisi sistem Kebonagung atau membangun sistem baru,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pematusan DSDABM, Adi Gunita, menyebut pihaknya tengah mengevaluasi efektivitas rumah pompa Kebonagung. 

Opsi reposisi maupun optimalisasi pompa terbuka, termasuk pemaksimalan tiga pompa dongfeng di kawasan terdampak dan tambahan satu pompa di sekitar wilayah itu. 

Ia juga menekankan pentingnya penyerahan fasum dan fasos agar intervensi pemerintah bisa dilakukan secara utuh.

Wakil Ketua Komisi C Aning Rahmawati menegaskan persoalan di Gunung Anyar Tambak tak bisa diselesaikan dengan tambal sulam. 

“Kalau sistemnya tidak dibangun, air akan berputar dari rumah warga ke sungai lalu kembali lagi. Ini harus diselesaikan secara sistemik,” tegasnya. (*Roy)