Koalisi yang Selalu Gagal: Siapa yang Sebenarnya Tidak Cocok?

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi, dok Jatimupdate.id
Ilustrasi, dok Jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Koalisi dalam politik kerap dibungkus dengan bahasa yang halus. Salah satunya: “tidak cocok”. Kalimat yang kedengarannya biasa saja, tapi menyimpan banyak hal yang tidak pernah benar-benar dijelaskan ke publik.

Dalam konteks ini relasi antara Armuji dan Musyafak Rouf bukan cuma menjadi contoh. Bahkan mereka blak-blakan mengakui kedekatannya tercipta sudah lama.

Namun setiap kali berhadap-hadapan untuk kepentingan koalisi, hasilnya menuai jalan yang sama, gigit jari, jalan buntu, dan gagal totol.

Pertanyaannya, jika secara personal tidak ada masalah lalu siapa yang sebenarnya tidak cocok?

Apakah soal perbedaan visi?Atau perbedaan kepentingan?

Dalam praktik politik, istilah “tidak cocok” kerap kali menjadi jalan pintas untuk menghindari penjelasan yang lebih terbuka. 

Padahal, publik tidak membutuhkan basa-basi. Yang dibutuhkan adalah kejelasan. Sebab, koalisi bukan cuma urusan elite. Namun dapat menentukan arah kebijakan, dan siapa memimpin.

Jika alasan kegagalan koalisi terus poles menjadi “tidak cocok”, maka yang terjadi adalah pengaburan. Publik cuma melihat hasil, tanpa pernah memahami proses dan tarik-menarik kepentingan di dalamnya.

Anehnya koalisi Pilkada 2029 mulai disebut, komunikasi politik diklaim tetap berjalan. Namun tanpa kejelasan atas kegagalan di masa lalu, optimisme itu hanya pemanis percakapan.

Jadi, jangan sampai “koalisi terbuka” hanya menjadi rutinitas politik lima tahunan yang muncul saat momentum mendekat, lalu hilang tanpa arah yang jelas.

Saat ini persoalannya bukan lagi terkait cocok atau tidak cocok. Tapi soal keberanian untuk buka-bukaan apakah yang tidak ketemu itu visi, atau kepentingan.

Dan selama itu tidak pernah dijelaskan, maka publik akan curiga yang disebut “tidak cocok” hanyalah "bingkisan" untuk menyembunyikan konflik yang sebenarnya. (Timredaksi)