Jembatan Putus, Cara Pandang Berubah
Oleh: Hijrah Saputra
Pengamat Sosial
Bondowoso, JatimUPdate.id - Satu jembatan putus. Seketika, alur hidup ikut berubah. Yang biasanya lancar, kini tersendat. Yang terasa dekat, menjadi jauh. Dan yang selama ini dianggap biasa, mendadak menjadi persoalan.
Di daerah yang terhubung antara kabupaten, jembatan putus akibat longsor. Akibatnya, banyak orang yang memanfaatkannya terpaksa harus membuat pilihan lain.
Harus mencari jalan sempit tapi dekat, atau jalan agak lebar tapi jauh. Pengguna yang melalui juga berebut ingin akses terbaik dari yang terbaik.
Biasanya jalan terasa lancar. Kini, peluh keringat ikut hadir. Waktu tempuh tidak lagi pasti karena harus antre. Kemacetan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Kebiasaan menyerobot masih ada, tetapi tidak seberani biasanya. Seolah kondisi memaksa orang untuk menahan diri. Dari sini terasa, lingkungan dapat memengaruhi cara pandang dan sikap.
Putusnya jembatan mungkin berakibat pada kendala berbagai aspek. Ekonomi. Pendidikan. Pekerjaan. Olahraga. Belanja. Ke SPBU terdekat. Remaja yang biasa cangkruk. Namun, yang terbiasa sulit dan jauh akan berkata lain: “Saya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.”
Yang terbiasa mengantarkan putra-putrinya ke sekolah, tidak lagi bergumam santai. Kali ini wajahnya lebih tegang. Lebih sensitif. Tarikan gas motor yang biasanya pelan menjadi lebih dalam. Bel motor yang jarang berbunyi, demi kepentingan pribadi menjadi lebih sering terdengar. Dunia, oh dunia.
Beda lagi dengan kendaraan roda empat. Biasanya melaju tanpa banyak memandang. Hari ini harus lebih memandang. Yang bagus mulai melihat yang kurang bagus. Yang kurang bagus pun terkadang menunjukkan sikap yang tidak kalah keras. Gesekan menjadi sulit dihindarkan, seolah memberi pengalaman tentang batas dan ruang.
Di jalur yang menyempit menjadi satu arah bergantian, pemandangan itu menjadi lebih terasa. Saat berpapasan, mobil yang bagus justru sering mengalah, mundur perlahan memberi jalan. Sementara yang kurang bagus, dalam beberapa keadaan, tidak selalu demikian. Dunia terasa punya cara sendiri untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya lapang dan siapa yang masih sempit. Dunia ini begitu indah untuk dilupakan. Hmhmhm...
Yang agak kasihan adalah sepeda onthel. Mereka biasa memuat rumput dan menggunakan jalur sempit. Mereka sudah mengalah untuk tidak melalui jalur lebar dengan aspal halus. Kini, harus kembali mengalah. Jalur tanah menjadi pilihan. Melihat kanan kiri. Rumput dikurangi. Telinga seakan ditutup rapat. Tangan lebih lincah memegang setir. Siap-siap turun dari jok sepeda. Bahkan, tidak sedikit yang harus rela dimaki bila berpapasan dengan kendaraan yang kurang pengertian.
Beberapa data menunjukkan bahwa banyak jembatan lama di Indonesia merupakan peninggalan masa kolonial, dibangun sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Sebagian menggunakan konstruksi lengkung dari pasangan batu atau bata tebal yang menyalurkan beban secara merata, sementara lainnya menggunakan rangka baja. Dalam banyak kasus, konstruksi tersebut mampu bertahan dalam waktu yang panjang—bahkan mendekati atau melampaui seratus tahun.
Saya melihat pada jembatan yang putus karena tergerus air, konstruksinya tampak sederhana. Ada bata tebal. Di bawahnya tidak banyak konstruksi besi sebagai penopang. Namun, ia mampu bertahan lama. Saya hanya membatin.
Berbeda dengan saya. Saya tidak terlalu tergantung terhadap jembatan putus tersebut. Apakah berdampak pada perjalanan? Pasti ada.
Namun saya mencoba menikmatinya. Saya terbiasa berangkat lewat jalur anak sekolah, lalu langsung bekerja. Pulang mengambil jalur berbeda. Pilihan yang sama, dengan langkah yang berbeda.
Saya melakukan rutinitas itu sudah lama. Sejak sekolah, saya mendengarkan pernyataan itu. Dulu, saya tidak mengerti apakah itu mitos atau solusi. Kini, saya lebih menikmati suasana yang berbeda. Satu suasana tergesa. Satu suasana lebih memberi perhatian pada sekitar: masyarakat, pengguna jalan, hingga sepeda onthel yang mencari rumput untuk kambing dan sapi.
Sementara di jalur besar, terlihat orang tergesa. Terdengar kebisingan knalpot. Terlihat mobil bagus dengan kecepatan tinggi. Bel, knalpot telo, asap knalpot—bermacam-macam. Semuanya seperti merasa memiliki hak atas jalan.
Di jalan yang sepi, mobil yang kurang bagus justru lebih berhati-hati. Jalan yang kurang bagus menjadi pilihan sadar. Jalan sempit menuntut untuk berbagi. Saat berpapasan, kepala sedikit keluar dari jendela. Sepeda onthel lewat, kepala sang sopir tetap menoleh ke belakang, memastikan tetap aman.
Di jalan yang sempit, orang tidak hanya berpikir untuk melaju. Ia lebih toleran. Mobil besar menghargai yang kecil. Yang kecil menyapa yang besar. Saling menoleh agar kepentingan tidak saling terganggu. Knalpot bersuara dan berasap sudah terbiasa. Namun, bukan untuk memarahi atau pamer, melainkan sebagai konsekuensi dari kondisi yang ada.
Barangkali, ketika ruang menjadi sempit, manusia dipaksa untuk saling melihat dan saling mempertimbangkan.
Keterbatasan tidak hanya menghadirkan kesulitan, tetapi juga memaksa lahirnya negosiasi sosial yang selama ini tidak terasa. Sebaliknya, ketika ruang terasa luas dan segala sesuatu tersedia, manusia lebih mudah merasa memiliki, bahkan tanpa sadar mengurangi ruang bagi orang lain.
Yang menjadi pertanyaan, apakah sesuatu yang kondisinya mapan itu tidak baik, sementara yang kurang mapan itu baik? Pertanyaan mendasarnya bukan di situ. Justru, kemapanan seharusnya melahirkan sikap yang lebih baik dibandingkan ketidakmapanan.
Hari ini, sering terasa bahwa yang mapan tampak lebih gemerlap. Sementara yang tidak mapan lebih apa adanya.
Ini menjadi nyata. Kontribusi perhatian pada khalayak sekitar perlu dijaga. Boleh jadi kita tidak langsung membangun ekonomi. Namun, penduduk yang kita lewati bisa saja membaca peluang ekonomi. Bisa jadi, yang kita lewati sebelumnya tidak dikenal. Namun dengan sering dilewati, perlahan menambah saudara baru.
Wallahu a‘lam bis-shawab.
Editor : Redaksi