Kiai Zuhri Zaini; Qiyamul Lail sebagai Kunci Kesehatan Jasmani dan Rohani

avatar Ponirin Mika
  • URL berhasil dicopy
KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Ponpes Nurul Jadid.
KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Ponpes Nurul Jadid.

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - KH Moh Zuhri Zaini membedah hakikat keimanan seorang mukmin yang tercermin dari kedekatannya dengan sang Pencipta di sepertiga malam.

Beliau menekankan bahwa salah satu ciri utama orang beriman adalah mereka yang "lambungnya jauh dari tempat tidur," merujuk pada kebiasaan menegakkan shalat malam atau qiyamul lail.

Dalam pengajian khataman kitab Nashoihud Diniyah di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Jum’at (27/02/26), Kiai Zuhri mengisahkan peristiwa di akhirat saat manusia mencari perlindungan.

Di saat para Nabi lain berucap "nafsi-nafsi" (diriku sendiri), hanya Nabi Muhammad SAW yang bersujud memohon syafaat bagi umatnya hingga Allah SWT mengabulkan doa tersebut.
Sebagai bentuk cinta kepada Nabi, umat Islam dianjurkan menghidupkan malam.

"Paling utamanya shalat setelah shalat lima waktu adalah qiyamul lail. Ini bukan sekadar ibadah, tapi kebiasaan orang-orang sholeh terdahulu yang menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah," ujar Kiai Zuhri.

Beliau juga memaparkan manfaat multidimensi dari ibadah malam, di antaranya: pertama; menghapus perbuatan buruk yang telah lalu. Kedua; mencegah seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ketiga; secara medis dan spiritual, qiyamul lail dipercaya mampu menghilangkan penyakit dari tubuh.

Menariknya, Kiai Zuhri mengingatkan agar tidak berlebihan melampaui kemampuan fisik. Beliau mengisahkan tiga sahabat yang ingin meniru ibadah Nabi secara ekstrem. Nabi Muhammad SAW kemudian menegur mereka dan berpesan agar beribadah sesuai kemampuan.

"Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan tanpa mengukur kemampuan itu kurang baik. Nabi bisa melakukan ibadah yang panjang karena fisik dan ruhaninya sudah tertempa sejak kecil melalui berbagai ujian hidup," jelasnya.

Selain itu, Kiai Zuhri juga meluruskan stigma negatif terhadap Islam. Beliau menegaskan bahwa Islam adalah agama keselamatan dan perdamaian.

Jika Nabi terlibat perang, hal itu semata-mata karena merespons serangan, bukan sebagai agresor.
Beliau mengkritik narasi sejarah yang terbalik, di mana pihak yang sebenarnya menjajah dan merampas kemerdekaan justru menuduh Islam sebagai agama kekerasan.

"Islam berdakwah tanpa kekerasan. Kini, dengan bantuan media sosial, wajah asli Islam yang damai mulai terlihat dan menarik banyak orang untuk memeluknya," tambahnya.

Kiai Zuhri merangkum empat amalan utama bagi setiap muslim untuk meraih surga dengan penuh kedamaian, yaitu menyebarkan kedamaian dan saling menghormati, memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, menyambung silaturahmi, mendirikan shalat malam di saat manusia lain tertidur lelap.

Terkait durasi shalat malam, beliau mengutip pesan Nabi agar tetap shalat meski hanya sebentar, "sekalipun seperti waktu di antara dua perasan susu."

Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi lebih diutamakan agar perilaku seseorang tetap terjaga baik di hadapan Allah maupun manusia. (pm/yh)