Cerita Pendek

Warkop Ekspektasi Bagian 6: Akad yang Sunyi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspetasi
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspetasi

JatimUPdate.id - Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Bahar Khan tiba di rumah, langkahnya pelan, ia membuka pintu tanpa menimbulkan suara. 

Sementara ruang tamu masih diterangi lampu yang sejak malam belum dimatikan, di atas meja masih tergeletak secangkir teh yang telah kehilangan uapnya.

Bahar Khan memahami, Ayu Chen belum lama meninggalkan ruangan itu. Ia tidak langsung masuk ke kamar, pandangannya justru tertuju pada cangkir teh yang mulai dingin. 

Ada sesuatu yang membuatnya terdiam. Benda sederhana itu mengingatkannya pada awal perjalanan mereka, ketika segalanya belum serumit sekarang.

Ingatannya melayang jauh, beberapa tahun silam, ketika dirinya dan Ayu Chen memutuskan membangun rumah tangga, mereka tidak menggelar pesta mewah sebagaimana pasangan lain. 

Tidak ada gedung yang dihias bunga, iring-iringan tamu dengan pakaian terbaik, apalagi pesta yang menghabiskan biaya besar. Semuanya berlangsung sederhana.

Atas kesepakatan bersama, akad dilaksanakan di rumah seorang kerabat yang disegani warga. Seorang mudin kampung diminta memimpin jalannya akad. Yang hadir hanyalah keluarga terdekat dan beberapa sahabat yang selama ini menemani perjalanan hidup mereka.

Saat itu Bahar Khan dan Ayu Chen memiliki alasan yang sama. Mereka tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai ajang pamer kemewahan. Yang mereka cari adalah ketenangan bukan keramaian.

Sesudah ijab kabul selesai, para tamu hanya disuguhi kopi hitam, teh hangat, pisang goreng, dan beberapa makanan sederhana buatan tetangga.

Tidak ada yang mengeluh, justru kesederhanaan itulah yang membuat suasana terasa hangat.

Bahar Khan masih mengingat dengan jelas wajah Ayu Chen hari itu, wanita yang kini sering berdebat dengannya pernah menatapnya penuh keyakinan.

Saat semua tamu mulai berpamitan, Ayu Chen sempat berkata lirih di beranda rumah.

"Aku tidak meminta kehidupan yang mewah. Selama kita saling percaya, aku yakin kita bisa melewati apa pun."

Kalimat itu masih melekat di ingatan Bahar Khan. Ironisnya, justru kepercayaan itulah yang perlahan memudar seiring perjalanan waktu.

Kendati begitu Bahar Khan tidak pernah menyesali pernikahan sederhana itu.

Baginya, kebahagiaan tidak pernah ditentukan oleh besarnya pesta ataupun banyaknya tamu yang datang.

Menurutnya kebahagiaan lahir dari kesediaan dua orang untuk saling menjaga ketika keadaan berubah.

Namun hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai harapan, perbedaan demi perbedaan mulai muncul.

Awalnya hanya persoalan kecil, cara memandang seseorang, menyikapi sebuah peristiwa, hingga cara mengambil keputusan.

Semula Bahar Khan menganggap semua itu sebagai warna dalam rumah tangga. Lama-kelamaan, perbedaan itu berubah menjadi jarak yang sulit dijembatani.

Lamunan Bahar Khan terhenti ketika terdengar suara pintu kamar terbuka.

Ayu Chen keluar dengan langkah pelan, raut wajahnya tidak lagi sekeras semalam. Barangkali waktu telah meredakan sebagian emosinya. Kendati begitu, keduanya masih sama-sama memilih diam.

Tidak ada sapaan, juga pertanyaan, hanya keheningan yang mengisi ruang tamu, Bahar Khan berdiri, lalu membawa cangkir teh yang telah dingin ke dapur.

Tanpa berkata apa-apa, ia menuangkan isinya ke wastafel dan membilas cangkir itu hingga bersih.

Sesudah itu, ia membuat dua cangkir teh hangat. Satu diletakkan di hadapan Ayu Chen, satu lagi berada di tangannya sendiri.

Ia duduk berhadapan tanpa tergesa-gesa membuka pembicaraan. Baginya, diam yang tenang lebih baik daripada kata-kata yang lahir dari sisa amarah.

Ayu Chen sesekali memandang Bahar Khan, lalu menundukkan kepala. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Suasana itu mengingatkan mereka pada hari ketika pertama kali menikmati teh bersama setelah akad sederhana bertahun-tahun lalu.

Hanya saja, pagi ini tidak ada senyum yang menyertai. Yang tersisa hanyalah dua orang yang sedang berusaha memahami di mana letak perubahan itu bermula.

Di luar rumah, matahari mulai muncul dari balik deretan bangunan, menandakan hari baru telah datang.

Namun bagi Bahar Khan dan Ayu Chen, persoalan mereka belum benar-benar berakhir. Justru pagi itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang akan menguji janji yang pernah mereka ucapkan di hadapan seorang mudin, dalam sebuah akad yang sederhana, sunyi, tetapi penuh harapan.

Opini

Serba Serbi Sarung

Oleh: Fahmi Faqih, esais, tinggal di Jakarta JatimUPdate.id - Bagi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya kaum santri, sarung telah menjadi identitas yang