catatan ramadhan wiedmust-26ramadhan
Pastikan Kamu Punya Kampung Sebelum Memutuskan Pulang Kampung
Oleh widodo, p.hd
pengamat keruwetan sosial
Surabaya, JatimUPdate.id - Pastikan kamu punya kampung sebelum memutuskan pulang kampung.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi bagi sebagian orang, itu adalah kalimat yang terasa sangat dalam.
Saya pernah merasakan tidak pulang kampung saat Lebaran. Saat itu baru benar-benar terasa bahwa Lebaran di Jakarta memang berbeda dengan Lebaran di kampung.
Di Jakarta, suasana Lebaran terasa singkat. Setelah salat Id, orang-orang biasanya hanya salaman sebentar dengan tetangga yang kebetulan bertemu di depan rumah. Tidak ada rombongan keluarga datang silih berganti. Tidak ada rumah yang dipenuhi suara tawa dan cerita lama yang diulang kembali.
Tidak ada meja ruang tamu yang penuh dengan kue Lebaran beraneka macam. Nastar, kastengel, putri salju, rengginang, kerupuk udang, atau penganan khas daerah yang biasanya dibuat khusus setahun sekali.
Setelah salat Id, banyak orang justru memilih pergi ke tempat wisata. Ragunan, Ancol, Dunia Fantasi, Taman Mini, pantai, atau pusat perbelanjaan. Kota yang biasanya macet justru terasa lebih lengang.
Kalau masih punya anak kecil, mungkin masih terasa menyenangkan. Tapi kalau anak-anak sudah besar, rasanya Lebaran jadi terasa lewat begitu saja.
Berbeda dengan di kampung.
Di kampung, Lebaran terasa hidup. Dari pagi sampai malam rumah seperti tidak pernah sepi. Ada keluarga yang datang, tetangga yang berkunjung, teman masa kecil yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
Ada makanan khas yang hanya muncul setahun sekali. Ada baju baru yang dipakai dengan rasa bangga. Anak-anak berlarian, orang tua duduk bercerita, dapur tidak pernah benar-benar berhenti memasak.
Ramai. Hangat. Penuh kenangan.
Namun di balik semua cerita pulang kampung itu, ada juga kisah yang jarang kita pikirkan.
Kisah para perantau yang tidak bisa pulang.
Ada yang tidak pulang bukan karena tidak rindu, tetapi karena pekerjaan mereka memang menuntut untuk tetap siaga. Dokter dan perawat yang berjaga di rumah sakit. Petugas pemadam kebakaran yang siap berlari ketika sirine berbunyi. Polisi dan tentara yang menjaga keamanan ketika orang lain sedang berkumpul dengan keluarga.
Ada juga para pelaut yang Lebarannya justru di tengah laut. Jauh dari daratan, jauh dari rumah, hanya ditemani suara mesin kapal dan ombak.
Mungkin malam takbiran mereka hanya melihat video call keluarga di layar kecil ponsel. Mendengar suara anak yang bertanya, “Ayah pulang kapan?”
Ada pula yang tidak pulang karena alasan yang lebih sunyi: tidak punya biaya.
Tiket mahal, perjalanan panjang, kebutuhan hidup di kota yang lebih mendesak. Akhirnya mereka hanya bisa mengirim pesan singkat, “Maaf tahun ini belum bisa pulang.”
Dan ada juga yang tidak pulang bukan karena tidak mau, tapi karena memang sudah tidak ada lagi rumah untuk kembali. Orang tua sudah tiada. Rumah sudah kosong. Kampung hanya tinggal kenangan.
Lebaran bagi mereka adalah hari yang terasa lebih sepi dari biasanya.
Di saat orang lain sibuk bersiap pulang kampung, mereka hanya menjalani hari seperti biasa. Mungkin makan sederhana, mungkin hanya menelpon saudara jauh, atau sekadar berjalan keluar melihat kota yang tiba-tiba sunyi.
Karena itu, kalau hari ini kita masih punya kampung untuk pulang… masih punya orang tua yang menunggu di rumah… masih ada keluarga yang membuka pintu sambil tersenyum ketika kita datang…
Jangan pernah anggap itu hal biasa.
Sebab bagi sebagian orang, kampung halaman bukan lagi tempat yang bisa didatangi. Hanya tempat yang bisa dikenang.
Jadi sebelum kita memutuskan pulang kampung, pastikan satu hal:
kita masih punya kampung yang benar-benar menunggu kita pulang.
Kalau kamu, bagaimana Lebaran di tempatmu? 🌙
Editor : Redaksi