Generasi Z Indonesia Menjunjung Keberagaman, tetapi Rentan Terpapar Hoaks dan Konten Kebencian

avatar Shofa
  • URL berhasil dicopy
Tim Survei Telepon Nasional seusai memaparkan hasil surveinya berpose bersama.
Tim Survei Telepon Nasional seusai memaparkan hasil surveinya berpose bersama.

 

Jakarta, JatimUPdate.id – Mayoritas Generasi Z Indonesia memiliki sikap yang positif terhadap keberagaman dan menolak kekerasan atas nama agama.

Namun, tingginya paparan hoaks dan konten kebencian di media sosial serta masih terbatasnya literasi digital menjadi tantangan serius yang perlu direspons melalui kolaborasi berbagai pihak.

Hal tersebut disampaikan Ridwan Al-Makassary, peneliti dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), saat memaparkan hasil Survei Telepon Nasional yang dilakukan Tim Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) yang terdiri atas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Malang (UM), dan UIII bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI). Survei yang dilaksanakan pada 14–16 Juli 2026 itu melibatkan 403 responden berusia 17–30 tahun dari berbagai wilayah Indonesia.

Ridwan menjelaskan, hasil survei menunjukkan 86 persen responden sepakat bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga. Selain itu, 83 persen responden menilai perbedaan pandangan keagamaan seharusnya diselesaikan melalui dialog, bukan kekerasan. Temuan tersebut diperkuat dengan 77 persen responden yang menolak penggunaan kekerasan sebagai respons atas ketidakadilan, serta 69 persen yang menolak tindakan memusuhi orang lain karena perbedaan agama.
"Dari hasil survei terlihat bahwa fondasi toleransi di kalangan generasi muda cukup kuat. Namun, tantangan yang muncul saat ini bukan hanya soal sikap, melainkan bagaimana mereka mampu menghadapi arus informasi digital yang semakin kompleks," ujar Ridwan.

Meski demikian, survei menemukan tingginya paparan informasi menyesatkan di ruang digital. Sebanyak 48 persen responden mengaku sering menemukan hoaks dalam tiga bulan terakhir, sementara konten kebencian bernuansa SARA paling banyak dijumpai melalui platform TikTok, Facebook, dan Instagram. Ironisnya, hanya 7,5 persen responden yang memilih melaporkan konten negatif tersebut kepada platform media sosial.

Ridwan juga menyoroti masih besarnya kelompok generasi muda yang belum memiliki sikap tegas terhadap sejumlah isu kebangsaan. Sebanyak 34 hingga 41 persen responden memilih bersikap netral terhadap berbagai pertanyaan mengenai hubungan agama dan negara. Menurutnya, kelompok ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus mencegah berkembangnya narasi yang mempertentangkan agama dengan negara.

Selain itu, kemampuan mengenali konten radikal juga masih perlu diperkuat. Hanya 39 persen responden yang merasa mampu mengidentifikasi informasi bermuatan radikalisme, sedangkan 41 persen lainnya memilih bersikap netral. Di sisi lain, 53 persen responden menilai bahwa kritik keras terhadap kebijakan pemerintah tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai radikalisme, yang menunjukkan adanya pemahaman yang cukup baik terhadap prinsip demokrasi.


Berdasarkan temuan tersebut, Ridwan merekomendasikan penguatan literasi digital yang lebih substantif, pelibatan tokoh agama sebagai penyebar narasi damai di media sosial, peningkatan pendidikan wawasan kebangsaan bagi kelompok yang masih netral, penyederhanaan mekanisme pelaporan konten bermuatan kebencian di platform digital, serta penguatan pendidikan formal dan organisasi kemasyarakatan sebagai fondasi ketahanan sosial generasi muda.
"Generasi Z memiliki modal sosial yang kuat berupa sikap toleran dan penolakan terhadap kekerasan. Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka memiliki kemampuan literasi digital yang memadai agar tidak mudah terpapar hoaks, ujaran kebencian, maupun narasi radikal di ruang digital," tutup Ridwan. (*)