Strategi Memaksa untuk Mengingat melalui Takbir Kolektif
Refleksi Kultural IBS PKMKK, Menumbuhkan Kesadaran Spiritual
Pamekasan, JatimUPdate.id - Di tengah dinamika masyarakat modern yang semakin terdistraksi oleh arus digital, hiburan instan, dan individualisme yang kian menguat, upaya untuk menghadirkan kembali kesadaran spiritual kolektif menjadi tantangan yang tidak sederhana.
Dalam konteks inilah strategi yang dilakukan oleh IBS PKMKK, mengumpulkan masyarakat dan remaja melalui takbir keliling, pembagian doorprize, serta penutupan dengan kembang api, perlu dibaca tidak sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai sebuah intervensi sosial yang memiliki dimensi sosiologis yang mendalam.
Secara normatif, takbir dan tahmid merupakan ekspresi keagamaan yang bersifat spiritual dan reflektif, yang idealnya lahir dari kesadaran batin individu.
Namun realitas sosial menunjukkan bahwa kesadaran semacam ini tidak selalu hadir secara spontan, terutama dalam masyarakat yang telah mengalami pergeseran nilai akibat modernitas.
“Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang bersifat “memaksa secara kultural”, bukan dalam arti koersif, melainkan persuasif melalui simbol dan pengalaman kolektif, menjadi salah satu strategi yang relevan,” ujar Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis dalam keterangan tertulisnya, Jumat malam (20/3/2026).
Dijelaskan, kegiatan takbir keliling yang diinisiasi oleh IBS PKMKK menciptakan ruang publik religius di mana masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga partisipan aktif dalam ekspresi spiritual.
Dalam perspektif sosiologi agama, fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk reproduksi kesadaran kolektif.
Kegiatan tersebut dihadiri Ferlian Qurrata A’yun dari Polsek Larangan. Termasuk Kepala Desa Lancar, Mohammad Hosli, turut menyambut positif terobosan yang dilakukan IBS PKMKK.
“Durkheim menyebut bahwa ritual bersama mampu membangkitkan “energi sosial” yang memperkuat ikatan antarindividu sekaligus memperdalam makna simbolik dari praktik keagamaan. Takbir yang dilantunkan bersama-sama dalam arak-arakan bukan hanya suara, tetapi menjadi medium yang menyatukan emosi, identitas, dan keyakinan dalam satu pengalaman kolektif yang intens,” terang Muhlis.
Namun, ujar Guru Besar UIN Madura itu, yang menarik dari strategi ini adalah penggunaan doorprize sebagai instrumen untuk menarik partisipasi, khususnya dari kalangan remaja. Pendekatan ini dapat dibaca melalui teori motivasi. B. F. Skinner, yang menjelaskan bahwa perilaku manusia dapat dibentuk melalui penguatan (reinforcement), di mana hadiah atau insentif digunakan untuk meningkatkan frekuensi suatu tindakan.
“Dalam konteks ini, doorprize berfungsi sebagai penguat eksternal yang mendorong individu untuk terlibat dalam aktivitas takbir,” kata Ketua Senat UIN Madura itu.
Namun, strategi ini tidak berhenti pada motivasi eksternal semata. Melalui keterlibatan dalam kegiatan tersebut, diharapkan terjadi proses internalisasi nilai, di mana individu yang awalnya termotivasi oleh hadiah, perlahan-lahan menemukan makna intrinsik dalam aktivitas yang dilakukan.
Di sinilah letak kecerdasan pendekatan IBS PKMKK, memanfaatkan motivasi eksternal sebagai pintu masuk menuju kesadaran internal.
Kembang api sebagai penutup acara juga memiliki makna simbolik yang tidak bisa diabaikan.
Dalam banyak budaya, cahaya dan ledakan warna di langit sering diasosiasikan dengan perayaan, kemenangan, dan harapan.
Dalam konteks Idulfitri, kembang api dapat dibaca sebagai simbol eksternal dari kebahagiaan spiritual setelah sebulan penuh menjalani puasa, ia menjadi bentuk visualisasi dari rasa syukur yang mungkin sulit diungkapkan hanya melalui kata-kata.
“Namun, tentu saja, pendekatan ini tidak lepas dari kritik. Ada kekhawatiran bahwa penggunaan elemen hiburan seperti doorprize dan kembang api dapat menggeser makna spiritual menjadi sekadar euforia,” urainya.
Dalam perspektif kritis, hal ini dapat dilihat sebagai proses “komodifikasi ritual”, di mana praktik keagamaan dipadukan dengan elemen-elemen konsumtif untuk meningkatkan daya tariknya.
Pertanyaan yang kemudian muncul Adalah, apakah strategi ini memperdalam spiritualitas, atau justru mereduksinya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kata Muhlis, penting untuk melihat keseluruhan desain kegiatan, termasuk peran direktur utama yang memberikan tausiah sebelum acara dimulai.
Tausiah ini menjadi fondasi normatif yang mengarahkan makna dari seluruh rangkaian kegiatan, ia berfungsi sebagai “kerangka interpretatif” yang memastikan bahwa takbir keliling, doorprize, dan kembang api tidak dipahami sebagai tujuan, tetapi sebagai sarana untuk mencapai kesadaran spiritual.
Dalam perspektif Weber, tindakan sosial menjadi bermakna ketika didasarkan pada orientasi nilai yang jelas.
Tausiah tersebut memberikan orientasi nilai yang mengikat seluruh aktivitas dalam kerangka ibadah dan syukur.
Kombinasi antara tausiah, aktivitas kolektif, dan elemen hiburan menciptakan pengalaman yang holistik.
Individu tidak hanya menerima pesan secara kognitif melalui ceramah, tetapi juga mengalaminya secara emosional melalui partisipasi dalam kegiatan.
“Daniel membedakan antara “experiencing self” dan “remembering self”, di mana pengalaman yang melibatkan emosi kuat cenderung lebih membekas dalam ingatan.
Dalam konteks ini, takbir keliling yang meriah dapat menjadi pengalaman yang lebih mudah diingat dan diinternalisasi dibandingkan dengan ceramah semata,” jelasnya.
Dengan demikian, strategi IBS PKMKK dapat dipahami sebagai upaya kreatif untuk menjembatani kesenjangan antara idealitas spiritual dan realitas sosial, ia mengakui bahwa dalam masyarakat kontemporer, pendekatan yang murni normatif sering kali tidak cukup untuk menarik perhatian, sehingga diperlukan inovasi yang mampu mengemas pesan keagamaan dalam bentuk yang lebih menarik tanpa kehilangan substansinya.
“Pada akhirnya, “memaksa” masyarakat untuk bertakbir dan bertahmid dalam konteks ini bukanlah paksaan dalam arti negatif, melainkan bentuk rekayasa sosial yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kesadaran yang mungkin telah redup, ia adalah upaya untuk mengingatkan bahwa di balik euforia Idul Fitri, terdapat makna yang lebih dalam, rasa syukur kepada Allah atas kesempatan menjalani Ramadan, serta komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai spiritual yang telah dibangun,” ungkapnya.
Dalam keseimbangan antara strategi dan spiritualitas, antara hiburan dan kesadaran, IBS PKMKK menawarkan sebuah model pendekatan yang patut direnungkan, ia menunjukkan bahwa dakwah tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang kaku, tetapi dapat beradaptasi dengan konteks zaman, selama tetap berpegang pada tujuan utamanya: mengantarkan manusia untuk kembali mengingat Allah di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. (rilis/rio/roy)
Editor : Ibrahim