Republik Sinetron: Drama Cinta diatas Retaknya Pondasi Ekonomi Negeri
Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Di ruang tamu sempit yang dindingnya mulai lembap, cahaya biru dari layar televisi dan pendar smartphone seringkali menjadi satu-satunya sumber hiburan. Di sana, jutaan pasang mata terpaku pada kisah cinta beda kasta: seorang pewaris tahta perusahaan raksasa yang jatuh hati pada gadis desa yang jujur dan tabah.
Inilah wajah "Republik Sinetron", sebuah ruang pelarian di mana drama keluarga menjadi katarsis bagi masyarakat yang dalam kehidupan nyatanya sedang dihimpit oleh struktur ekonomi yang kaku.
Judul ini bukan sekedar kritik terhadap selera tontonan, melainkan metafora atas suasana batin masyarakat kita hari ini, terutama generasi mudanya. Ada ironi yang getir ketika kita melihat data dari laporan ketimpangan terbaru th. 2026 dari CELIOS berjudul “Republik Oligarki".
Salah satu temuan yang memilukan kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 55 juta warga, sementara di sisi lain, Gen Z sedang berjuang di titik nadir.
Bagi Gen Z, sinetron dan konten konsumsi digital adalah "obat bius" dari kenyataan yang menyesakkan. Bayangkan, sekitar 93,3�ri mereka bekerja tanpa jaminan kehilangan pekerjaan, dan lebih dari 80% tidak memiliki jaminan hari tua maupun pensiun.
Mereka adalah generasi yang masuk ke dunia kerja dengan status 'zero safety net'—bekerja hingga 'burnout' dan tipes, namun bisa dipecat kapan saja tanpa perlindungan. Dalam kerapuhan sistemik inilah, algoritma konten digital hadir menawarkan dunia paralel yang penuh warna dan drama, menjauhkan mereka sejenak dari kecemasan akan masa depan yang tidak pasti.
Dalam "Republik Sinetron", konflik selalu diselesaikan dengan kebaikan hati atau kebetulan yang manis. Namun, dalam "Republik Oligarki" dari Nasak CELIOS yang nyata, konflik adalah tentang mobilitas sosial yang macet. Diperlukan waktu berabad-abad bagi seorang pemuda biasa untuk bisa menyamai kekayaan para elit negeri.
Suasana batin masyarakat kita kini berada pada titik jenuh yang aneh; mereka sadar sedang dieksploitasi oleh sistem, namun seringkali memilih untuk "menidurkan" nalar tersebut dengan drama-drama emosional yang jauh dari persoalan struktural.
Sinetron dan konten viral jarang sekali mengangkat tema tentang mengapa upah pekerja hanya naik "dua perak" sementara harta oligarki naik miliaran rupiah setiap harinya. Narasi yang laku tetaplah tentang pengkhianatan cinta atau perebutan warisan.
Akibatnya, energi kolektif bangsa—khususnya energi kreatif anak muda—tersedot ke dalam ruang-ruang perdebatan moralitas personal di kolom komentar, sementara konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang berjalan tanpa gangguan di balik layar.
Kita perlu waspada jika kehidupan bernegara kita pun mulai dikelola layaknya sinetron—penuh dengan gimik politik, drama perseteruan tokoh elit, dan kompromi yang dibungkus dengan narasi harmoni semu. Jika ini terus berlanjut, masyarakat menengah bawah dan Gen Z akan terus menjadi penonton yang pasif, menangisi nasib tokoh di layar, tanpa menyadari bahwa pondasi hidup mereka sedang perlahan-lahan dipadamkan.
Sudah saatnya kita mengubah naskah ini. Kita butuh narasi yang tidak hanya bicara tentang "drama cinta", tapi tentang kedaulatan ekonomi dan perlindungan nyata bagi pekerja muda. Kita butuh diskusi yang berbasis data objektif untuk membangunkan nalar yang tertidur.
Karena pada akhirnya, ketika layar dimatikan, realitas ketimpangan tetap ada di sana—nyata, dingin, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan air mata di depan kamera.
Pada akhirnya, kita harus maklum jika para penghuni menara gading makin sulit mendengar suara dari bawah. Di ketinggian sana, angin mungkin bertiup terlalu kencang, atau mungkin dinding-dinding kaca kedap suara itu terlalu tebal untuk ditembus oleh sekedar teriakan "lapar" atau "susah cari kerja". Lagipula, bagaimana mungkin mereka bisa melihat retakan di pondasi, jika mata mereka terlalu silau oleh pantulan angka-angka pertumbuhan yang hanya berputar-putar di antara mereka sendiri?
Di Republik Oligarki versi Sinetron ini, penguasa seolah sedang asyik dalam adegan "makan malam mewah" di tengah set panggung yang megah, sementara rakyat adalah penonton yang diminta terus bertepuk tangan meski perut melilit. Empati telah menjadi barang mewah yang dikomodifikasi; dipamerkan dalam bentuk bansos di depan kamera, lalu ditarik kembali dalam bentuk kebijakan yang mencekik esok harinya.
Mungkin mereka lupa, bahwa sinetron terpanjang sekalipun akan menemui episode terakhirnya. Dan biasanya, penonton yang paling sabar adalah penonton yang paling mengerikan ketika mereka memutuskan untuk berhenti menonton dan mulai merobohkan panggungnya.
Sebelum layar benar-benar gelap dan lampu studio padam karena beban yang tak lagi tertanggung, sadarlah: sebuah bangsa tidak bisa terus-menerus dikelola dengan naskah palsu, karena kenyataan tidak pernah mengenal kata "cut" atau "bungkus". (*)
Editor : Redaksi