Normalisasi Sungai atau Normalisasi Penggusuran?
Catatan Redaksi - Normalisasi sungai Kalianak mulai terdengar seperti cerita lama, angka besar di atas kertas, tapi ganjil di lapangan.
Dari 8 meter menjadi lebih dari 16 meter merupakan lonjakan yang tidak kecil. Tapi penjelasannya nyaris tak terdengar. Kajian tak terbuka, serta dasar perubahan kabur, sementara warga yang terdampak diminta patuh.
Ini bukan cuma kebijakan yang tergesa-gesa, tapi berpotensi kehilangan pijakan.
Di Tambak Asri, warga tidak menolak mentah-mentah. Mereka justru memberi batas rasional, cukup 8 meter. Artinya jelas, ada ruang kompromi. Tapi yang datang justru penandaan, surat peringatan, dan tenggat waktu. Seolah dialog dianggap tidak penting, yang penting eksekusi.
Lebih janggal lagi, alasan banjir dijadikan dasar, sementara warga menyebut genangan pun jarang terjadi. Kalau fakta lapangan berbeda dengan narasi kebijakan, maka yang patut dipertanyakan bukan warga tapi dasar kebijakannya.
Di titik ini, publik layak curiga: apakah ini benar kebutuhan mendesak, atau cuma proyek yang dipaksakan terlihat penting?
Sebab pola seperti ini bukan hal baru. Angka diperbesar, ruang diperlebar, lalu warga diminta menyesuaikan. Tanpa penjelasan yang jujur, tanpa ruang tawar yang setara. Yang muncul bukan kepercayaan, tapi resistensi.
Ketika warga mulai bicara soal perlawanan fisik, itu bukan ancaman kosong. Itu tanda komunikasi sudah buntu. Dan ketika kebijakan sampai di titik itu, artinya ada yang salah sejak awal.
Pemerintah bisa saja punya rencana besar. Tapi tanpa transparansi dan keberanian menjelaskan dasar kebijakan, rencana itu hanya akan terlihat sebagai tekanan.
Sebab ini bukan soal sungai selebar berapa meter. Ini soal cara memperlakukan warga, diajak bicara, atau memang disuruh menyingkir.
Dan jika jawabannya yang kedua, maka yang sedang dinormalisasi bukan sungainya melainkan cara paksa dalam membuat kebijakan.
Karena ketika kebijakan publik berhenti mendengar, yang tersisa bukan lagi solusi melainkan konflik yang tinggal menunggu waktu. (Timredaksi)
Editor : Redaksi