Perkuat Ketahanan Pangan, BUMDES Argo Joyo Kembangkan Budidaya Lele
Kota Malang, JatimUPdate.id- Upaya memperkuat ketahanan pangan desa mulai menunjukkan hasil di Desa Parangargo, Kecamatan Wagir.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Argo Joyo mencatat panen perdana budidaya lele setelah tiga bulan masa produksi, sebuah langkah awal yang dinilai menjanjikan bagi pengembangan ekonomi desa.
Program budidaya lele ini dikembangkan di atas lahan seluas 145 meter persegi dengan menggunakan sistem bioflok—metode yang dikenal efisien dalam penggunaan air dan pakan, serta ramah lingkungan.
Sistem bioflok kian populer dalam sektor perikanan karena dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional.
Direktur BUMDes Argo Joyo, Anang Fauzi, mengatakan hasil panen pertama cukup menggembirakan meski usaha tersebut masih dalam tahap awal.
“Alhamdulillah, kami sudah melakukan panen perdana yang hasilnya cukup memuaskan,” ujar Anang saat ditemui di lokasi budidaya, Senin (27/3/2026).
Panen ini menjadi tonggak awal pengembangan unit usaha perikanan yang dirancang untuk menopang ketahanan pangan desa sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi BUMDes.
Saat ini, hasil budidaya lele masih dipasarkan secara eceran untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Parangargo. Strategi tersebut dipilih sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus penguatan sistem hilir produksi.
“Karena ini masih perdana, pemasaran kami lakukan secara eceran sambil belajar memperkuat sistem produksi dan distribusi,” kata Anang.
Menurutnya, tujuan utama pengembangan budidaya lele ini adalah memastikan ketersediaan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat desa. Ekspansi pasar yang lebih luas akan dilakukan setelah manajemen, produksi, dan kualitas dinilai stabil.
Meski panen awal menunjukkan hasil positif, BUMDes Argo Joyo mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan. Dua hal utama yang menjadi perhatian adalah akumulasi modal produksi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola.
“Kami masih perlu memperkuat kapasitas kelembagaan, baik dari sisi manajemen maupun produksi. Karena itu, kami terbuka untuk kolaborasi dengan berbagai pihak,” ujar Anang.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapabilitas BUMDes, termasuk dalam pengembangan rantai pasok dan akses pasar yang lebih luas.
Ke depan, BUMDes Argo Joyo tidak hanya menargetkan penjualan lele konsumsi. Mereka juga berencana mengembangkan ekosistem pendukung budidaya lele, seperti penyediaan bibit dan bahan pakan. Langkah ini dinilai dapat memperluas nilai tambah usaha sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru di tingkat desa.
Selain budidaya lele, BUMDes Argo Joyo tengah mempersiapkan sejumlah unit usaha lain, termasuk peternakan ayam petelur, pengelolaan sampah, dan pengelolaan pasar desa. Diversifikasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Pengembangan budidaya lele oleh BUMDes Parangargo mencerminkan peran strategis BUMDes dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi desa. Dengan pendekatan bertahap, memperkuat produksi, manajemen, dan pasar, unit usaha ini diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Panen perdana ini mungkin baru langkah kecil. Namun, bagi Desa Parangargo, ia menjadi simbol awal dari upaya membangun kemandirian pangan dan ekonomi desa dari kolam-kolam bioflok yang terus berputar. (dek/yh)
Editor : Ibrahim