Pesan Prof Taruna Ikrar untuk Kader HMI saat Dies Natalis ke -79
Jakarta, JatimUPdate.id -Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi momentum refleksi bagi para kader yang kini berada di lingkar kekuasaan.
Di hadapan ribuan kader dan alumni, Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar menegaskan, kekuasaan adalah ujian terberat bagi kader HMI.
Peringatan Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam yang digelar di SMESCO Convention Hall, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (1/3/2026), dihadiri ribuan kader dan alumni HMI se-Jabodetabek dan sekitarnya.
Sejumlah anggota kabinet dan pimpinan lembaga negara turut hadir.
Ketua PB HMI Bagas Kurniawan melakukan penyematan peci (muts) dan gordon kepada alumni HMI yang kini menjabat di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka adalah Bahlil Lahadalia (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral), Maman Abdurrahman (Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), Prof. Taruna Ikrar (Kepala BPOM RI), Ace Hasan Syadzily (Ketua Lemhannas RI), serta Sarmuji, Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI.
Penyematan tersebut disebut sebagai pengingat tanggung jawab moral kader HMI di pemerintahan, bahwa jabatan publik merupakan amanah yang harus dijalankan dengan integritas.
Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, yang juga pernah menjadi salah satu Ketua PB HMI pada 1998, mengenang masa ketika Indonesia memasuki fase transisi demokrasi.
Saat itu, kata dia, HMI berada dalam situasi yang menuntut keberanian berpikir sekaligus kedewasaan bersikap.
“Tahun 1998 adalah periode yang menentukan. Idealisme diuji dalam situasi politik yang berubah cepat. Kami belajar bahwa sikap kritis harus dibarengi tanggung jawab kebangsaan,” ujar Taruna.
Menurut dia, pengalaman pada masa reformasi membentuk cara pandangnya terhadap kepemimpinan. Tantangan hari ini memang berbeda, tetapi ujian terhadap integritas tetap sama.
“Kader HMI yang berada di pemerintahan menghadapi ujian paling berat, yakni bagaimana menjaga nilai ketika memiliki kekuasaan. Di situlah konsistensi diuji,” katanya.
Bagi Taruna, milad bukan hanya perayaan usia organisasi, melainkan pengingat bahwa kaderisasi adalah proses panjang yang harus melahirkan pemimpin berintegritas. Jejaring alumni yang kini tersebar di kabinet dan lembaga negara, menurut dia, membawa konsekuensi moral yang tidak ringan.
Milad HMI ke-79 di Jakarta itu menegaskan satu pesan utama: kader boleh berada di pusat kekuasaan, tetapi nilai perjuangan tidak boleh ditinggalkan. (rilis/sof/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat