catatan tangan kanan wiedmust-280726

Jakarta, Kota yang Cepat Marah, Cepat Berdamai, Lalu Berulang Lagi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh widodo, p.hd.

pengamat keruwetan sosial

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Jakarta selalu punya dua wajah. Siang hari ia menjadi kota impian. Orang datang dari seluruh penjuru Indonesia untuk mencari pekerjaan, membangun usaha, menuntut ilmu, atau sekadar mengejar harapan. Malam harinya, Jakarta berubah menjadi kota yang dipenuhi kemacetan, kepadatan, tekanan hidup, dan sesekali... suara sirene yang memecah keheningan.

Bentrokan yang kembali terjadi beberapa hari lalu hingga menimbulkan korban jiwa, korban luka, dan bangunan terbakar memang menyisakan duka. Namun bagi mereka yang pernah lama tinggal di kawasan Matraman Dalam, Manggarai, Jalan Tambak, Jalan Talang, Berlan dan sekitarnya, peristiwa seperti ini bukanlah bab yang benar-benar baru.

Saya pernah bekerja tidak jauh dari kawasan tersebut. Dulu, kabar saling lempar batu, kejar-kejaran, hingga bentrokan antarkelompok sesekali terdengar.

Tentu frekuensinya berubah dari waktu ke waktu, tetapi kawasan itu memang beberapa kali tercatat mengalami konflik sosial. Hal serupa juga pernah terjadi di sejumlah kawasan padat lainnya di Jakarta.

Yang menarik, penyebabnya kadang terdengar sederhana. Salah paham, senggolan, bahkan persoalan yang tampak sepele bisa menjadi pemantik. Namun api tidak akan membesar bila tidak ada "kayu bakar".

Tekanan ekonomi, kepadatan permukiman, persaingan hidup di kota besar, dan kuatnya solidaritas kelompok sering kali menjadi faktor yang membuat konflik mudah meluas.

Ada fenomena yang unik. Warga yang kemarin mungkin masih berselisih dengan tetangganya, ketika merasa lingkungannya mendapat ancaman dari luar justru bisa berdiri di barisan yang sama. Solidaritas tumbuh sangat cepat. Sayangnya, energi kebersamaan itu kadang muncul ketika konflik sudah terjadi. Padahal akan jauh lebih indah jika semangat itu digunakan untuk menjaga keamanan lingkungan, bukan untuk saling menyerang.

Jakarta memang kota yang keras. Biaya hidup tinggi, ritme kerja cepat, jalanan macet, udara panas, dan tuntutan hidup datang hampir setiap hari. Mungkin itu sebabnya kesabaran sebagian orang terasa lebih tipis. Untung saja lampu lalu lintas tidak punya perasaan. Kalau punya, mungkin sudah ikut pindah ke Bogor.

Tentu saja, tidak adil menyematkan cap buruk kepada suatu kawasan atau kelompok masyarakat. Mayoritas warga Jakarta hidup berdampingan secara damai, bekerja keras mencari nafkah, dan ingin keluarganya hidup aman. Justru karena mayoritas menginginkan kedamaian, setiap bentrokan harus menjadi alarm bahwa masih ada persoalan sosial yang perlu diselesaikan bersama.

Jakarta akan terus menjadi tujuan para pencari mimpi. Gedung-gedung baru akan terus berdiri, pusat bisnis akan terus berkembang, dan kereta akan terus melaju. Namun kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari tingginya pencakar langit, melainkan juga dari rendahnya angka kekerasan di jalan-jalannya.

Semoga suatu hari nanti, kabar dari Matraman, Manggarai, Kemayoran, Petamburan, Petojo, Tanah Tinggi, Kampung Melayu maupun kawasan lainnya bukan lagi tentang bentrokan, melainkan tentang warga yang berhasil menjaga kampungnya tetap damai. Sebab kota sebesar Jakarta pantas dikenang karena prestasinya, bukan karena keributannya.